Lumajang, Motim. Di era kemajuan digital yang berkembang pesat, informasi mudah tersebar secara luas dan cepat. Namun tidak semua informasi yang tersebar, sesuai dengan kebutuhan maayarakat. Karena tak sedikit diantaranya adalah informasi yang tidak penting. Serta informasi tidak benar atau berita bohong dan kini dikenal dengan hoax.
Dewan pers sendiri telah menyampaikan jika berita yang tidak benar atau tidak sesuai fakta adalah hal yang berbahaya bagi masyarakat. Terlebih jika isinya adalah fitnah, bisa memicu konflik. Karena ada ketersinggungan antar satu dengan yang lainnya.
Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat & Penegakan Etika Pers Imam Wahyudi menyampaikan, berita hoax sudah banyak beradar sekarang. Dan sulit dibendung. Karena jumlahnya tak lago terhitung. Terlebih memanfaatkan media sosial, membuat masyarakat awam sulit membedakan mana yang benar dan mana yang bohong.
Untuk mengatasi hal itu, Imam menegaskan, ketahanan informasi perlu diperkuat. Masyarakat harus cerdas memilih dan memilah informasi yang benar dan bukan. Apalagi di era demokrasi, masyarakat harus berpikir demokratis tentunya.
"Sekarang era demokrasi, cara berpikir berbeda," katanya saat menghadiri diskusi dengan sejumlah wartawan Lumajang di Kantor Sekretariat Forum Komunikasi Wartawan Lumajang (FKWL), Jumat (2/2).
Melalui ketahanan imformaai, masyarakat harus cerdas dalam menelaah dan mengkaji informasi yang tersebar. Harus dipastikan informasi itu benar adanya. Jelas sumbernya darimana. Dengan cara melakukan riset kecil-kecilan atau membandingkan dengan sumber inforasi lainnya.
"Publik harus bisa menelaah dan mengkaji informasi," ungkapnya.
Di era digital ini, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memastikan informasi itu benar. Dengan memanfaatkan, teknologi tentu bisa dengan mudah memastikan. "Bisa buka di google atau sebagainya," kata dia.
Bagi wartawan sendiri, Imam menghimbau agar dalam pembuatan karya jurnalistik tidak dengan mudah memasukkan sumber informasi dari media sosial. Jikapun harus, maka harus ada verifikasi dan memastikan informasi itu akurat.
"Kita menolak keras pada wartawan yang menulis berita hanya bersumber media sosial. Tanpa terkomformasi," katanya. Ia menyebut media sosial sulit dipertanggungjawabkan. Terlebih sumbernya tidak jelas.
Imam menambahkan, apalagi di Lumajang menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), bukan tidak mungkin ada banyak informasi yang dapat memicu terjadinya konflik. Saling memojokkan antar kelompok. "Tentu hal ini membahayakan," kata dia.
Untuk itu wartawan harus berperan sebagai tonggak informasi. Menyampaikan kebenaran dan memberikan edukasi pada masyarakat melalui informasi yang berimbang dan bermanfaat. "Selain informasi, wartawan juga harua bisa mengedukasi," ungkapnya. (fit)
0 komentar: