Jember, MotimNews. Persoalan aspek manusia adalah persoalan
penting yang harus segera ditangani di Kabupaten Jember, Jawa Timur, agar
Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia berhasil. Pemerintah daerah
perlu bekerjasama dengan Universitas Jember untuk mengidentifikasi persoalan
dan pemetaan penyelesaian masalah secara lebih rinci.
Hal ini disampaikan Adhitya Wardhono, doktor
studi pembangunan yang menjadi salah satu pembicara dalam acara Forum Kajian
Pembangunan yang membahas masalah SDGs di Fakultas Ekonomi Universitas Jember,
Selasa (13/2). Acara ini merupakan kerjasama antara Australiam National
University (ANU) dengan FE Universitas Jember dan sudah memasuki tahun ketiga.
Adhitya mengatakan, SDGs merupakan kelanjutan
MDGs (Millennium Development Goals), dengan jumlah target, tujuan, dan
indikator yang lebih banyak. Jika dalam MDGs hanya ada delapan tujuan, 21
target, dan 60 indikator, maka dalam SDGs ada 17 tujuan, 169 target, dan 304
indikator.
"Yang jadi concern dalam SDGs sebetulnya
mengoneksikan people, planet, prosperity, peace, dan partnership. Itu yang
harus mampu dicapai pemerintah daerah. Kami meng-encourage pemerintah daerah
agar bisa bekerjasama dengan universitas untuk melihat apa yang perlu
dikerjakan ke depan," kata Adhitya.
Universitas Jember dalam waktu dekat akan
mendirikan SDGs Center. Adhitya berharap para akademisi bisa dilibatkan dan
menjadi bagian terintegrasi perencanaan bersama Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah, serta melakukan pemetaan bersama.
Adhitya menyebut isu SDGs paling mendasar di
Jember adalah manusia. "Kalau bicara people (manusia), belum makmur. Kita
punya masalah di kemiskinan. Jadi sekarang bagaimana mengeliminasi ini melalui
kebijakan," katanya.
Salah satu yang penting adalah masalah
paradigma. "Kita sekarang punya BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)
Kesehatan. Tapi apakah kemudian sesederhana itu untuk menurunkan kemiskinan? Ke
depan, kita harus punya paradigma sehat di masyarakat daerah, sehingga kelak
kita tidak lagi mengatakan uang (anggaran) BPJS kurang. Paradigma ini belum
terkoneksi, padahal dalam SDGs semua terkoneksi dan harus dipikirkan
berkesinambungan," kata Adhitya. [ryz]

0 komentar: