Kamis, 25 Januari 2018

Bupati ‘Titip’ Program Stop Berduka dan Getar Desa

SHARE

Bondowoso, Motim
Bupati Bondowoso, Drs. H. Amin Said Husni berharap program Stop Berduka yang merupakan upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso melalui Dinas Kesehatan dalam pelayanan persalinan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Hal itu dilakukan agar bisa menyelamatkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Bondowoso.

Hal ini disampaikan Amin Said Husni dalam acara Launching Stop Berduka di hotel Ijen View, Rabu (24/1) kemarin. Menurut dia, dukungan dari Kalaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (Kompak) program kemitraan Indonesia-Australia, khususnya Kabupaten Bondowoso sangat membantu. Khususnya, dalam rangka percepatan upaya kesehatan dan derajat masyarakat guna penyempurnaan dari program yang sebelumnya.

“Kita sudah lama mengkampanyekan program Kesehatan Reproduksi  (Kespro, red) sampai ibu bupati menjadi bunda Kespro sebagai figur yang terus mengkampanyekan Kespro. Sehingga masuk ke kampung dan desa di berbagai wilayah terpencil Kabupaten Bondowoso,” ujarnya.

Hal itu, lanjut Bupati, tentunya untuk meningkatkan derajat Kespro dan juga mengkampanyekan Persalinan Aman Inisiasi Menyusui Dini (Persamida) untuk mendorong persalinan kesehatan para Bidan serta mitra dukun bayi. Program yang selama ini telah berjalan dan melibatkan sinergi dari berbagai pihak yang lebih luas lagi melalui acara launching program stop berduka.  Hal ini, sebelumnya telah dilaksanakan di beberapa kecamatan dan akan dilanjutkan di Kecamatan yang lain.

“Tujuannya untuk terus menigkatkan rapor pembangunan kita atau yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang berlaku secara global di tingkat dunia. Salah satu komponennya adalah kesehatan masyarakat, terkait dengan angka harapan hidup yang semakin tinggi,” katanya

Dimaksud semakin tinggi, lanjut Bupati, maka semakin tinggi pula angka derajatnya dan tingkat kesejahteraannya. Untuk menekan harapan hidup ini, dituntut bersinergi dengan pihak yang lain karena kasus di Bondowoso masih tingginya AKI dan AKB.

“Kita harus tekan AKI, dan kita tekan sekecil mungkin agar akik-akik (kakek, red) meningkat,” tambahnya.

Dia berharap, dukungan kepada semua pihak untuk bersinergi secara total dan tidak hanya pada Bidan, melainkan juga kepada Rumah Sakit Umum (RSU), Kades, Tomas dan tokoh agama. Mengingat di Bondowoso masih tinggi AKI dan AKB yang disebabkan oleh berbagai faktor pertolongan dukun bayi pada kondisi yang mendesak. Karena kondisi geografis yang sulit, infrastruktur yang tidak mendukung dan keberadaan bidan desa yang presepsi ibu masih percaya kepada dukun.

“Ini yang masih memberikan andil persalinan yang tidak aman hingga menyebabkan tingginya AKI dan AKB. Kendati demikian ini harus terus disosialisasikan, sarana dan prasarana juga diperbaiki agar terjadinya persalinan dapat ditolong dan diberikan bantuan secara cepat dan aman,” sambungnya.

Lebih lanjut Bupati mengatakan, masih banyak pernikahan usia dini karena faktor budaya yang jauh dari jarak pantauan Pemkab Bondowoso. Secara logis,remaja tersebut masih belum siap secara mental dan fisik jasmani bahkan secara ekonomi.



“Sangat sedih ketika melihat anak remaja yang biasanya masih bersekolah menggendong bayi kecil, tapi masih punya anak yang masih belum kuat berjalan. Lebih sedih lagi ketika ditanya bapaknya sudah tiada karena cerai sehingga menjadi janda muda,” tambahnya lagi.

Bupati meminta harus bersinergi secara total yang melibatkan stakeholder dan pemangku kepentingan agar yang diinginkan pemerintah tercapai dengan baik.

“Capaian pembangunan saat ini sudah cukup baik. Angka IPM sudah mencapai 65,24 poin. Angka ini sudah lebih tinggi dari kabupaten di sekitar kita dan sudah diperingkat 31 capaian selama ini. Dulu Bondowoso berada di urutan 37 terendah dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Tetapi sekarang, Bondowoso berada di urutan ke 31,” tambahnya lagi.

Angka harapan hidup, lanjut Bupati, harus ditingkatkan di masa yang akan mendatang. Harapan hidup bukan hanya kepada bidan, perawat dan dukun. Akan tetapi sarana dan prasarananya menjadi tanggungjawab bersama. Bupati berharap kepada semua pihak harus bertekad bersama-sama terus mempercepat peningkatan pencapaian pembangunan Bondowoso tercinta ini.

“Saya titip dua program kepada Kades dan pihak-pihak yang telah mensupport kegiatan program Stop Berduka dan program Getar Desa. Kedua program tersebut adalah faktor untuk membentuk IPM yang sangat signifikan di bidang kesehatan dan pendidikan,” urainya.

Pencapaian yang sudah diperoleh dengan baik, kiranya dapat ditumbuhkembangkan pada masa akan datang. Sebab, tahun ini adalah tahun transisional atau transisi kepemimpinan.

“Saya akan berakhir September 2018 dan akan dilanjutkan oleh bupati berikutnya, untuk meningkatkan pembangunan yang kita lakukan sekarang,” pamitnya.

Bupati mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua undangan dan seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Bondowoso.

“Kalian semua yang paling berjasa untuk memajukan kabupaten Bondowoso. Berkat kerja keras kita semua, hingga kita capai keberhasilan yang baik sekarang ini,” pungkasnya. (cw3)
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: