Rabu, 24 Januari 2018

Keluarga Kecil Berjiwa Seni dari Cluring Banyuwangi

SHARE


Banyuwangi, Motim
Menjadi seorang pemain wayang di kesenian Damar Wulan (Janger Khas Banyuwangi) merupakan aktivitas yang hampir setiap hari dilakukan keluarga Siti Nurjanah (48), warga Dusun Tanjungrejo Desa Sembulung, Kecamatan Cluring bersama anak-anak dan suaminya.

Dari bakat seni yang dimiliki, keluarga kecil ini mampu menghibur masyarakat di setiap atraksinya. Maka tak heran jika keluarga Siti Nurjanah, sudah tak asing lagi dikenal masyarakat Banyuwangi, khususnya di wilayah Kecamatan Cluring.

“Di kesenian janger saya menjadi seorang Dagelan,” terangnya, saat Memo Timur singgah di kediamannya, Selasa (23/1) siang.

Profesi yang digeluti Nurjanah sejak 30 tahun lalu, nampaknya mengalir ke Joko Widianto (31) dan Hendro Cahyono (26). Mereka berdua ini adalah putra kandungnya yang tinggal serumah bersamanya.

Sementara Mariono (60), sang suami yang juga seorang pemain di kesenian itu saat ini sudah pensiun dari aktivitas seni tersebut, karena faktor usia. Meski begitu Mariono terus memberikan semangat kepada kedua putra dan istrinya untuk selalu melestarikan kesenian khas tanah Blambangan.

“Kalau bapak sudah tak main lagi, bapak selalu memberikan semangat kepada saya dan anak-anak saya,” paparnya.

Joko Widianto alias Gatot, sang anak pertama mengatakan, jika dirinya adalah salah seorang pemain wayang kepruk (abangan) di kesenian Damar Wulan, sosok satu ini merupakan bagian terpenting di atraksi kesenian tersebut, karena tokoh wayang brawakan ini menjadi kunci dalam sesi peperangan di pagelaran kesenian khas Banyuwangi ini.

“Kalau saya jadi brawakannya. Tapi sekarang juga ndagel,” katanya.

Joko menambahkan, di sela-sela atraksi itu, seorang wayang brawakan harus juga mampu menghidupkan suasana, terkadang para pemain memainkan atraksi-atraksi yang bisa membuat para penonton tertawa.

Joko sendiri mengaku, menggeluti kesenian ini sejak dia lulus Madrasah Tsanawiyah Cluring. Sementara, Hendro Cahyono, putra kedua Siti Nurjanah juga seorang pemain di kesenian tersebut. Hendro memerankan tokoh Mojopaitan (ijoan) dalam pementasan yang dilakukan saat atraksi perang Hendro selalu menjadi lawan Joko.

Selain bermain di kesenian Damar Wulan, satu keluarga ini juga bermain di kesenian Jaranan Buto. Mariono yang juga pernah menjadi wayang ini sekarang lebih aktive menjadi panjak (penabuh), Siti Nurjanah menjadi Dagelan (pelawak) sedangkan Hendro dan Joko menjadi wayang di kesenian ini.

Satu bulan, mereka ini medapatkan job hingga 16 tempat. Terkadang siang mereka bermain jaranan dan malam hari bermain janger. Meski demikian mereka sangat menikmati profesinya tersebut. Dari bakatnya bermain kesenian, mereka berdua ini sering diminta untuk bermain oleh beberapa bos kesenian jaranan dan janger .

Keluarga kecil ini sangat harmonis, dari bakat seni dan karya yang dimiliki, satu keluarga tersebut mampu mendapatkan hasil dari apa yang telah dilakukan. Dari bakat seni, mereka bisa mendapat rizki untuk biaya hidup kesehariannya.

“Yang penting berusaha. Tidak nganggur, Insya Allah hasilnya juga bisa kita gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari - hari,” pungkas Siti Nurjanah, menutup perbincangan wartawan.(yud)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: