Jumat, 09 Februari 2018

Lansia Keluhkan Program Bedah Kamar

SHARE


Jember, Motim - Program bedah kamar Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Jember dikeluhkan oleh sejumlah lansia. Sebab program tersebut tidak sesuai dengan kriteria kamar layak huni yang sehat. Selain itu, lansia yang menerima program bedah kamar mengalami kesulitan untuk membayar pekerja yang melakukan renovasi kamar.

Pantauan Memo Timur, sejumlah lansia yang mengeluhkan program bedah kamar tersebut berada di Desa Gumuksari, dan Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat. Didapati bahwa kamar yang ditempati kondisinya lembab. Selain itu, dipan kayu yang diberikan oleh Dinsos kini kondisinya berjamur dan kamarnya juga tidak memiliki pintu yang sesuai dengan spek.

“Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan program bedah kamar, yang saya terima hanya material, yakni semen, paku usuk, kayu usuk, calsiboard, bata, keramik, dipan (tempat tidur, red), paku calsiboard, dan pasir,” ujar Satini (70) lansia yang mendapatkan bantuan program bedah kamar, Kamis (8/2).
“Namun saya kesulitan dengan membayar tukangnya, ade’ pesenah, ambulah (tidak dianggarkan juga, akhirnya tukangnya berhenti),” sambungnya kecewa.



Sementara pengerjaan yang dilakukan juga belum selesai sepenuhnya. Sebab sisa-sisa material, kata Satini, masih ada di belakang rumah. “Akhirnya pasrah dengan kondisi yang ada. Kamar bukan diperbaiki, tembok hanya dikuliti, dari lantai ke atas hanya dipasangi bata setinggi 60 sentimeter, atasnya ditembok hanya dengan calsiboard. kamar pun juga lembab,” ucapnya kecewa.

Sementara itu lansia yang lain Enjah (63), juga mengalami hal yang sama. Namun anehnya, untuk pengerjaan rumah milik Enjah dibantu oleh tukang yang disediakan oleh Dinsos. “Untuk kamar saya ya begitu itu kondisinya, diberi jendela tetapi ukuran luasnya kurang lebih 30 sentimeter. Untuk kondisi kamar lembab, dan kasurnya (dipan,red) sudah berjamur. Namanya dikasih saya syukuri,” ungkapnya.
“Untuk tukangnya, sudah ada dan mengerjakan kamar saya itu,” imbuhnya.

Selain diketahui kondisi kamar para lansia tersebut tidak layak huni. Saat Memo Timur mencari informasi terkait kelengkapan material yang disiapkan untuk pengerjaan bedah kamar tersebut. Diketahui juga bahwa sejumlah material tidak sesuai dengan spek yang tercatat dalam laporan.

“Seharusnya Keramik untuk bedah kamar, mestinya 9 dos, tapi dapatnya malah 7 dos. Semen mestinya dapat 8 sak, dapatnya hanya 5 sak. Kita gak tau kenapa hanya dapat segitu tiap penerima, saya hanya menyerahkan saja,” ujar Ketua Karang Weda Desa Gumuksari Sumiati.

Diakui Sumiati, tidak ada koordinasi terkait program bedah kamar tersebut dengan perangkat desa setempat. “Koordinasinya hanya dengan kami (Karang Weda) yang mengetahui jumlah lansia di wilayah desa. Tidak melalui perangkat desa,” ungkapnya.
Diakui juga oleh Sumiati, selain mendapatkan program bedah kamar, para lansia juga menerima sembako dari Dinsos Jember. “Tetapi di luar program bedah kamar,” katanya.

Menanggapi keluhan lansia tersebut, Kepala Dinsos Kabupaten Jember Insnaini Dwi Susanti menyampaikan, terkait spek material yang disiapkan oleh Dinsos sudah sesuai dengan catatan. “Namun kami tidak menyediakan tukang untuk proses bedah kamarnya. Kami hanya menyediakan material bahan bangunan bagi para lansia tersebut,” ujarnya.

Terkait jumlah material bangunan yang kurang, kata wanita yang akrab dipanggil Santi ini, pihaknya siap untuk menambah kekurangan. “Nanti kami akan kroscek ke lapangan, dan jika ada material yang kurang, akan kami tambahkan sesuai kekurangan yang ada. Kami hanya mengetahui sesuai laporan, jadi tidak tahu jika ada kekurangan bahan,” tandasnya. (cw2)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: