Rabu, 08 Agustus 2018

Pemilik Guest House Sepakat Damai Dengan Beritalima.com

Pemilik Guest House Sepakat Damai Dengan Beritalima.com


Banyuwangi, Motim. Robby Handoko, pemilik Guest House di Jagung Soeprapto, Banyuwangi, Selasa (7/8), menyepakati damai dengan media beritalima.com sehubungan terjadinya kesalahpahaman setelah adanya pemberitaan yang menuding bangunan milik pengusaha muda itu diduga melanggar Perda.                                                                                                                                          
Pada kesempatan itu kedua belah pihak juga menyepakati adanya peningkatan kerjasama.
Menurut Robby Handoko, pemilik Gues House di Jagung Soeprapto Banyuwangi, pihaknya mengapresiasi keinginan pihak beritalima.com yang sangat koorperatif menanggapi kesalahan penulisan berita yang sempat tayang di media online tersebut.                                                                              
"Saya mengadukan adanya kesalahan penulisan berita di dua media online bukan bermaksud untuk mencari musuh. Saya hanya mencari keadilan selaku warga yang selama ini sudah mematuhi hukum dengan melengkapi seluruh kelengkapan hingga keluarnya IMB bangunan saya," papar Robby di ruang kerjanya.                                                                                                                                                       
Karena itu, lanjut Robby, pihaknya menyambut baik keinginan media online beritalima.com yang diwakiki Nur Abidin, wartawan senior beritalima.com  di Banyuwangi. Selain menyampaikan permintaan maafnya, beritalima.com juga menyambut baik tawaran kerjasama yang diajukan pihak Robby.                                                                                                                                                                     
Sementara itu, Nur Abidin pada kesempatan tersebut, juga mengapresiasi kesepakatan damai berssma Robby sebagai pemilik Huest House di Jalan Jagung Soeprapto Banyuwangi.                                                      
Menurut Abi demikian sapaan akrabnya, pihaknya langsung menjalin komunikasi setelah terjadinya kesalahpshaman pasca pemberitaan yang diduga tidak berimbang.                                                                      
"Syukur alhamdulillah kemauan baik kami untuk mengkoreksi dugaan kesalahan itu direspon pak Robby. Sehingga diantara beritalima.com dan pak Robby sudah klir dan tidak persoalan lagi. Bahkan kami kedepan sdh sepakat meningkatkan kerjasama," papar Abi.                                                                        
Sementara menyinggung satu media online lainnya yang sempat diadukan ke Polres Banyuwangi, Robby, telah menyerahkan sepenuhnya kepada Polres Banyuwangi.                                                                     
"Saya hanya berharap polisi bisa memberikan keadilan. Apalagi sampai saat ini yang bersangkutan tidak punya ikhtikat baik pada saya yang sangat dirugikan dengan pemberitaan tersebut," tegas Robby.                                                                                                                                                                     
Seperti diberitakan sebelumnya, Robby, pemilik Guest House di Jalan Jagung Soeprapo melaporkan dua media online karena telah memuat berita bohong dan tanpa disertai konfirmasi.                                          
Polres Banyuwangi sendiri telah menindaklanjuti laporan Robby. Ada Undang-Undang yang sedang dikaji untuk menjerat media ya g diduga tanps berbadan hukum tersebut. Selain IU Pers No. 40 Tahun 1999, polisi juga akan menjerat dengan UU ITE. (guh/eko)

Rabu, 25 April 2018

Putri Pariwista Penasaran dengan Air Terjun Niagara

Putri Pariwista Penasaran dengan Air Terjun Niagara

Bondowoso,  Motim News. Kunjungan Karina Nadila Naib, Puteri Indonesia Pariwisata 2017, ke Kabupaten Bondowoso, Selasa (24/4), untuk menghadiri acara Launching Ijen Festival 2018 di Ijen View Hotel. Selain itu, wanita yang juga terpilih menjadi pemenang dalam pemilihan Top 25 Miss Supranational 2017 versi penonton melalui aplikasi Vodi itu, juga akan mengunjungi Kawah Wurung, Air Terjun Niagara serta Kampung Kopi.
Harapan Karina, dari sosial media yang ia miliki akan membantu mempromosikan Kabupaten Bondowoso. Dari hasil beberapa foto di objek wisata akan langsung ia postingnya melalui akun media sosial yang ia miliki.
Menurut Karina, baru pertama kali dirinya menginjakkan kaki ke Bondowoso Republik Kopi (BRK). Sementara ini, Ia hanya bisa melihat-lihat sejumlah objek wisata Bondowoso melalui media social ataupun di mesin pencarian Google.
“Aku itu kan googling, yang air terjun Niagara itu kayak air terjun yang sering di syuting film-film Hollywood. Kalau ngeliat Kawah Wurung itu yang kaya bukit teletubies itu kan, kayaknya hidup di sana tuh damai banget,” ujarnya dengan penuh antusias.
Lebih lanjut  kata wanita berusia 24 tahun ini, keberadaan airport di Jember membuat perjalanan ke Bondowoso hanya 45 menit. Sehingga hal itu harus ditangkap sebagai sebuah peluang bagus untuk pemerintah daerah mendatangkan turis lebih banyak lagi.
“Tinggal promosi yang perlu ditingkatkan. Apalagi sekarang ada Ijen Festival 2018,” jelasnya, ketika bertandang ke Dinas Pariwisata,  Pemuda dan Olahraga. 
Karina  juga mengajak anak muda di Indonesia, khususnya Bondowoso untuk membangun dan mempromosikan pariwisatanya di daerahnya masing-masing. Dengan datang ke objek wisata di daerahnya dan mempromosikan secara tidak langsung melalui media sosial akan banyak membantu perkembangan pariwisata. 
“Daripada tidak kesampaian untuk liburan ke wisata di provinsi itu kan jauh. Mendingan kita benar-benar mengelola apa yang kita punya sendiri,” pungkasnya. 
Sementara Harry Patriantono, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) mengatakan, kunjungan Karina Nadila - Putri wisata Indonesia dalam rangka festival Ijen Bondowoso pihaknya menyebut di momen tersebut akan membuat kalender of event ke-3.
Lanjut Harry, selama ini Bondowoso belum mempunyai kalender of event tahunan. Tu
juan dari pelaksanaan ini supaya Bondowoso lebih dikenal lagi dari tingkat Nasional ke Internasional.
“Kita menamakan event Ijen festival karena di dalamnya kita punya icon Ijen. Sedangkan di dalamnya nanti berisi yang sifatnya nasional dan Internasional, mulai budaya, sport dan event lainnya,” kata Hari.
Even Ijen Festival di katakan Harry, sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Penyelenggaraannya tidak hanya oleh Disparpora melainkan oleh beberapa Organisasi Pimpinan Daerah (OPD).
Ia mencontohkan ada festival petik kopi diselenggarakan oleh Dinas Pertanian adalah hasil pengembangan dari festival kopi Nusantara tahun kemarin. Dengan adanya beberapa atraksi, maka wisatawan lebih berminat lagi untuk datang ke Bondowoso.
“Untuk menginformasikan kalender even festival of Ijen ini, kami sudah mengundang para komunitas selegram dan motor. Mereka saat melakukan touring ke berbagai daerah di Indonesia selalu mempromosikan objek wisata Bondowoso,” ujarnya.
Launching festival ini lebih lanjut Harry, menelan anggaran sebanyak Rp. 140 juta dan item lainnya diurus oleh OPD masing-masing.(cw3)

Ijen Festival Diharapkan Dapat Mendongkrak Perekonomian

Ijen Festival Diharapkan Dapat Mendongkrak Perekonomian

Bondowoso, MotimNews. Launching Ijen Festival Bondowoso 2018 yang diselenggaran oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olehraga (Disparpora) Bondowoso di Balroom Hotel Ijen Bondowoso berlangsung meriah dan elegan. Selain menampilkan berbagai atraksi fhasion show busana batik karya designer Bondowoso, juga dimeriahkan oleh kehadiran Putri Pariwisata Indonesia 2017, Karina Nadila.  

Bupati Bondowoso - Drs. H. Amin Said Husni, mengatakan, kunjungan Karina Nadila di launching Ijen Festival Bondowoso guna mempromosikan pariwisata Bondowoso. Sebab, wisata ini merupakan progran prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso, Selasa (24/4) malam.

Harapan Bupati, industri pariwisata dapat memberikan multy player efect. Dibandingkan event Ijen festival yang ke-3 ini lebih beragam dari tahun-tahun sebelumnya.

Acara tahunan ini juga beragam pertunjukan, seperti festival kopi nusantra, ijen trail running dan banyak kegiatan lain yang lebih bervariasi untuk menambah bersemangat.

 “Kita juga ingin berbagi bagaimana pengembangan potensi desa atau desa wisata dengan menghadirkan perwakilan wisata desa di Indonesia bahkan manca negara. Selain itu, semua kepala desa tunjukkan berbagai keunggulan yang ada di desanya masing-masing,” katanya.

Lanjut Bupati, bentuk support Pemkab Bondowoso, ingin membangun dari desa atau pinggiran melalui kegiatan seperti ini. Dari berbagai kegiatan itu, dibungkus dalam satu kegiatan melalui Ijen festival.

Melalui kegiatan festival Ijen dan lainnya, maka tiap tahunnya jumlah wisatawan yang datang ke Bondowoso semakin bertambah 5-8 persen. Ia juga berharap tiap tahun dapat mendongkrak perekonomian masyarakat Bondowoso lebih baik lagi.

“Kunjungan putri pariwisata merupakan salah satu magnet untuk mengangkat potensi objek wisata Bondowoso,” jelasnya.

Karina Nadila, mengaku sangat senang berada di Bondowoso yang masih banyak alamnya hingga udaranya sangat segar, ketimbang berada di Jakarta yang hanya terlihat gedung serta kaca dan polusi udara.(cw3)   


Kamis, 19 April 2018

Manajemen Aston Hotel Jalin Sinergi dengan Kodim Banyuwangi

Manajemen Aston Hotel Jalin Sinergi dengan Kodim Banyuwangi

Banyuwangi, MotimNews. Bertempat di Kantor Kodim 0825 Banyuwangi, Manajemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center bersilaturahmi dengan Kodim 0825 Banyuwangi yang diterima oleh Dandim Letkol Inf Ruli Nuryanto.

Manajemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center diwakili oleh General Manager Yosi Arivianto, Sales Manager Firos Nurkalam dan Public Relations Cahya Fujiyama.

Pada kunjungan ini, pria yang akrab dipanggil Ruli ini memaparkan, bahwa Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center dapat menjadi refrensi penginapan terbaik di Banyuwangi.

“Ini bagus sekali, Banyuwangi jadi memiliki lebih banyak refrensi hotel. Apalagi banyak sekali acara-acara yang diadakan di Banyuwangi dalam satu tahun, IMF salah satunya. Sebagai hotel bintang 4, tentu Aston dapat menjadi refrensi penginapan terbaik yang ditawarkan Banyuwangi. Kami juga support dan kelak akan saling bersinergi dengan Aston,” ujar Ruli dalam sela-sela kunjungan tersebut.

Yosi Arivianto menjelaskan, bahwa Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center siap memberikan pelayanan terbaiknya dengan berbagai fasilitas yang dimiliki.

“Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center sendiri telah mempersiapkan 123 kamar dengan karakteristik khas Banyuwangi serta fasilitas lainnya seperti Gym, coffeeshop, ruang meeting, ballroom yang besar, dan fasilitas dengan standar terbaik lainnya,” katanya. (win)

Jumat, 06 April 2018

Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center  . Bagikan Nasi Kotak

Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center . Bagikan Nasi Kotak

Banyuwangi, MotimNews.  Sebagai wujud aksi kepedulian terhadap sesama, manajemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center membagikan nasi kotak terhadap masyarakat sekitar. Kegiatan sosial tersebut diadakan pada Jumat, 6 April 2018 disekitaran pasar Sritanjung.

Yosi Arivianto, General Manager Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center menjelaskan kegiatan ini adalah kegiatan sosial yang dilakukan pihak managemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat. “Kami berharap aksi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Yosi. 

Aksi sosial ini juga mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat tentang adanya perusahaan berkelas internasional yang mau melakukan kegiatan sosial. Hal terswbut terlihat dari banyaknya masyarakat yang berbondong-bondong datang berkerumun saat manageman Aston membagikan nasi kotak. "Kami kagum adanya perusahaan besar di banyuwangi yang mau melakukan sosial. Ini sangat membantu kami orang kecil yang sehari2 bekerja di jalan," ujar slamet salah satu tukang becak yang mangkal di pasar tersebut. 

Sementara itu, Salas Marketing Aston  Hotel Sari Yuliana juga menambahkan Kegiatan ini sengaja di khususkan kepada para pekerja lapangan seperti tukang becak, tukang parkir, dan pedagang kaki lima. " Acara ini dilakukan pihak manajemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center sebagai bentuk rasa syukur menjelang dibukanya hotel bintang 4 bertaraf Internasional," ujar Sari. (Win)

Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center Gelar Donor Darah

Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center Gelar Donor Darah

Banyuwangi, MotimNews. Sebagai wujud kepedulian terhadap sesama, manajemen Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center menggelar donor darah pada 5 April 2018.  Kegiatan tersebut bertempat di Seblang Meeting Room Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center. 


General Manager Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center, Yosi Arivianto, mengungkapkan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan salah satu CSR internal yang memang hanya melibatkan pihak internal saja. 


Kegiatan donor darah ini juga merupakan salah satu program CSR yang bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan terutama darah dimana ini merupakan hal vital. "Kami berharap CSR internal ini dapat bermanfaat selain juga mempererat rasa kebersamaan antar karyawan," ujar Yosi.


Kegiatan donor darah ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) pertama, dimana  kegiatan ini akan menjadi agenda rutin Aston Banyuwangi yang bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia. “Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center akan berpartisipasi secara rutin untuk mendukung program PMI dalam aktivitas donor darah dimana kegiatan semacam ini akan rutin kami adakan dua kali dalam setahun.” Lanjut Yosi Arivianto disela kegiatan.


Kegiatan donor yang mengusung tema “Our Blood save a million life” ini berjalan dengan sukses, dimana hal ini dapat dilihat dari antusiasme seluruh karyawan. Animo positif sangat dirasakan saat kegiatan berlangsung sekitar 50 kantung darah berhasil dikumpulkan hari ini. Nantinya acara serupa akan digelar kembali dengan jumlah pendonor yang lebih banyak serta turut mengikutsertakan mitra kerja Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center. (Win)

Selasa, 03 April 2018

Sport Tourism Salah Satu Atraksi Andalan Banyuwangi

Sport Tourism Salah Satu Atraksi Andalan Banyuwangi

Banyuwangi, MotimNews. Event sport tourism menjadi salah satu atraksi andalan dalam agenda wisata Banyuwangi Festival. Pada tahun 2018, Banyuwangi akan mengawali event olah raga berbalut wisata ini dengan Underwater Festival, yang salah satunya akan menampilkan Gandrung Menari di dasar laut.

Festival bawah laut ini akan digelar di salah satu destinasi bahari favorit di Banyuwangi, yakni Bangsring Underwater, Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi. Festival akan berlangsung selama tiga hari, Rabu-Jumat (4-6 April 2018). 

Terdapat beragam even unik yang akan mewarnai even ini. Mulai dari "Nemo Dancing" (pengamatan ikan Nemo selama 48 jam), tari gandrung di dasar laut, pendidikan bahari, lomba kano, lomba lari sisir pantai, hingga underwater photography.

"Ini merupakan cara kreatif nelayan-nelayan Bangsring untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Tidak hanya menggelar event semata, namun mereka juga menyisipkan edukasi bahari kepada kita semua," kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Bangsring Underwater merupakan kawasan konservasi bawah laut yang dikelola oleh nelayan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi. 

Pada tahun 2017 kelompok nelayan di kawasan ini menerima Kalpataru dari Presiden RI karena mereka mampu merubah mindset dari yang dulunya pengebom ikan, kini aktif melakukan restorasi terumbu karang.  

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Muhammad Yanuarto Bramuda mengatakan, ketiga atraksi tersebut akan diawali pada tanggal 4 April. 

"Semua even rata-rata akan digelar Rabu, kecuali lomba lari dan penulisan karya ilmiah dilaksanakan di hari terakhir. Gandrung bawah laut akan mengawali acara pada Rabu besok," kata Bramuda. 

Nantinya ada sekitar 12 penari akan menari gandrung dengan dilengkapi peralatan selam. 

"Saat ini para gandrung penyelam ini terus mematangkan persiapan untuk menari gandrung di dasar laut," kata Bramuda.

"Penyelamatan dan pengamatan ikan Nemo ini nantinya akan dinilai untuk dapat Rekor MURI," kata Bramuda.

Sebelumnya Bangsring Underwater juga pernah mencatat Rekor MURI, pada Banyuwangi

 Underwater Festival 2016 lalu. Sebanyak 56 nelayan Dusun Krajan, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo itu, berhasil menyelam selama 28 jam di Perairan Bangsring, yang digelar selama dua hari. Para nelayan ini secara bergantian melakukan penyelaman selama 30 menit. (eko)

Jumat, 23 Februari 2018

Gerojokan Limo Beji Mulai Dibanjiri Wisatawan

Gerojokan Limo Beji Mulai Dibanjiri Wisatawan

Pasuruan,MotimNews. Sungai yang memiliki aliran yang cukup deras sehingga membentuk lima pancuran air di Dusun Krikilan Desa Ngembe Beji Pasuruan oleh masyarakat disebut ‘Gerojokan Limo’.

Area wisata yang mempunyai pemandangan dan panorama cukup bagus tersebut sempat viral di media sosial karena sebelumnya tidak tahu ada sungai yang memiliki keindahan tersebut. Saat ini setiap minggu ada sekitar  5000 wisatawan yang berkunjung ke Gerojokan Limo.

Untuk menuju ke Gerojokan Limo areanya sangat terjal dengan melewati persawahan warga dan kebun jagung.  Untuk sampai di lokasi tersebut wisatawan harus berjalan kurang lebih 500 meter dari lokasi parkiran yang berada di pemukiman warga dan melewati areal persawahan serta harus menyeberang sungai dengan menggunakan tali tambang.

"Warga sendiri tidak mengetahui adanya Gerojokan Limo tersebut dan saya babat alas serta membuat viral melalui Spot foto dan akhirnya ramai seperti sekarang," ujar Yanto anggota Karang Taruna Desa kepada Motim.

Tak hanya warga Beji yang datang untuk melampiaskan rasa penasarannya namun warga dari luar kota juga banyak yang datang di area tersebut.
"Saya saja tidak tahu dengan adanya gerojokan limo yang sempat viral tersebut dan baru tahu ketika saya meninjau langsung lokasi tersebut dan ternyata memang ada tempat bagus di wilayah Desa Ngembe," kata Kades Ngembe kepada Motim.

Sayangnya, akses menuju gerojokan limo masih perlu dibenahi, agar jalan para wisatawan menjadi lebih mudah. (dim/sk)

Osing Travel Mart Garap Paket Pelesir di Banyuwangi

Osing Travel Mart Garap Paket Pelesir di Banyuwangi

Banyuwangi, MotimNews. Lebih dari 300 pelaku pariwisata dalam dan luar negeri berkeliling Banyuwangi selama tiga hari, 20-22 Februari 2018. Acara bertajuk Osing Travel Mart (OTM) tersebut menggarap beragam paket pelesir ke daerah ujung timur Pulau Jawa itu dengan gol menggaet lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara.

"Ajang ini adalah cara merangkul pelaku usaha wisata. Kita tawarkan experience, mereka merasakan langsung berwisata ke Banyuwangi. Sehingga nantinya mereka bisa mengajak langsung jaringan bisnisnya untuk ke Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Rabu (21/2).
Osing Travel Mart (OTM) yang digelar Bursa Wisata Jatim itu diikuti 321 pelaku usaha, terdiri atas 107 seller dari Banyuwangi sekitarnya dan 214 buyer dalam dan luar negeri.

Dari 214 buyer yang hadir, diantaranya dari India, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Brunei Darussalam. Selain itu, dari wilayah Indonesia lainnya, seperti Manado, Batam, Banjarmasin, Yogyakarta, dan Jakarta.

Seorang peserta dari India, Ramesh Sutaria mengatakan, pihaknya antusias karena ingin mencari lokasi destinasi wisata baru di Indonesia selain Bali dan Jakarta. Banyuwangi berpotensi berkembang wisatanya karena sangat dekat dengan Bali dan aksesnya mudah. Selain itu, destinasi wisata Banyuwangi cukup beragam.

"Banyuwangi punya Kawah Ijen dengan fenomena api biru, ini sangat menarik untuk dijual. selain itu, kehidupan lokal masyarakatnya juga menarik, saya tadi ke Desa Gintangan dan sejumlah desa lain. Ada homestay berbasis masyarakat. Di sini cocok untuk dikembangkan rural tourism," jelas Ramesh, pemilik Splendid Tours & Travels.

Bupati Anas menambahkan, ajang ini menjadi jalan membidik pasar baru, seperti India. Dalam setahun, turis India yang datang ke Indonesia mencapai hampir 400.000 orang di mana sekitar 240.000 di antaranya menuju Bali.

“Pasar-pasar baru harus dibidik. Tinggal kita perkenalkan ke publik India, misalnya. Tarik mereka dari Bali ke Banyuwangi barang 2-3 hari. Tidak usah muluk-muluk, ambil 5 persen saja dari jumlah turis India yang ke Bali. Dampak ke ekonomi lokal kami sudah sangat terasa, dilengkapi dengan turis-turis dari negara lain,” kata Anas.

Ketua Bursa Wisata Jatim, Nasrun Afandi mengatakan, ajang OTM mendapat respons luar biasa dari para pelaku pariwisata, baik seller maupun buyer wisata yang telah terseleksi kredibilitasnya.
Faktor yang mempengaruhi antusiasme tersebut salah satunya adalah tuan rumah yang dalam beberapa tahun terus memacu sektor pariwisata melalui beragam atraksi, pembukaan aksesibilitas udara, dan tumbuhnya amenitas penunjang wisata.

"Kami targetkan dari ajang ini langsung ada transaksi penjualan paket wisata ke Banyuwangi minimal Rp 2 miliar," paparnya. (eko)

Rabu, 14 Februari 2018

Disparpora Bondowoso Adakan Pemilihan Duta Kacong Jebing

Disparpora Bondowoso Adakan Pemilihan Duta Kacong Jebing


Harry, Kepala Dinas Disparpora Bondowoso
Bondowoso,MotimNews. Meningkatnya pengunjung wisatawan ke objek wisata Bondowoso tak lepas dari peran serta pemuda yang mempromosikan maupun pengenalan melalui media kepublik.
 Akhirnya, Selasa (13/2) Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga mengadakan pemilihan duta wisata Kacong Jebing.Dosen Fakultas Kedokteran dan dosen S2 pasca sarjana ilmu kesehatan masyarakat Universitas Jember, Sri Hernawati mengatakan event pemilihan Kacong Jebing duta wisata Bondowoso oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, yang terpilih nanti akan menjadi panutan bagi generasi muda. 

Karena tugas dari Kacong Jebing tidak hanya mempromosikan Bondowoso dari segi pariwisata, akan tetapi juga kepada kondisi para generasi muda.

“Saat ini masuk zona merah untuk penyebaran HIV/AIDS, paling tidak Kacong Jebing punya peranan disini. Bagaimana nantinya HIV/AIDS tidak berkembang di Kabupaten Bondowoso, melalui penyuluhan baik disekolah maupun dimasyarakat,”katanya. 

Duta dimaksud kata , adalah menjadi duta dalam segala hal dari segi pengenalan wisata, mengekplor, menjual objek wisata Bondowoso dan juga bisa memperbaiki kondisi sosial. 

Dia juga menambahkan, yang banyak terjadi di masyarakat adanya LGBT yang marak, HIV/AIDS juga menjadi salah satu peran dari Kacong Jebing ini. Orang yang sudah mengidap HIV/AIDS secara ilmu pengetahuan maka menjadi malu atau disingkirkan oleh masyarakat karena beranggapan berdekatan dengan pengidap HIV/AIDS bisa tertular.

“Padahal HIV/AIDS itu bisa menular melalui hubungan seksual, darah yang masuk kedalam tubuh kita. Hal ini yang harus disampaikan kepada masyarakat, karena orang yang sudah mengidap HIV/AIDS masyarakat enggan mendekati yang akhirnya tidak mau berobat,” tambahnya. 

Dikatakan Sri Hernawati, penderita HIV/AIDS itu sebenarnya seperti gunung es, sewaktu-waktu bisa meledak jumlah penderitanya. Mungkin saat ini hanya 192 orang. Sebenarnya, ini sudah banyak sekali, karena mereka masih stadium yang belum nampak secara klinik tetapi sudah mengidap HIV/AIDS.

“Maka ini sangat berbahaya terhadap masyarakat yang lain untuk penularannya. Karena para generasi muda pemakai narkoba melalui jarum suntik 1 yang kemudian dipakai oleh beberapa orang itu akan mudah tertular HIV/AIDS,” paparnya. 

Menurut kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Harry Patriantono, mengatakan tujuan dari pemilihan Kacong jebing akan menjadi duta wisata Bondowoso. Dan bisa mempromosikan potensi-potensi objek wisata yang ada di Kabupaten Bondowoso mulai tingkat Nasional ke Internasional. 

“Karena selain destinasi objek wisata yang menarik pada wisata kita dan juga mempunyai even bertaraf nasional maupun Internasional. Tugas para Kacong Jebing kedepannya harus mempromosikan dan memperkenalkan serta memasarkan objek wisata kita,” katanya. 

Harry sangat yakin kepada kacong jebing yang terpilih nanti mampu memasarkan melalui kemampuan mereka yang sudah akrab dengan dunia sosial. Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bondowoso kepada Kacong Jebing terpilih juga memberikan masa kerja selama 1 tahun untuk mempromosi dan memasarkan objek wisata Bondowoso. 

“Kacong jebing akan bersinergi dengan Disparpora Bondowoso menyusun program kerja yang akan di bantu oleh Kacong Jebing yang lebih senior. Mereka juga akan membuat event yang ada di Disparpora,” katanya. Lebih lanjut Harry, materi yang diberikan kepada semua peserta Kacong Jebing lebih kepada pengenalan dunia kepariwisataan Kabupaten Bondowoso.

 Juga peserta dinilai dari etika, pengetahuan dan bahasa Inggris yang sangat menentukan penilaian. Kenapa bahasa inggris, Harry menjelaskan karena wisatawan (tamu red) yang datang ke Bondowoso bukan hanya tamu Nusantara, melainkan juga tamu dari manca Negara. Usia peserta masih 17-24 tahun dan jumlah yang ikut pemilihan Kacong Jebing 65 peserta.

Ditempat yang sama peserta bernama Lidya (17) dari SMKN 2 Bondowoso mengatakan, mengikuti pemilihan Kacong Jebing untuk menambah wawasan juga ilmu pengetahuan tentang kepariwisataan Bondowoso yang masyarakat masih belum mengetahui.

 “Jika nanti saya terpilih menjadi Kacong Jebing, kita akan berkoordinasi dan bergabung dengan Disparpora Bondowoso untuk lebih mengeksporasi wisata dan budaya yang ada di Bondowoso. Melalui ilmu yang saya punya akan saya mempromosikan objek wisata Bondowoso lebih maju lagi,” katanya. 

Lebih lanjut Lidya, dia akan memberikan petunjuk arah objek wisata Bondowoso lebih mudah kepada wisatawan Nusantara maupun manca Negara. Ketertarikan Lidya ikut dalam ajang ini berangkat dari niat memajukan Bondowoso yang didukung oleh kedua orangtua dan SMKN 2 Bondowoso.

 “Saingan saya diacara ini sangat banyak dan berat. Tapi secara pribadi saya sangat yakin akan menjadi pemenang diacara ini,” pungkasnya. (cw3)

                



  
Destinasi Wisata Sumbang PAD Rp 20 Miliar

Destinasi Wisata Sumbang PAD Rp 20 Miliar


Jember, Motim. Tercatat ada 83 destinasi wisata aktif di Kabupaten Jember, yang imbasnya menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) hingga Rp 20 miliar. Padahal pada kisaran tahun 2012 hingga 2013, Kabupaten Jember hanya memiliki 30 destinasi wisata andalan.
Informasi itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (KaDisparbud) Kabupaten Jember Arief Tjahjono kepada sejumlah wartawan, kemarin.
Ia menjelaskan, dengan bertambahnya destinasi wisata baru, dan berbenahnya destinasi wisata lama untuk lebih update dengan situasi dan kondisi sekarang. Pihaknya yakin, PAD yang diperoleh Kabupaten Jember mendatang akan lebih meningkat.
“Sampai hari ini (kemarin, red) kita punya 83 destinasi wisata yang aktif! Tentunya berimbas pada tingkat kunjungan (wisata ke Jember),” ujar Arief.
Arief menjelaskan, pada tahun 2012 sesuai data yang dihimpun oleh Disparbud Jember, kunjungan wisata ke Jember sekitar 700 ribuan pengunjung per tahun. “Pada tahun 2016 (meningkat), 1,4 juta (pengunjung). Tahun 2017 kemarin, sekitar 2,3 juta pengunjung. Hampir 30 persen tingkat kenaikannya. Sehingga 2018 diharapkan bisa lebih meningkat 2,5 juta lebih,” ungkapnya.
Tentu saja diharapakan, lanjutnya, dengan tingkat kunjungan yang meningkat tersebut, dapat menambah sumbangan PAD bagi Kabupaten Jember. “Jika pada tahun 2012 sekitar Rp 8 miliar. Tahun 2016 meningkat dua kali lipat Rp 16 miliar. Tahun 2017 malah sudah mencapai Rp 20 miliar. Ini baru dari sektor pariwisata,” tegasnya. Itu dari pajak hotel dan restoran, juga dari retribusi lain-lainnya.
Sehingga diharapkan dengan meningkatnya sektor pariwisata tersebut, katanya, diharapkan sumber daya yang ada di Disparbud Jember juga lebih ditingkatkan. “Karena pernah kami alami, sumber daya kami kurang terkait persiapan mendampingi Pokdarwis. Kemudian juga ditambah terkait promosi. Agar kinerja yang kita lakukan lebih optimal, mungkin sumber dayanya bisa ditambah,” ungkapnya.
“Karena promosi wisata sangat perlu dilakukan dan harus efektif untuk dilakukan (jika ada penambahan sumber daya),” sambungnya.
Lebih jauh Arief menyampaikan, untuk lebih meningkatkan potensi wisata tersebut, pihaknya sebagai pihak pemerintah menerapkan 3 prinsip dalam meningkatkan potensi wisata tersebut.
“Pemerintah dalam hal ini menerapkan 3 prinsip, yakni Fungsi pembinaan, Fungsi fasilitasi, dan Fungsi Promosi. Itu yang kita lakukan, dan cukup untuk meningkatkan potensi wisata. Promosinya lewat medsos dan media, juga foto tentu saja,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, sinergi dengan kumpulan komunitas yang ada di Jember juga dapat menjadi pengembangan potensi wisata di Kabupaten Jember. Salah satu manfaat yang dihasilkan dari sinergi tersebut, masyarakat dapat belajar tentang arti ataupun maksud dari suatu komunitas tersebut.
“Kita punya kalender wisata, dan pada bulan Fabruari ini kosong (kegiatan wisata). Sehingga kami komunitas ini (bersinergi bersama) bagaimana membuat Jember ini semakin ramai, dengan mengadakan acara. Untuk ke depannya, kami akan rutin untuk melakukan kegiatan wisata, agar Jember ini semakin ramai,” ujar Owner Taman Botani Sukorambi Febrian Kahar, kemarin.
“Dimungkinkan nantinya akan bergantian di lokasi destinasi wisata yang lain dan berbeda-beda. Sehingga sinergitas ini akan dapat merata dan berjalan dengan baik. Kegiatan wisata juga tidak hanya dilakukan pada bulan Agustus seperti sebelum-sebelumnya, tetapi bisa selalu ramai setiap bulannya,” sambungnya.
Perlu diketahui, wisata Taman Botani Sukorambi Jember setiap harinya selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan. Baik wisatawan lokal ataupun dari luar Jember. Bahkan dalam waktu sehari, pengunjung yang datang bisa mencapai 7 ribu orang. “Artinya potensi wisata di Jember sangat berpotensi. Terlebih lagi kita sepakat, wisata di Jember adalah Community Base Tourism (pariwisata berbasis komunitas, red) dan itu yang akan dikembangkan,” tuturnya. (cw2)


Minggu, 11 Februari 2018

   *Festival Kesenian Kawasan Selatan Jawa Timur  Jadi Tuan Rumah, Tampilkan yang Terbaik

*Festival Kesenian Kawasan Selatan Jawa Timur Jadi Tuan Rumah, Tampilkan yang Terbaik

Lumajang, Motim. Kabupaten Lumajang kembali mendapatkan kehormatan menyelenggarakan even besar di Jawa Timur. Kali ini Lumajang berkesempatan menjadi tuan rumah Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) Jawa Timur yang digelar pada 10-11 Januari 2018 di Alun-alun.

FKKS tahun ini merupakan gelaran yang ke 14 sejak tahun 2005, diikuti oleh 8 Kabupaten yakni Trenggalek, Lumajang, Malang, Pacitan, Blitar, Jember, Tulungagung, Banyuwangi dan 1 Tamu Kehormatan dari Kabupaten Badung provinsi Bali.

Pembukaan FKKS 2018 berlangsung meriah dengan suguhan tarian selamat datang dari Lumajang yakni Tari Godril Lumajangan. Tarian ini pernah menjadi tarian ter-spekta pada gelaran FKKS sebelumnya.

"Tari Godril tidak kalah dengan tari-tari lain,” kata Bupati Lumajang, Drs. As'at, M.Ag saat membuka acara Sabtu (10/2) malam.

Terkait dengan tamu kehormatan dari Kabupaten Badung - Bali, bupati menyampaikan sengaja didatangkan dikarenakan adanya hubungan historis antara Lumajang dengan Bali. Selain itu, bupati juga menyampaikan Lumajang merupakan salah satu dari empat kabupaten yang potensi wisatanya akan dikembangkan oleh Badan Otoritas Pusat.

“Nantinya akan dibangun sarana akses yang mudah menuju lokasi wisata. Jika terealisasi, tentunya akan berdampak positif untuk perkembangan perekonomian Kabupaten Lumajang,” ucapnya.
Di kesempat yang sama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Jarianto, M.Si dan selaku Ketua Panitia melaporkan bahwa FKKS yang sudah digelar sejak tahun 2005. Bertujuan untuk meningkatkan seni kreativitas masyarakat dalam rangka mempromosikan perkembangan kesenian dan potensi budaya di masing-masing daerahnya.

“Sekaligus mempererat kerjasama antar daerah kawasan pesisir selatan,” katanya.
Ia juga berterimakasih kepada Lumajang yang sukses menyelenggarakan FKKS kali ini. "Terimakasih kepada Bupati Lumajang atas terselenggaranya dan segala dukungannya baik secara materiil maupun moril,” ungkapnya.

Pargelaran kali begitu spesial dengan tema budaya gunung.“Dengan mengangkat tema Ekspresi Budaya Gunung, materi pagelaran kesenian daerah yang bernafaskan kesenian kawasan selatan dikemas sajian khas dan menarik dengan ekspresi budaya gunung,” ucapnya

Jumat, 09 Februari 2018

    Ayo Nikmati Festival Tahu Tempe di Banyuwangi

Ayo Nikmati Festival Tahu Tempe di Banyuwangi

Banyuwangi, Motim. Wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi pada akhir pekan ini bisa menikmati salah satu ragam wisata kuliner khas Banyuwangi yakni kuliner berbahan dasar kedelai dalam balutan Festival Tahu Tempe.

Festival Tahu dan Tempe yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival ini akan digelar di sepanjang Jalan Kalilo Kelurahan Pengantigan, Banyuwangi. Festival ini akan menyajikan beragam camilan dan olahan dari kedelai. Festival ini berlangsung selama lima hari (9 – 13 Februari 2018).
“Festival ini merupakan komitmen pemerintah bersama masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah setiap potensi daerah. Pengusaha tempe dan tahu tidak hanya menjual tahu tempenya saja, namun bisa mengolahnya menjadi makanan lain. Selain itu, melalui festival ini, kawasan Pengantigan yang notabene sentra pengolahan tahu dan tempe bisa mulai menjadi destinasi wisata baru Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Kawasan Pengantigan ini memang dikenal sebagai pusat pembuatan tahu dan tempe di Banyuwangi. Setidaknya ada 30 pengusaha tahu dan tempe di daerah ini.
"Nanti wisatawan bisa melihat aneka olahan makanan dari bahan dasar kedelai. Para pengusaha tahu dan tempe ini juga akan menunjukkan proses pembuatan tahu dan tempe kepada pengunjung," kata Anas.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata MY, Bramuda menambahkan, dalam festival ini akan para pengusaha tahu dan tempe akan menyajikan aneka olahan tahu dan tempe.
"Seperti kripik tempe, kerupuk tahu, brownies tahu, peyek tempe, tempe mendoan, stik tempe, cookies tempe, surabi tahu, sate tempe, pepes tahu, burger tempe hingga juice tahu," kata Bramuda. 
Festival ini akan diawali dengan mengarak lima tempe raksasa yang diistilahkan tempe mongkleng. Menurut ketua panitia festival, Nanang Lukman Hakim, tempe mongkleng ini memiliki panjang lima meter dan lebar 15 cm.
“Tempe Mongkleng ini akan diarak dari rumah penjual menuju gapura masuk Kelurahan Pengantigan. Setelah tiba, tempe ini akan digoreng secara masal dan bisa dinikmati siapapun yang datang dalam festival ini. Setelah makan bersama, masyarakat bisa mengunjungi stand yang menyajikan beragam produk produk tempe tahu,” kata Nanang.

Stand-stand ini akan dibuka mulai pukul 15.00 – 22.00 Wib.
“Para tamu bisa langsung membeli tahu tempe, lalu kami antar untuk melihat proses pembuatan tahu dan tempe. Kedepan, kampung kami akan membuka pasar sore khusus menjual produk tempe dan tahu milik pengrajin Pengantigan sini,” kata Nanang. (ari)

Minggu, 04 Februari 2018

Wisata Batu Selo Bonang Butuh Perhatian

Wisata Batu Selo Bonang Butuh Perhatian


Jember, Motim. Potensi wisata batu Selo Bonang di Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk membutuhkan perhatian serius dari Dinas Pariwisata Kabupaten Jember. Sebab keunikan dari batuan tersebut, dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi para pelancong domestik ataupun regional.
Ketua Komunitas Mobil Offroad Raung 4x4 Jember Satuki saat ditemui Memo Timur menyampaikan, potensi wisata baru batu Selo Bonang sangat menarik untuk dikembangkan, sebab keunikan dari batuan yang ada di lokasi tersebut, belum tentu ada di tempat lain di seluruh Indonesia, bahkan mungkin di luar negeri.

“Keunikan yang dimiliki batu-batuan di Selo Bonang itu sangat menarik. Bahkan kalau dikelola bersama, bersinergi antara Dinas Pariwisata ataupun Dinas PU Bina Marga (terkait akses jalan yang mungkin bisa diperbaiki dan lebih diperhalus), untuk sampai ke lokasi. Tentu saja akan memberikan harapan yang baik bagi perekonomian masyarakat di sekitarnya,” ujar Satuki, Minggu (4/2).

Sebelumnya ramai diberitakan, penemuan batu Selo Bonang yang berada di lereng Pegunungan Argopuro itu, memiliki keunikan tersendiri. Dimana batu-batuan tersebut jika dipukul, akan mengeluarkan bunyi nada mirip alat musik gamelan.

Awalnya batu-batuan tersebut ditemukan oleh Hadi Purnomo dan Pak Siati alias Munif. Saat itu bermaksud untuk membangun gubuk. Namun karena melihat banyak batu-batuan tersebut awalnya berserakan, dan layaknya batu-batuan biasa. Maka sebelum membangun gubuk, bermaksud untuk merapikan.

Namun saat dilemparkan, batu-batuan itu malah menghasilkan bunyi-bunyian mirip alat musik gamelan. Bahkan setiap batuan menghasilkan nada yang bermacam-macam. Hingga saat ini, oleh pemuda sekitar batu-batuan tersebut disusun dengan rapi, dan digunakan untuk berlatih musik setiap hari Minggu.

“Namun secara teknis, sesuai dengan instruksi dari bapak kepala dinas, nantinya akan kita kembangkan. Kami pun juga berkomunikasi dengan ahli purba dan ahli situs. Pada tahun 2016 sudah dilakukan pengecekan, dan (batuan yang ada) sudah di lakukan uji lab,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pariwisata Jember itu.

“Hasilnya merupakan batu biasa yg komposisi agregatnya dan strukturnya mengandung lebih banyak besi. Jadi keanehanya dari proses penbentukan bebatuan saja. Sehingga secara khusus tidak ada (kaitannya) dengan legenda atau kerajaan,” sambungnya.

Namun pihaknya mendukung, lanjut Satuki, untuk nantinya akan dibentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) di kawasan Desa Panduman. “Kira-kira nantinya akan dikonsep seperti apa! Kemudian kita promosikan. Selain itu sinergi dengan Pak camat, pak kepala desa terkait ADD, juga akan kita komunikasikan. Agar potensi wisata ini dapat memberikan manfaat,” tandasnya.

Lebih jauh Satuki menyampaikan, selain potensi wisata Batu Selo Bonang, potensi wisata yang tak jauh dari lokasi, yakni SJ 88, dan air terjun yang baru diekspos juga akan dikembangkan sebagai potensi wisata menarik di Kabupaten Jember.

“Kita pun juga akan memanfaatkan media sosial, mulai dari promosi dan potensi informasi bagi khalayak ramai,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu anggota Komisi D DPRD Jember Isa Mahdi menyampaikan, terkait potensi wisata baru batu Selo Bonang, menarik untuk dikembangkan.

“Nantinya saya yakin, wisata ini akan menjadi potensi maksimal, dan secara tidak langsung juga akan membantu PAD di kabupaten Jember. Terkait pembuktian secara ilmiah, perlu dikaji lebih mendalam, dan kalau perlu dilakukan diskusi khusus,” ujarnya.

Sebab dengan dilakukan penelitian serius, katanya, akan lebih memberikan manfaat dari sisi sejarah, dan menjadi ilmu pengetahun baru asli dari Kabupaten Jember.

“Bahkan bila ternyata batu itu adalah batuan purbakala, maka pasti akan semakin menarik minat wisatawan. Tidak haya domestik, tetapi juga internasional. Karena jarang terjadi,” tuturnya. (cw2)    

PTPN XII Targetkan Rp 12 M dari Sektor Wisata

PTPN XII Targetkan Rp 12 M dari Sektor Wisata

Jember, Motim. Berbagai terobosoan terus dilakukan PTPN XII untuk meningkatkan pendapatan. Saat ini yang dianggap cukup prospek adalah pengembangan wisata. Untuk itu, PTPN XII Glantangan, Kecamatan Tempurejo, membuat wisata baru yakni Warung Wisata Air. Tempat itu kemarin dilaunching dan dihadiri sejumlah pejabat direksi PTPN XII berikut Forkopimda.

Direktur Operasional PTPN XII, Anis Febrianto menuturkan, sektor pariwisata saat ini sangat menggiurkan. Apalagi, di beberapa lokasi yang dijadikan sebagai wisata juga cukup berhasil sehingga terus dilakukan pengembangan agrowisata selain dari usaha utama perkebunan.

“Kita menargetkan penerimaan pendapatan dari sektor pariwisata  ini sebesar Rp 12 milyar pada tahun 2018. Ini hasil evaluasi terhadap seluruh usaha di sektor agrowisata,” jelasnya. Tahun sebelumnya, sektor ini memberikan penghasilan sekitar Rp 5-6 miliar. Sehingga untuk tahun ini digenjot cukup tinggi.

Anis menjelaskan, ada 2 evaluasi yang dilakukan pihaknya untuk menggenjot pendapatan dari sektor wisata itu. Pertama industri hilir, seperti kafe dan sebagainya. “Kemudian yang kedua agrowisata,” jelasnya. Selain itu, pihaknya mengoptimalkan berbagai agrowisata yang ada untuk mencapai target ini.

Untuk menunjang penambahan penerimaan dari sektor agrowisata, lanjut anis pihaknya sudah mengembangkan 15 destinasi wisata milik PTPN XII mulai dari Tretes Kabupaten Pasuruan hingga Banyuwangi. Dirinya mengatakan, berbagai wisata ini menonjolkan kekhasan daerah masing-masing.

“Seperti sebelumnya ada Dusun Coklat di Banyuwangi. Sedangkan untuk Kabupaten Jember, kita kembali menghidupkan destinasi wisata di Kebun Glantangan, yang sebelumnya pernah mati suri menjadi Warung Wisata Air,” ungkap Anis. Lokasi seluas 2 hektar itu disulap menjadi Wisata Warung Air Glantangan dengan konsep wisata air.

Menurutnya, tempat wisata seperti itu di Jember belum ada. “Ada yang seperti ini tapi di Bogor, Bandung, di luar banyak. Mudah-mudahan ini nanti akan menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin wisata unggulan berbeda di Jember,” harap Anis.

Selain itu, dia juga berharap wisatawan yang berkunjung dapat mendapatkan lebih dari gabungan konsep wisata perkebunan, dengan warung air. “Wahana wisata ini juga disediakan fasilitas outbond dan edukasi perkebunan terhadap masyarakat. Dengan konsep warung yang dikelilingi kolam, tentu akan menjadi destinasi unggulan lainnya di Jember,” katanya.

Kemudian lanjut Anis, wisatawan juga bisa belajar tentang tanaman perkebunan. Sehingga ada edukasi perkebunan termasuk dengan pabrik kepada masyarakat utamanya anak-anak. “Nantinya kita akan bersinergi dengan pemerintah kabupaten mengembangkan destinasi agro wisata ini,” tegas Anis.

Untuk di Jember, Anis mengaku bahwa pihaknya akan fokus di Mumbul Garden, serta Wisata Warung Air ini. “Kalau Perkebunan Rayap sebagai pendukung lokasi wisata Rembangan milik Pemkab Jember,” katanya. “Sebetulnya agrowisata anak perusahaan sendiri, tapi sementara kita tempelkan pada Rolas Nusantara Mandiri (anak perusahaanPTPN XII) seperti kafe Rollas. Tetapi tetap harus profesional,” pungkas Anis. (sp)

Sabtu, 03 Februari 2018

Tahun 2018, Ada 77 Festival di Banyuwangi

Tahun 2018, Ada 77 Festival di Banyuwangi

Banyuwangi, Motim.Memasuki tahun 2018, Kabupaten Banyuwangi kembali merilis sederet agenda wisata yang dikemas dalam Banyuwangi Festival. Tahun ini akan ada 77 event wisata atraktif yang akan mengeksplorasi seni budaya, keindahan alam, olahraga hingga beragam potensi daerah yang pastinya akan menjadi tontonan menarik bagi wisatawan.
Menandai dimulainya pelaksanaan Banyuwangi Festival, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, meluncurkan agenda wisata tersebut di Kantor Kementerian Pariwisata, Kamis (1/2).
Menpar memberikan apresiasi kepada Banyuwangi yang aktif mengemas even pariwisata dalam rangka mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisata.
"Branding Banyuwangi sebagai the city of festival harus memiliki even yang berkualitas sepanjang tahun. Banyuwangi Festival akan mendorong wisatawan berkunjung ke Banyuwangi karena setiap minggu dapat menyaksikan karnaval dan festival," jelas Arief.
Dalam kesempatan itu, Menpar juga telah menetapkan Banyuwangi sebagai kota dengan penyelenggara festival terbaik di Indonesia.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan, Banyuwangi Festival yang telah digelar rutin sejak 2012 bisa menjadi panduan bagi wisatawan yang ingin menikmati beragam potensi wisata Banyuwangi.
”Banyuwangi Festival kami yakini sebagai cara ampuh untuk meningkatkan awareness orang pada Banyuwangi. Dan sudah terbukti, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara menikmati aneka atraksi wisata di Banyuwangi Festival,” kata Anas saat dihubungi, Kamis lalu.
Banyuwangi Festival tahun ini lebih istimewa dengan berbagai atraksi wisata baru berbasis potensi dan kearifan lokal. Atraksi primadona wisatawan juga bakal dikemas lebih menarik, seperti Festival Banyuwangi Kuliner dan Art Week (12-15 April), Jazz Pantai Banyuwangi (12-13 Mei), Banyuwangi Ethno Carnival (29 Juli), Ijen Summer Jazz (22 September) dan Festival Gandrung Sewu (20 Oktober).
Sejumlah atraksi baru dihadirkan, seperti Festival Tahu-Tempe (9-13 Februari) untuk memperkenalkan kampung pembuatan tahu dan tempe di Banyuwangi dan Festival Imlek yang akan menampilkan tradisi khas warga Tionghoa (17 Maret). Selain itu, ada Festival Karya Tari (31 Maret), Fishing Festival (7 April), Festival Cokelat (12 Mei), Festival Kuntulan (3-6 Oktober).
”Atraksi-atraksi baru kami harapkan semakin memperkaya dan memperkuat posisi Banyuwangi dalam peta persaingan pariwisata. Seperti Fishing Festival, akan kami padukan dengan paket-paket wisata memancing yang kini sedang tumbuh trennya. Juga Festival Cokelat untuk mengangkat kakao kami yang sudah rutin diekspor ke berbagai negara,” kata Anas.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda menambahkan, pendekatan sport tourism tetap mewarnai pergelaran Banyuwangi Festival 2018. Mulai dari Banyuwangi Underwater Festival (4-6 April), International Ijen Green Run (8 April), Banyuwangi International BMX (30 Juni), dan Tour de Ijen (26-29 September).
”Khusus sport tourism ini memang kami mengambil pasar yang sangat segmented, tapi pasarnya tak banyak tergarap daerah lain. Secara konsisten ini mulai membuahkan hasil, di mana komunitas-komunitas BMX se-Indonesia, misalnya, rutin berlatih di Banyuwangi karena kami punya sirkuit berstandar internasional,” papar Bramuda.(eko)
Tahun 2018, Ada 77 Festival di Banyuwangi

Tahun 2018, Ada 77 Festival di Banyuwangi

Banyuwangi, Motim. Memasuki tahun 2018, Kabupaten Banyuwangi kembali merilis sederet agenda wisata yang dikemas dalam Banyuwangi Festival. Tahun ini akan ada 77 event wisata atraktif yang akan mengeksplorasi seni budaya, keindahan alam, olahraga hingga beragam potensi daerah yang pastinya akan menjadi tontonan menarik bagi wisatawan.
Menandai dimulainya pelaksanaan Banyuwangi Festival, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, meluncurkan agenda wisata tersebut di Kantor Kementerian Pariwisata, Kamis (1/2).
Menpar memberikan apresiasi kepada Banyuwangi yang aktif mengemas even pariwisata dalam rangka mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisata.
"Branding Banyuwangi sebagai the city of festival harus memiliki even yang berkualitas sepanjang tahun. Banyuwangi Festival akan mendorong wisatawan berkunjung ke Banyuwangi karena setiap minggu dapat menyaksikan karnaval dan festival," jelas Arief.
Dalam kesempatan itu, Menpar juga telah menetapkan Banyuwangi sebagai kota dengan penyelenggara festival terbaik di Indonesia.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan, Banyuwangi Festival yang telah digelar rutin sejak 2012 bisa menjadi panduan bagi wisatawan yang ingin menikmati beragam potensi wisata Banyuwangi.
”Banyuwangi Festival kami yakini sebagai cara ampuh untuk meningkatkan awareness orang pada Banyuwangi. Dan sudah terbukti, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara menikmati aneka atraksi wisata di Banyuwangi Festival,” kata Anas saat dihubungi, Kamis lalu.
Banyuwangi Festival tahun ini lebih istimewa dengan berbagai atraksi wisata baru berbasis potensi dan kearifan lokal. Atraksi primadona wisatawan juga bakal dikemas lebih menarik, seperti Festival Banyuwangi Kuliner dan Art Week (12-15 April), Jazz Pantai Banyuwangi (12-13 Mei), Banyuwangi Ethno Carnival (29 Juli), Ijen Summer Jazz (22 September) dan Festival Gandrung Sewu (20 Oktober).
Sejumlah atraksi baru dihadirkan, seperti Festival Tahu-Tempe (9-13 Februari) untuk memperkenalkan kampung pembuatan tahu dan tempe di Banyuwangi dan Festival Imlek yang akan menampilkan tradisi khas warga Tionghoa (17 Maret). Selain itu, ada Festival Karya Tari (31 Maret), Fishing Festival (7 April), Festival Cokelat (12 Mei), Festival Kuntulan (3-6 Oktober).
”Atraksi-atraksi baru kami harapkan semakin memperkaya dan memperkuat posisi Banyuwangi dalam peta persaingan pariwisata. Seperti Fishing Festival, akan kami padukan dengan paket-paket wisata memancing yang kini sedang tumbuh trennya. Juga Festival Cokelat untuk mengangkat kakao kami yang sudah rutin diekspor ke berbagai negara,” kata Anas.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda menambahkan, pendekatan sport tourism tetap mewarnai pergelaran Banyuwangi Festival 2018. Mulai dari Banyuwangi Underwater Festival (4-6 April), International Ijen Green Run (8 April), Banyuwangi International BMX (30 Juni), dan Tour de Ijen (26-29 September).
”Khusus sport tourism ini memang kami mengambil pasar yang sangat segmented, tapi pasarnya tak banyak tergarap daerah lain. Secara konsisten ini mulai membuahkan hasil, di mana komunitas-komunitas BMX se-Indonesia, misalnya, rutin berlatih di Banyuwangi karena kami punya sirkuit berstandar internasional,” papar Bramuda.(eko)

Rabu, 24 Januari 2018

Keluarga Kecil Berjiwa Seni dari Cluring Banyuwangi

Keluarga Kecil Berjiwa Seni dari Cluring Banyuwangi



Banyuwangi, Motim
Menjadi seorang pemain wayang di kesenian Damar Wulan (Janger Khas Banyuwangi) merupakan aktivitas yang hampir setiap hari dilakukan keluarga Siti Nurjanah (48), warga Dusun Tanjungrejo Desa Sembulung, Kecamatan Cluring bersama anak-anak dan suaminya.

Dari bakat seni yang dimiliki, keluarga kecil ini mampu menghibur masyarakat di setiap atraksinya. Maka tak heran jika keluarga Siti Nurjanah, sudah tak asing lagi dikenal masyarakat Banyuwangi, khususnya di wilayah Kecamatan Cluring.

“Di kesenian janger saya menjadi seorang Dagelan,” terangnya, saat Memo Timur singgah di kediamannya, Selasa (23/1) siang.

Profesi yang digeluti Nurjanah sejak 30 tahun lalu, nampaknya mengalir ke Joko Widianto (31) dan Hendro Cahyono (26). Mereka berdua ini adalah putra kandungnya yang tinggal serumah bersamanya.

Sementara Mariono (60), sang suami yang juga seorang pemain di kesenian itu saat ini sudah pensiun dari aktivitas seni tersebut, karena faktor usia. Meski begitu Mariono terus memberikan semangat kepada kedua putra dan istrinya untuk selalu melestarikan kesenian khas tanah Blambangan.

“Kalau bapak sudah tak main lagi, bapak selalu memberikan semangat kepada saya dan anak-anak saya,” paparnya.

Joko Widianto alias Gatot, sang anak pertama mengatakan, jika dirinya adalah salah seorang pemain wayang kepruk (abangan) di kesenian Damar Wulan, sosok satu ini merupakan bagian terpenting di atraksi kesenian tersebut, karena tokoh wayang brawakan ini menjadi kunci dalam sesi peperangan di pagelaran kesenian khas Banyuwangi ini.

“Kalau saya jadi brawakannya. Tapi sekarang juga ndagel,” katanya.

Joko menambahkan, di sela-sela atraksi itu, seorang wayang brawakan harus juga mampu menghidupkan suasana, terkadang para pemain memainkan atraksi-atraksi yang bisa membuat para penonton tertawa.

Joko sendiri mengaku, menggeluti kesenian ini sejak dia lulus Madrasah Tsanawiyah Cluring. Sementara, Hendro Cahyono, putra kedua Siti Nurjanah juga seorang pemain di kesenian tersebut. Hendro memerankan tokoh Mojopaitan (ijoan) dalam pementasan yang dilakukan saat atraksi perang Hendro selalu menjadi lawan Joko.

Selain bermain di kesenian Damar Wulan, satu keluarga ini juga bermain di kesenian Jaranan Buto. Mariono yang juga pernah menjadi wayang ini sekarang lebih aktive menjadi panjak (penabuh), Siti Nurjanah menjadi Dagelan (pelawak) sedangkan Hendro dan Joko menjadi wayang di kesenian ini.

Satu bulan, mereka ini medapatkan job hingga 16 tempat. Terkadang siang mereka bermain jaranan dan malam hari bermain janger. Meski demikian mereka sangat menikmati profesinya tersebut. Dari bakatnya bermain kesenian, mereka berdua ini sering diminta untuk bermain oleh beberapa bos kesenian jaranan dan janger .

Keluarga kecil ini sangat harmonis, dari bakat seni dan karya yang dimiliki, satu keluarga tersebut mampu mendapatkan hasil dari apa yang telah dilakukan. Dari bakat seni, mereka bisa mendapat rizki untuk biaya hidup kesehariannya.

“Yang penting berusaha. Tidak nganggur, Insya Allah hasilnya juga bisa kita gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari - hari,” pungkas Siti Nurjanah, menutup perbincangan wartawan.(yud)

Senin, 22 Januari 2018

Sekda Apresiasi Kegiatan Pramuka di Tempat Wisata

Sekda Apresiasi Kegiatan Pramuka di Tempat Wisata








Bondowoso, Motim
Sekretaris Daerah (Sekda) Drs. H. Hidayat Msi, mengapresiasi kegiatan Praja Muda Karana (Pramuka) di Kabupaten Bondowoso yang dilakukan di luar ruangan. Apalagi, kegiatan Pramuka ini diselenggarakan di wisata Bendungan Sampeyan Baru di Desa Tapen Kecamatan Tapen. Hal itu disampaikan Hidayat usai pengukuhan ratusan Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus) se-Kabupaten Bondowoso.

“Alhamdulilah kali ini saya sangat senang, biasanya kegiatan di dalam gedung dan kita hanya bisa melihat mobil-mobil. Namun kali ini kita semua bisa menikmati tempat wisata alam yang sangat indah,” ujarnya, kemarin.

Dia juga menyampaikan keberhasilan yang telah dicapai oleh gerakan Pramuka Kabupaten Bondowoso, dalam menyusun acara kepengurusan di 23 Kecamatan Se-Kabupaten yang sudah terlaksana dengan baik.

“Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya kegiatan-kegiatan Pramuka di Kabupaten Bondowoso. Alhamdulilah semua kegiatan pada saat ini saya merasakan dari kakak dan adik cukup aktif pada tahun 2017,” urainya.

Dia berharap pada tahun 2018 lebih ditingkatkan lagi. Tentunya, lebih maju lagi dibanding tahun 2017. Dia juga berharap kepada Gugus depan, pembimbing di tingkat kabupaten maupun ditingkat kecamatan agar senantiasa terus melakukan perbaikan-perbaikan terhadap apa yang menjadi kelemahan karya kita selama ini.

“Di depan kita masih banyak yang harus kita hadapi bersama, jujur saja Kabupaten Bondowoso pada saat ini terus berkembang dengan pesat. Serta terus meningkat dengan tercapainya beberapa prestasi yang kita raih bersama,” tambahnya

Kata Hidayat, banyak hal yang telah diraihselama ini dalam membangun Kabupaten Bondowoso. Baik itu dalam bentuk tata kelola pemerintahan, akuntabilitas kinerja, maupun program yang lainnya yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Namun di balik  keberhasilan itu, juga masih banyak kekurangan dan kelemahan karena keterbatasan. Hal inilah yang harus dijawab bersama.

“Kita akan terus mengembangkan dunia pendidikan, tugas kita masih banyak tantangan yang harus kita hadapi. Salah satunya dengan adanya tehnologi yang sangat canggih saat ini,” ungkapnya.

Perkembangan tehnologi yang sangat canggih, sehingga hubungan satu dengan negara lain bisa dekat. Sejatinya, tentu hal ini menjadi tugas para kakak dan adik Pramuka.

Untuk membangun Kabupaten Bondowoso, masih membutuhkan bimbingan untuk mencetak para kader yang akan menggantikan kita kedepan. Pramuka harus maju bersama dan ini ada di pundak dan di pemikiran Pramuka.

“Saya sebagai ketua Kwartir cabang Bondowoso selalu terus ingin membangun Kota Bondowoso. Mari kita bersama-sama membangun serta membenahi kekurangan kita selama ini,” ajaknya. (cw3)

Minggu, 14 Januari 2018

Hotel ASTON Segera Buka di Banyuwangi

Hotel ASTON Segera Buka di Banyuwangi


Banyuwangi, Motim
Perusahaan bertaraf international di bawah Archipelago International yang merupakan salah satu perusahaan manajemen hotel terbesar di Indonesia membuka cabang di Banyuwangi, Aston Hotel Banyuwangi City. Aston merupakan hotel dengan kualifikasi bintang 3 yang memiliki fasilitas 123 kamar, yang terdiri dari 111 kamar Superior, 10 kamar Deluxe, dan 2 kamar Suite. Ditambah dengan kolam renang anak dan dewasa, 1 Restaurant , 1 Coffeeshop, 1 Ballroom dengan kapasitas 500 pax, 6 meeting room dengan kapasitas dari 20 pax sampai 60 pax, tempat berjualan souvenir, bisnis center serta spa.

Bangunan dengan ketinggian 7 lantai ini di rencanakan akan mulai beroperasi pada bulan Maret 2018 mendatang, dengan lokasi berada di pusat kota Banyuwangi. Kehadiran hotel bertaraf internasional ini diyakini akan menunjang peningkatan sektor pariwisata di Banyuwangi.



Aston Banyuwangi City Hotel akan menjadi salah satu hotel chain international yang mengedepankan design lokal dan diharapkan akan menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi dan sekitar, serta menjadi pilihan utama untuk menginap bagi tamu pebisnis maupun pelancong yang datang ke Banyuwangi.

General Manager Aston Banyuwangi City Hotel, Yosy Arivianto mengatakan, Aston Banyuwangi City Hotel adalah salah satu hotel terbaik dengan fasilitas lengkap yang bisa menjadi pilihan bermalam para wisatawan baik dari mancanegara ataupun lokal yang datang di Banyuwangi.

"Kami juga mempunyai penawaran khusus bagi masyarakat Banyuwangi, seperti paket pernikahan, arisan, gathering, ulang tahun dan juga paket table manner yang mana tidak hanya bisa di ikuti oleh sekolah-sekolah ataupun universitas di Banyuwangi tapi juga instansi pemerintahan," ujar Yosy.



Selain fasilitas yang lengkap, menurut Yosy, Aston Banyuwangi City Hotel juga menyiapkan tenaga tenaga khusus yang berpengalaman dalam bidangnya, tenaga kerja tersebut diambil dari warga asli Banyuwangi, sehingga keberadaan perusahaan kami bisa menyerap tenaga kerja.

"Tenaga kerja itu hampir 80 persen warga Banyuwangi," ujar GM yang masih muda ini.

Lebih lanjut Yosy mengatakan, Banyuwangi merupakan kabupaten yang terus berkembang baik dari sektor wisata maupun bisnis. Hal inilah yang menjadi tujuan kami, yaitu mendukung program pemerintah daerah dalam memajukan kabupaten Banyuwangi salah satu kaabupaten yang berada di ujung timur pulau jawa ini.

"Semoga kami bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagi para tamu wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi," pungkas Yosy. (win)