AKI dan AKB Menurun
Bondowoso, Motim
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso, terus gencar melakukan sosialisasi program Sinergi Total Pencegahan Bersalin di Dukun Bayi dan Selamatkan Ibu atau dikenal dengan program Stop Berduka bertempat di Hotel Ijen View, Rabu (24/1) kemarin. Program ini dalam rangka mengajak semua insan kesehatan di Kabupaten Bondowoso untuk bersama-sama mencegah meningkatnya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Bondowoso.
"Dengan program ini, kami berharap AKI dan AKB di Bondowoso bisa diminimalisir, sehingga dengan memadukan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan non OPD, agar ada penurunan AKI/AKB," ujar Sekda Bondowoso, Drs. H. Hidayat, kemarin.
Acara yang dihadiri oleh ribuan undangan mulai dari Dinas Kesehatan, Forkopimda, tokoh masyarakat, bidan, Camat, Kepala Desa dan dukun beranak ini dikemas dengan praktek antara dukun dan bidan, baik pelaksanaan Stop Berduka serta pemberian penghargaan nominasi Stop Berduka di tiga kecamatan dan 3 desa. Dalam acara ini juga disampaikan adanya Peraturan Bupati (Perbup) tentang keterpaduan organisasi perangkat daerah dalam upaya penurunan Aki dan AKB.
“Melalui program persalinan Stop Berduka, program ini menjadi prioritas Dinas Kesehatan Bondowoso, yang telah dituangkan dalam peraturan tahun 2017. Upaya ini untuk menunjang program Pemerintah Bondowoso keluar dari daerah tertinggal,” ujarnya.
Sekda lebih lanjut mengatakan, tujuan program ini untuk melibatkan peran organisasi pemerintah daerah dan non pemerintah dalam keterpaduan pelaksanaan kegiatan untuk percepatan penurunan Aki dan AKB. Juga untuk menjaga kualitas serta pelayanan ibu dan bayi.
“Serta melindungi pasien dari malpraktek dan mempermudah akses pelayanan ibu hamil, melahirkan dan nifas serta bayi baru lahir disetiap desa, kecamatan dan Kabupaten. Mencegah dukun bayi menolong persalinan, perawatan bayi dan ibu bayi dari masa nifas,” terangnya.
Rangkaian kegiatan juga dilakukan penandatanganan dari tim Stop Berduka di tingkat kabupaten yang dihadiri oleh kepala OPD, ketua organisasi profesi, Camat, Kapolsek, Danramil khususnya di tiga Kecamatan Tlogosari, Sumberwringin dan Botolinggo. Dilanjutkan sosialisasi program dan membangun kesepahaman multy pihak untuk melaksanakan pelayanan kualitas ibu dan anak ditingkat kecamatan. Sinergi bersama non OPD sangat dibutuhkan yang telah menjadi sasaran tim Stop Berduka di beberapa kecamatan.
“Sinergi tiga pilar juga perlu ditingkatkan. Selama berjalannya program Stop Berduka pada tahun 2017 sudah mendapatkan hasil yang baik. Sehingga terjadi penurunan AKI dan AKB,” jelasnya.
Lebih lanjut Sekda mengatakan, pada tahun 2015 jumlah AKI 19 dan AKB berjumlah 167, tahun 2016 jumlah AKI 20 dan jumlah AKB 178, di tahun 2017 mengalami penurunan yaitu jumlah AKI 15 dan jumlah AKB 140. Selain itu, program Stop Berduka juga mendorong kemitraan antara dukun melalui pelayanan ibu dan bayi dalam standart kemitraan. Pada tahun 2015 jumlah dukun ada 552 dan dukun yang bermitra 441, persalinan oleh dukun 797. Tahun 2016 480 yang bermitra 434 persalinan oleh dukun 510 dan tahun 2017 dukun 475 yang bermitra 438 persalinan oleh dukun 316.
“Program Stop Berduka dilaksanakan dari permasalahan terkait tingginya AKI dan AKB dan persalinan yang ditolong oleh dukun. Baik dukun yang aktif dari keterpaksaan karena kondisi yang mendesak akibat dari buruknya infrastruktur dan keberadaan bidan desa karena presepsi ibu yang masih negatif terhadap Bidan,” tambahnya.
Penyebabnya juga masih tingginya angka pernikahan anak di usia dini dengan alasan budaya. Maka peran pemerintah desa dalam dukungan ibu hamil harus secara kultural dan berkelanjutan. Sehingga program stop berduka saat ini masih fokus pada komponen kemitraan dukun dan bidan, untuk menjaga pergeseran persalinan dukun dari fasilitator pemeriksaan kehamilan mendorong kesehatan ibu hamil serta nifas.
“Pada tahun 2017 program Stop Berduka telah dicoba di delapan kecamatan dari 23 kecamatan. Sehingga tahun 2018 akan diadakan replikasi di beberapa kecamatan,” pungkasnya. (cw3)

0 komentar: