Sabtu, 10 Februari 2018

Ratusan Santriwati Mengungsi

SHARE
Jember, Motim. Akibat luapan air sungai di antara Desa Jatian dan Desa Pakusari, Kamis malam (8/2), 15 asrama putri di Pondok Pesantren Putri Islam Bustanul Ulum (Ponpes IBU) Pakusari terendam banjir. Sehingga sekitar 315 santriwati terpaksa diungsikan di masjid dan sejumlah lembaga pendidikan yang ada di sana.
Sehingga Jumat (9/2), sejumlah aparat baik dari TNI, Kepolisian, Relawan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta aparat desa setempat dengan dibantu para santri melakukan bersih-bersih. Pasalnya, akibat banjir yang terjadi membuat asrama ini menjadi penuh lumpur dan membuat bangunan menjadi kotor.
Menurut Pengasuh Ponpes IBU Pakusari, M. Hafidi kepada sejumlah wartawan, kejadian ini bermula sekitar pukul 13.30 WIB Kamis siang (8/2). Dimana sungai pemisah antara Desa Jatian dan Desa Pakusari yang membelah pondok tersebut tiba-tiba naik. “Siang hari sebelum hujan itu airnya sudah keruh dan sudah naik,” jelas Hafidi. Sepertinya memang di hulu ada hujan deras yang terjadi.
Hal tersebut kemudian diperparah dengan hujan deras didaerah tersebut siang hari sehingga membuat air semakin naik. “Karena di hulu terjadi penyempitan sungai ini. Kalau di area pondok lebarnya sekitar 3 meter. Tapi di hilir hanya 1,5 meter,” ucapnya. Benar saja, airpun meluap dan membanjiri pondok asrama putri sekitar pukul 15.30 WIB. Banjir yang baru terjadi pertama kali di lembaganya ini pun membuat sejumlah penghuni heboh.
Apalagi, banjir yang datang pertama sudah menghanyutkan sepatu dan sandal santri yang ada di depan kamar asrama. Lalu kemudian air ini mulai masuk kedalam asrama. Para santriwati ini yang kebanyakan masih remaja ini pun langsung berusaha untuk dipindahkan dari asrama untuk menuju ke sejumlah lokasi yang lebih tinggi. Mereka pun diungsikan ke masjid dan sejumlah ruangan lembaga pendidikan yang ada di dalam pondok.
“Jadi kami fokus menyelamatkan santri putri dulu,” ucap pria yang juga Ketua Komisi D DPRD Jember ini. Saat hendak mengungsikan tersebut, pihaknya dibantu aparat dan BPBD yang turun ke lokasi pun langsung membantu evakuasi tersebut. Sehingga memang tidak ada korban jiwa dalam banjir tersebut.
Meskipun demikian, kejadian masuknya air yang cepat membuat sejumlah barang-barang milik santri tidak bisa diselamatkan. Karena air yang masuk cepat dan deras membuat barang-barang santri pun ikut hanyut dalam banjir itu. “Sandal, baju dan sejumlah barang santri banyak yang hanyut terbawa air,” terangnya.
Menurut Hafidi, air yang masuk ke areal pondok tersebut pun terus meninggi karena hujan tidak kunjung berhenti. Bahkan, semakin malam kondisi air yang masuk ke kawasan pondok semakin deras. Untuk ketinggian air tersebut mencapai sekitar 40-50 cm hingga malam hari. “Air mulai surut setelah isyak. Sekitar pukul 19.30an,” jelasnya.
Dimana meskipun surut, diakui Hafidi ada sekitar 15 asrama yang kebanjiran. “Dua asrama di Desa Pakusari dan 12 Asrama di Desa Jatian,” tutur Hafidi. Untuk setiap asrama ada sekitar 20-30 santriwati. Sehingga dari 15 asrama itu, totalnya ada 315 santriwati yang menjadi penghuni yang terpaksa harus mengungsi terlebih dahulu.
Meskipun sudah surut, diakuinya, sejak semalam santriwati ini masih belum bisa kembali ke asramanya sehingga tinggal di masjid dan sejumlah lembaga yang ada disana. Pasalnya, kondisi asrama masih sangat kotor dan harus dibersihkan dahulu. Dan malam hari tidak memungkinkan untuk dilakukan hal itu.
“Santri bahkan semalam sudah dicek kesehatan oleh puskesmas setempat. Khawatir aja yang sakit,” jelasnya. Setelah dipastikan sehat, sejumlah santri pun tinggal di lokasi evakuasi ini. Sehingga baru pagi hari para santri melakukan bersih-bersih asramanya untyuk bisa ditinggali lagi seperti biasanya.
Menurut Hafidi, kejadian ini baru pertama kali terjadi di lembaganya. Dirinya menuturkan sebenarnya untuk aliran sungai yang membelah pondoknya sudah dilebarkan menjadi 3 meter. Namun, karena di hilir lebarnya masih 1,5 meter, sehingga air tidak bisa lancar. Inilah yang membuat aliran sungai kemudian meluap dan membanjiri areal pondok pesantren IBU Pakusari.
Sementara itu, Plt Kepala BPBD Jember Widi Prasetyo menuturkan pihaknya langsung menerjunkan tim saat kejadian banjir. Selain membantu pengungsian, pihaknya juga menyediakan matras untuk tempat tidur santri yang diungsikan. “Pagi hari juga membantu bersih-bersih. Kami tadi juga menyerahkan sejumlah alat kebersihan untuk pondok,” pungkasnya. (sp)

Teks foto : Bangunan rusak akibat hujan lebat dan banjir
File foto : Banjir sanenrejo
Rusak Sejumlah Bangunan 
Hujan dengan intensitas tinggi juga terjadi  di Dusun Mandilis, Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo, menyebabkan banjir di beberapa tempat. Akibatnya, sejumlah bangunan mengalami kerusakan.
“Kejadian banjir di wilayah Sanenrejo itu karena hujan dengan intensitas tinggi, sehingga menyebabkan beberapa bangunan mengalami rusak parah. Di mana debit air sungai meluap ke pekarangan warga dan juga beberapa lahan milik petani,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Jember, Heru Widagdo, Jumat (9/2).
Menurut Heru, hujan terjadi di daerah Tempurejo mulai siang hari. Lalu sekitar pukul 16.30 WIB air sungai meningkat, sehingga mengakibatkan Berm sungai tergerus dan memindahkan aliran sungai ke lahan milik warga.
“Air tidak hanya masuk ke beberapa pekarangan warga, tetapi juga merobohkan salah satu rumah warga dan merobohkan satu tiang listrik. Bukan hanya itu saja, tetapi banjir tersebut juga merusak beberapa bangunan plengsengan sungai dan beberapa hektar lahan pertanian warga. Sedangkan untuk korban jiwa tidak ada atau nihil,” ujar Heru.
Heru mengatakan, mendapat laporan kejadian yang menimpa warga Sanenrejo, keesokan harinya langsung menuju ke lokasi banjir untuk melakukan proses assesment. “Kami bersama Tim BPBD hari Jumat (9/2) mendatangi lokasi banjir itu, serta melakukan assesment dan melakukan pendistribusian bantuan,” terang Heru.
Sementara salah satu warga Desa Sanenrejo, Ridwan (29) mengatakan memang kejadian banjir itu akibat curah hujan yang deras di wilayahnya. Namun tidak menutup kemungkinan jika hujan di sekitar hulu juga lebat. Sehingga air dari aliran sungai, berdampak ketinggian di aliran sungai yang di hilir.
“Kemungkinan saja hujan lebat juga terjadi di wilayah aliran sungai hulu, sedangkan yang terdampak di wilayah kami di Desa Sanenrejo. Karena merupakan hilirnya aliran sungai,” tutur Ridwan. (*)



SHARE

Author: verified_user

0 komentar: