Selasa, 16 Januari 2018

Buta dan Hidup Sebatang Kara, Kisah Misnadin Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

SHARE

Jember, Motim
Misnai alias Misnadin (52), salah satu warga Dusun Plalangan, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, mengalami kebutaan pada kedua matanya. Dalam kondisi seperti itu, dia menjalani hidup sendiri di rumah yang kini ditempati.

Menurut Misnadin, gangguan penglihatan (kebutaan) sekitar 5 tahun lalu untuk mata sebelah kiri. Sedangkan untuk mata sebelah kanan baru dapat 5 hari.

“Saya tidak mengetahui, berawal dari mana tidak bisa melihat. Tahu-tahu saat pagi hari, sudah tidak bisa melihat. Sampai saat ini kedua mata saya tidak pernah dilakukan operasi, karena saya hanya bekerja jadi buruh tani pada pemilik sawah. Selama ini juga, saya belum pernah melakukan pengobatan terhadap kedua mata,” ungkapnya, Senin (15/1).

Misnadin menuturkan, karena dia tidak bisa melihat otomatis tidak bisa bekerjas lagi. “Saya sekarang sudah tidak bekerja lagi seperti dulu. Gimana yang mau bekerja, sekarang sudah tidak bisa melihat. Apabila nanti ada program operasi mata gratis dari pemerintah, saya mau dioperasi asalkan gratisan. Karena jika ada biaya, saya tidak mampu,” tuturMisnadin.

“Untuk yang tinggal di rumah ini saya sendirian. Sedangkan saudara kandung saya ada tiga, rumahnya berada di sekitar sini. Untuk makan setiap hari, didapat dari kakak perempuan saya,” ungkapnya.

Salah satu tetangga, Agus Salim (29) mengatakan Misnadin hidup sendiri di rumah sejak ibunya meninggal beberapa tahun lalu. Misnadin mengalami gangguan penglihatan yang sebelah kiri sudah lama, kalau mata yang sebelah kanan baru beberapa hari lalu.

“Dia sempat nangis-nangis kemarin, karena kedua matanya sudah tidak bisa melihat sekitar 5 hari. Kemarin pagi menangis ke saya, mengeluh apa yang telah dialaminya. Saat masih sebelah kiri yang tidak bisa melihat, Misnadin tidak pernah mengeluh, hanya saja ketika kedua matanya tidak bisa melihat, baru dia sering mengeluh,” kata Agus.

Agus menjelaskan, untuk makan setiap hari terkadang dibantu dari tetangga. Terkadang juga dari kakak kandungnya yang perempuan.



“Untuk bantuan beras sejahtera didapat saat masih ada ibu kandungnya, sedangkan untuk saat ini sudah tidak mendapatkan lagi. Kalau nanti misalkan ada program operasi gratis dari pemerintah, pak mis mau ikut. Karena memang terkendala pada biaya operasi, karena melihat kondisinya kesulitan ekonomi. Sampai hari ini masih belum mendapatakan penanganan medis, mengingat pekerjaannya sebagai kuli atau buruh tani,” jelas Agus.

Sementara Kepala Desa Sukamakmur Sumardi mengatakan jika warganya itu sudah mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Beliau sudah mendapat fasilitas kesehatan dari pemerintah berupa KIS. Dia itu sudah lama menderita seperti itu. Bahkan dulu pernah ditawari ketua RT daerahnya, karena waktu itu ada pendataan operasi katarak sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Namun beliaunya tidak mau berobat, apa alasannya kita tidak tahu,” ucap Sumardi.

Sumardi menjelaskan,pemerintah sudah memberikan fasilitas pengobatan gratis. “Penderita penyakit tidak memiliki istri, kemungkinan itu alasan tidak mau berobat. Menurut informasi, saudaranya juga menderita gangguan penglihatan juga. Setelah staf desa ke rumahnya, akhirnya mau dia mau berobat. Alasan yang dulu tidak mau berobat saya tidak tahu, karena kita tidak bisa memaksa. Terpenting pemerintah sudah menyediakan fasilitas kesehatan gratis,” jelasnya.

Kita tinggal pihak keluarga yang harus peduli. Menurut Sumardi kalau menyangkut pemerintah sudah cukup dan sering sosialisasi pendataan, bahkan sering menawarkan untuk dilakukan operasi. Karena bila tidak mau, yang terkena pemerintahan desa sendiri. Mengira pemerintah desa tidak bergerak.

“Padahal sudah lebih dari satu tahun, Pak Mis sudah memeliki KIS. Kita nanti akan mengantarnya kerumah sakit, biar di cek dulu. Setelah siap, akan kita lakukan operasi. Saya tadi malam dengar, bahwa kakak yang perempuan juga mengalami kebutaan atau menderita katarak. Sekalian, kita nanti bawa juga nanti,” pungkasnya. (*)
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: