Jember,
MotimNews. Sejumlah
kasus intoleran belakangan ini sering terjadi. Hal ini tentunya mengancam
semangat persatuan dan kesatuan bangsa ini. Karena itu, Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB) Jember langsung mengambil sikap untuk merapatkan barisan.
Mereka berkomitmen tinggi untuk bersama menjaga stabilitas keamanan dan
kerukunan di masyarakat Jember.
Sejumlah tokoh lintas agama berkumpul melakukan
koordinasi FKUB kemarin siang. Menurut Abdul Muis, Ketua FKUB Jember, rapat
koordinasi ini dilakukan karena munculnya sejumlah kejadian intoleransi di
sejumlah tempat di Indonesia. Dalam rapat itu, ditentukan sikap FKUB Jember
terkait dengan sejumlah aksi kekerasan yang terjadi di Indonesia.
Ada lima poin yang disepakati menjadi pernyataan sikap
dari FKUB Jember. Pihaknya mengecam keras kekerasan terhadap kyai dan ustadz di
Jawa Barat serta penyerangan gereja di Jogjakarta, serta aksi-aksi lainnya yang
terjadi di sejumlah daerah akhir-akhir ini.
“Kami mengecam tindakan kekerasan terhadap kejadian
itu,” tegas Muis. Karena kejadian yang terjadi ini sudah melukai semangat
kebhinekaan dan nasionalisme yang ada selama ini di masyarakat. Muis mengecam
keras segala bentuk kekerasan dengan mengatasnamakan agama yang justru
berpotensi mengadu domba antar pemeluk agama. Padahal selama ini toleransi
antar umat beragama sudah terjalin dengan sangat baik.
Sehingga kejadian ini menjadikan keresahan tersendiri
di masyarakat dan mengancam disintegrasi bangsa. “Yang kedua meminta presiden
dan pemerintah untuk memporses kasus itu sesuai dengan hukum yang ada,”
tegasnya. FKUB juga mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas dan
memberikan sangsi tegas kepada para pelakunya.
Selain itu juga meminta untuk proses peradilan ini
dilakukan secara adil dan terbuka. Dengan harapan masyarakat bisa memantau
perkembangan yang dilakukan oleh aparat hukum secara terang, untuk memberikan
keadilan bagi masyarakat luas terkait tindakan hukum yang diambil.
Pihak FKUB juga menghimbau kepada masyarakat,
khususnya di Jember untuk bisa menahan diri sehingga tidak terprovokasi dengan
kejadian yang terjadi di sejumlah daerah tersebut. “Masyarakat harus bisa
menahan diri sehingga tidak sampai terjadi hal-hal yang menimbulkan keretakan
kerukunan di masyarakat,” jelasnya.
Dengan kata lain, pihaknya berharap kejadian ini tidak
sampai menyebar kepada masyarakat lainnya di Indonesia, termasuk Jember. Karena
memang perbuatan ini dapat memicu kekerasan berbau SARA (Suku Agama Ras dan
Antar Golongan) dan mengadu domba antar umat beragama.
Bukan hanya itu, pihaknya juga mendesak kepada bupati
beserta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk lebih
merapatkan barisan. “Terutama untuk menjaga stabilitas keamanan di Kabupaten
Jember,” tegasnya. Hal itu menyusul peristiwa penganiayaan terhadap kyai dan
ustadz serta penyerangan gereja.
Bukan tanpa alasan pihaknya mendesak ini kepada Pemkab
Jember. Pasalnya, Jember juga memiliki pengalaman pahit tentang konflik SARA
ini. Diantaranya diakui atau tidak, masyarakat Jember masih trauma dengan isu
santet tahun 1998 di Banyuwangi yang juga berimbas kepada kerukunan umat beragama
di Kabupaten Jember.
Karena itu FKUB menghimbau kepada seluruh masyarakat
untuk menahan diri dan tidak mudah terprovokasi aksi-aksi kekerasan yang
mengatasnamakan agama. “Semoga saja Jember tetap selalu aman dan damai serta
kerukunan antar umat beragama bisa tetap terjaga,” pungkasnya. (sp)

0 komentar: