Jumat, 20 April 2018

19 TPS Masuk Daerah Rawan

SHARE
Bondowoso, MotimNews. Untuk mengantisipasi kerawanan dan gangguan keamanan serta perpecahan saat Pilkada serentak tahun 2018, Kepolisian Resor (Polres) Bondowoso menggandeng sejumlah tokoh lintas agama, ormas, dan para tokoh muda, guna menyatukan kembali semangat Pancasila di dalam keberagaman NKRI.

Acara dilaksanakan di Ballroom Hotel Ijen View dikemas dalam Forum Grup Diskusi (FGD) yang kedua kalinya bertajuk Bersama kita rajut keberagaman dan kebhinekaan berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Berbagai upaya Polres Bondowoso dalam Pilkada serentak untuk mengantisipasi kerawanan gangguan keamanan terus dilakukan. 

Menurut AKBP Taufik Herdiansyah Zainardi SIK, Kapolres Bondowoso, bahwa FGD mengajak semua elemen masyarakat, untuk merefresh kembali semangat Pancasila NKRI dalam keberagaman dan kebhinekaan. Hal ini juga upaya waspada terhadap kemungkinan sekecil apapun yang mengganggu jalannya Pilkada nanti

“Kita berharap kondusifitas masyarakat tetap terjaga dengan baik, karena begitu pentingnya kondusifitas dan keamanan tersebut. Alhamdulilah, walaupun sampai saat ini keadaan suhu politik semakin hangat tapi keadaannya tetap kondusif,” kata Taifik.

Lebih lanjut Taufik menjelaskan, Polres menggandeng semua elemen tokoh masyarakat dan tokoh agama guna selalu siap dan waspaya. Pihaknya berharap semoga pelaksanaan sampai menjelang pencoblosan dan sesudahnya kondisi Bondowoso tetap aman.

“Dari 1.500 TPS, ada 19 TPS masuk kategori daerah rawan dalam artian bukan daerah konflik, tapi lebih kepada lokasi perjalanan yang jauh,” ungkapnya lagi.

Sehingga daerah tersebut kata Taufik, tidak semudah seperti TPS yang ada di daerah perkotaan. Dari 19 TPS itu pola pengamanannya akan berbeda, juga penempatan jumlah personelnya juga berbeda bisa 1 TPS ada 2 anggota kepolisian. 

“Seperti daerah Penang dan Kecamatan Ijen yang lokasinya cukup jauh, sehingga dari hasil pencoblosannya tentunya menimbulkan kerawanan. Dikawatirkan nanti ada pihak-pihak yang memanfaatkan,” pungkasnya.

Sementara Busro, dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengatakan, persoalan itu bukan perkara mudah. Konteks keberagaman selalu diperhadapkan dengan momen Pilkada yang juga memunculkan politik identitas.

“Kita perlu bekerjasama merawat kebhinekaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pekerjaan ini sulit, tapi yang harus kita lakukan sekarang adalah saling menghargai, menghormati dan menunjukkan sikap toleransi sebagai warga negara,” tutur Busro. 

Lebih lanjut Busro berharap, para pemimpin sekarang dan ke depan dapat menjaga Bhineka Tunggal Ika serta tidak berpihak pada suatu kelompok tertentu. Dengan begitu, kebhinekaan dapat terjaga dan sesuai dengan dasar negara, Pancasila.

“Jadi, kita juga tidak boleh diam, dan sebagai generasi bangsa kita harus memberikan kontribusi dan pemikiran-pemikiran cerdas menyelesaikan permasalahan tersebut,” tandasnya.(cw3)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: