Jember, MotimNews. Tercatat sudah tiga hari ini
sekitar 167 warga dari 55 Kepala Keluarga (KK) yang ada di di RT 3 RW 2 Dusun Calok Desa/Kecamatan Arjasa
terpaksa diungsikan. Mereka diungsikan karena khawatir dengan kondisi curah
hujan yang tinggi, sehingga bisa menyebabkan musibah tanah longsor. Untuk
lokasi titik aman pengungsian berada di ruang kelas PAUD Manggis 1 dusun
setempat.
Diketahui ratusan warga itu diungsikan, karena ditemukan
retakan cukup lebar di bukit Lereng Pegunungan Argopuro. Bahkan bukan hanya
itu, dibagian bukit yang tingginya sekitar 15-30 meter itu juga mengalami
ambles dengan kedalaman sekitar 80 cm. sehingga jika hujan deras maka sangat
rawan longsor.
Ibu RT setempat Suriama, kepada sejumlah wartawan
menyampaikan, warga yang menuju ke pengungsian itu, biasanya dilakukan saat
sore hari. Terutama jika hujan deras berlangsung lebih dari satu jam. “Tetapi
jika siang hari, warga ada yang kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan.
Ataupun juga ada yang beraktifitas bekerja,” kata Suriama, Rabu siang (14/2).
Tidak semua warga, kata Suriama, mengungsi. Bapak-bapak
biasanya berjaga dirumah saat malam hari, dan mencari lokasi yang aman. “Kalau
hujannya deras, ibu-ibu anak-anak dan orang tua langsung menuju ke titik
pengungsian ini,” ucap Suriyama saat ditemui di lokasi pengungsian. Ada yang
dibawa dengan kendaraan dan berjalan kaki. Lokasi pengungsian sendiri cukup
jauh, yakni sekitar 1 kilometer.
Mereka sangat khawatir, terutama saat malam hari jika
hujan deras kemudian terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Warga resah,
makanya lebih baik mengungsi dulu,” tutur perempuan yang lokasi rumahnya persis
dibawah kaki bukit lereng yang mengalami retakan itu. Karena memang keselamatan
jiwa menjadi yang utama.
Namun diakuinya, tinggal di pengungsian memang tidak
nyaman. “Ya tidak enak. Enak kalau di rumah sendiri,” tuturnya. Selain dilanda
kekhawatiran, katanya, di lokasi pengungsian tidak senyaman tinggal dirumah. “Karena
ya terpaksa harus tidur bertumpukan bersama dengan puluhan bahkan ratusan warga
lain. Bahkan untuk memasak, harus bersama dengan makanan yang seadanya,”
ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Calok Usman, yang ditemui
kemarin menuturkan warga sudah sadar dan siaga bencana. Jadi mereka yang sudah
mendapatkan sosialisasi inipun, lanjutnya, langsung menuju pengungsian saat
hujan turun dengan deras. Menurut Usman, warga tahu lokasi bukit yang cukup
rawan longsor.
“Retakan tanahnya sekitar 500 meter dengan lebar sekitar
10-100 cm serta kedalaman sampai 1-2,8 meter. juga ada yang ambles dengan
kedalaman 20-100 cm,” ucap Usman. Sehingga karena tanah labil inilah, makanya
masyarakat pun diutamakan untuk keselamatan jiwanga terlebih dahulu dengan
diungsikan ke Pos PAUD Manggis 1 ini.
Pihaknya mengakui sejauh ini pihaknya masih terus was-was
dengan area yang sangat rawan longsor ini. Sehingga pihaknya selalu menghimbau
kepada masyarakat untuk hati-hati, utamanya jika hujan deras cukup lama. “Kalau
hujan turun deras, warga langsung kami minta untuk mengungsi ke lokasi
pengungsian itu,” ucap Usman.
Dirinya mengatakan, pihaknya sudah memetakan kerawanan
untuk semua KK yang rawan itu. Yang paling rawan ada sekitar 34 KK yang memang
berada di pinggir tebing yang mengalami retakan. “Jarak tebing dengan rumah
warga terdekat dengan ketinggian sekitar 15 meteran saja,” jelasnya. Oleh
karena itu memang cukup rawan bencana.
Sementara itu, BPBD Jember kemarin siang kembali mendatangi
pengungsian tersebut. Meskipun sebelumnya sudah diberikan bantuan, namun karena
warga yang mengungsi hamper setiap sore sehingga barang kebutuhan pun sangat
kurang. Sehingga kemarin kembali ditambahkan bantuan kepada masyarakat
setempat. Diantaranya Terpal, matras, selimut, makanan tambahan gizi, lauk pauk
hingga berbagai peralatan masak.
Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD
Jember Heru Widagdo saat ditemui di lokasi, memang mengakui jika lokasi itu
sangat rawan. Bahkan, usai ditemukan retakan di lokasi, sebenarnya sudah
melakukan langkah-langkah mitigasi pengurangan resiko bencana. “Diantaranya kami
menutup retakan dengan plastik terpal,” jelasnya.
Hal ini diharapkan dapat mengurangi kejenuhan tanah
karena air hujan yang masuk. Sehingga bisa menghambat terjadinya longsor.
Bahkan beberapa retakan, katanya, juga sudah dilakukan penutupan. Namun,
diakuinya jika ini masih tetap rawan longsor sehingga sebagai langkah aman
dilakukan pengungsian tersebut. Pihaknya pun mengapresiasi kesigapan masyarakat
yang mengungsi ini. “Semoga saja tidak sampai terjadi bencana,” tandasnya.
(cw2)

0 komentar: