Jember, MotimNews. Batik tulis Meru Betiri yang diproduksi warga Desa Wonosari, Kecamatan Tempurejo, berpotensi diminati publik. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, Achmad Subagio punya resep yang perlu diperhatikan para perajin.
Subagio menganjurkan para perajin batik tulis mulai memperhatikan manajemen rantai pasokan agar produksi dapat berkelanjutan. "Jangan sampai ketika permintaan batik tulis sudah melonjak justru tidak mampu melayani, tentu saja akan mengecewakan konsumen," katanya, sebagaimana dilansir Humas dan Protokol Universitas Jember.
Subagio menyarankan adanya pembagian tugas dan peran, dan tidak hanya terfokus pada peran membatik. "Harus ada yang mengurusi bahan baku dari kain hingga lilin untuk membatik, ada yang bertugas mempersiapkan bahan pewarna alami hingga yang memasarkan produk," katanya.
Para perajin juga perlu memikirkan diversifikasi produk seperti dompet batik, taplak batik, dan sebagainya.
"Ini agar tidak hanya fokus pada batik tulis untuk pakaian. Kami di LP2M siap membantu kajian manajemen rantai pasokan, kreasi produk sampai pemasaran untuk produksi batik tulis di Desa Wonoasri ini," kata Subagio menawarkan booth untuk Kehati Meru Betiri dalam acara Festival Tegalboto, November mendatang.
Ketua Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember Wachju Subchan berharap produksi batik ini menjadi tambahan pemasukan. Menurutnya, program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan tidak hanya melakukan rehabilitasi hutan.
"Program juga memberikan berbagai keterampilan yang berbasis pada potensi desa," katanya. Pemanfaatan potensi berujung pada peningkatan kesejahteraan yang membuat warga tak lagi berminat untuk merambah hutan. (sp)
0 komentar: