Jember, MotimNews. Ribuan buku ’57 Khutbah Jumat’ yang sempat jadi kontrovesi dikembalikan langsung Kodim 0824 Jember kepada pemiliknya, Pemimpin Lembaga Islam Integral - Ali Assegaf, Senin pagi (16/4). Dengan dikembalikannya buku tersebut, maka selanjutnya Kodim 0824 Jember tidak bertanggung jawab apapun mengenai buku tersebut.
Komandan Kodim (Dandim) 0824 Jember Letkol Inf. Arif Munawar saat dikonfirmasi sejumlah media menyampaikan, pihaknya secara resmi telah mengembalikan buku tersebut kepada pemiliknya. “Sehingga mulai saat ini (kemarin, red), kami dan Kodim Jember tidak bertanggung jawab atas ihwal apapun berkaitan dengan buku tersebut,” ujarnya.
Perlu diketahui, Kodim 0824 Jember mendapat buku ’57 Khutbah Jumat’ tersebut dari Ali Assegaf, dalam acara sarasehan merekatkan bangsa memperkokoh NKRI di Makodim 0824 pertengahan Maret lalu. Namun karena dari hasil kajian MUI Jember disarankan untuk tidak disebarkan, maka dirinya langsung berkoordinasi dan memutuskan untuk mengembalikan buku tersebut kepada pemiliknya.
Saat dikonfirmasi secara terpisah, Ali Assegaf setelah menerima buku tersebut menyampaikan, dengan pengembalian buku tersebut membuktikan beberapa hal. “Bukti bahwa TNI tidak membredel, istilah mengamankan yakni amanah yang saya titipkan,” ucap Ali.
Kedua membuktikan, lanjut Ali, buku ini tidak diserahkan kepada selain dirinya, selaku pemilik buku tersebut. Serta terakhir, katanya, bahwa TNI tidak masuk dalam ranah justifikasi paham keagamaan. “Sehingga kemarin, hanya distribusi tidak masuk dalam ranah konten dari buku tersebut,” tegasnya.
Buku ini, jelas Ali, sebenarnya hendak diberikan gratis kepada masyarakat Jember. Bahkan untuk Jember, ada sekitar 15 ribu buku yang disiapkan.
“Untuk daerah lain malah ada biayanya,” terangnya. Sehingga dirinya merasa tidak rugi dengan pengambilan buku tersebut kepada dirinya dan akan didistribusikan di sejumlah daerah lainnya.
Terkait dengan adanya tudingan, khususnya dari MUI terkait isi buku yang berisi ajaran Syiah ditampik oleh Ali Asegaf. “Logika saja. Jika ada seperti paham itu, buku ini kan ada redaksi dan teksnya. Kan bisa ditunjuk ini lho syiah-nya. itu enak,” tutur Ali. Namun, sejak dituding demikian hingga kemarin, pihaknya belum tahu dari sisi mana dianggap syiah.
Seharusnya, ucap Ali, MUI Jember yang merupakan ulama atau orang berilmu sebelum memberikan tudingan harusnya melakukan klarifikasi terlebih dahulu kepada pihaknya. Sehingga bisa diketahui dimana titik yang dituduhkan tersebut. (ata)
0 komentar: