Kamis, 15 Februari 2018

Mahasiswa Bantu Ribuan Warga Lengkapi Dokumen Adminduk

SHARE

Jember, MotimNews. Ribuan warga Dusun Sumbercandik, Desa Panduman belum memiliki dokumen administrasi kependudukan (adminduk) lengkap. Sehingga banyak warga yang kesulitan beraktifitas terkait kebutuhan yang membutuhkan data adminduk.

Bahkan sejumlah warga mengakui, jika ada yang membutuhkan dokumen adminduk harus mengeluarkan sejumlah uang untuk kepengurusannya. Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Ketua PC IPNU Jember Aris Dermawan, Rabu siang (14/2).

Aris menyampaikan, kegiatan relawan yang terdiri dari 32 orang itu membantu para penduduk di Dusun Sumbercandik, Desa Panduman, untuk melakukan pengisian data adminduk pada formulir F-1.01 sebanyak 600 lembar yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Jember.

“Kami relawan yang tergabung dari Kampus Unej dan IAIN Jember ini, membantu warga Dusun Sumbercandik, Desa Panduman, terkait pengisian formulir untuk kelengkapan data adminduk. Meliputi KK (Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk), dan Akte Kelahiran. Sementara ini sudah 6 RT 2 RW yang kita data,” ujar Aris kepada Memo Timur.

Ia menjelaskan, terkait pendataan warga untuk dokumen adminduk, sementara ini pihaknya hanya menyelesaikan 600 formulir F-1.01. “Untuk data warga yang lain, kita masih akan berkoordinasi dengan Dispenduk, atau jika tidak memungkinkan, mungkin akan kita perbanyak sendiri. Karena warga yang ada di dusun ini jumlahnya hampir ribuan,” ungkapnya.

Alasan dibalik kegiatan yang dilakukan relawan mahasiswa tersebut, lanjut Aris, didasari oleh bentuk keprihatinan pihaknya, karena banyak warga di Dusun Sumbercandik, Desa Panduman yang belum memiliki dokumen adminduk lengkap.

“Kita dengar keluh kesah masyarakat, dan dari pengakuan warga jarang yang punya (data adminduk) lengkap. Sehingga kita lakukan kroscek dengan rekanan kami yang lain (sesama relawan sosial), dan diketahui memang iya (banyak warga yang tidak memiliki dokumen adminduk lengkap),” kata pria yang juga anggota Relawan Lembaga Ikatan Pelajar ‘nu youth care’ ini.

Sehingga diharapkan kegiatan yang dilakukan olehnya, katanya, dapat memberikan manfaat bagi warga di dusun tersebut. “Terungkap juga bahwa sejumlah warga, terkait pembuatan KK, atau KTP (dokumen adminduk), dimintai sejumlah permintaan bensin (pungli), dari oknum-oknum tertentu. Infonya untuk membuat KK biayanya Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu,” ungkapnya.

“Sehingga untuk menghindari keraguan warga, kami (para relawan) selalu menyampaikan bahwa kegiatan yang kami lakukan, adalah kegiatan sosial. Agar warga mendapatkan dokumen adminduk lengkap, dan gratis,” imbuhnya.

Lebih jauh Aris menyampaikan, terkait kegiatan yang dilakukan oleh relawan tersebut, tidak ada koordinasi yang dilakukan oleh perangkat desa setempat. “Dengan pihak desa sementara ini belum ada koordinasi terkait kegiatan yang kami lakukan. Tetapi jika dengan Dispenduk sudah. Melalui mbak Maya (salah satu relawan sosial Jember), yang membantu kita untuk mendapatkan formulir F-1.01 dari kantor Dispenduk sebanyak 600 lembar itu,” tandasnya.

Senada dengan yang disampaikan oleh Aris, salah satu warga Mulyadi (30) mengakui bahwa ada oknum yang secara sengaja meminta sejumlah uang, jika ingin mendapatkan dokumen adminduk.

“Untuk mendapatkan (dokumen adminduk) itu, harus membayar sejumlah uang. Ada yang Rp 50 ribu, ada juga yang Rp 100 ribu. Malah kalau sudah diuruskan itu, KK yang didapat gak tepat (datanya salah dan tidak sesuai),” ujar Mulyadi.

 Dirinya mengakui, saat ini data adminduk yang dipegang hanya KTP, sementara untuk Kartu Keluarga (KK) data yang ada tidak sesuai atau salah. “Saat itu saya diuruskan orang, datanya bukan dari RT ataupun RW. Pokok diuruskan orang, dan saya titip waktu itu. Bahkan ada di RT 2 yang membayar Rp 200 ribu, melalui kepala desa dan sampai sekarang belum jadi KKnya. Sudah 8 bulan menunggu,” tuturnya.

Sementara itu, saat Memo Timur mencoba meminta informasi dari perangkat Desa Panduman, Kepala Desa Panduman Winarko menyampaikan, terkait kegiatan yang dilakukan relawan mahasiswa di desanya tersebut, pihak perangkat desa mengetahui dengan dibuktikan ada surat izin yang masuk.

“Kegiatan adik-adik mahasiswa itu Insya Allah saya tahu, karena pakai surat kok (untuk melakukan kegiatan pendataan adminduk),” ujar Winarko saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Namun terkait adanya pungutan liar (pungli) untuk mengurus dokumen adminduk warga desanya, dan juga terkait banyaknya warga yang belum memiliki dokumen adminduk lengkap, Winarko, pihaknya menolak untuk menjelaskan. “Kalau itu mohon maaf saya tidak bisa menjawab,” ucapnya sembari langsung menutup sambungan telepon. (cw2)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: