Rabu, 24 Januari 2018

Tak Punya Lengan, Menulis dengan Kaki, Pelajar Penyandang Disabilitas Bercita-cita Jadi Dokter

SHARE


Jember, Motim
Sulastri Hasanah, bocah asal Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa itu, mengalami cacat fisik bawaan sejak lahir dengan tidak memiliki lengan tangan. Namun meskipun dengan kondisi keterbatasan itu, Sulastri enggan untuk merepotkan orang lain bahkan keluarganya.

“Saya ingin menjadi dokter, juga ingin membahagiakan kedua orang tua,” ujar siswi kelas VI di SDN Kemuning Lor 2 itu, saat ditemui Memo Timur di sekolahnya, Selasa siang (23/1).

Dengan kondisi tidak memiliki lengan tangan, Sulastri tetap belajar layaknya anak-anak seumurannya, bahkan mampu mengikuti setiap pelajaran yang disampaikan oleh gurunya di depan kelas. “Saya paling suka pelajaran IPA, karena ada materi tentang mahluk hidup. Makanya saya ingin menjadi dokter, karena bisa membantu sesame mahluk hidup,” ujar Sulastri saat sedang belajar di kelasnya.

Untuk menulis catatan pelajaran yang diberikan oleh gurunya, Sulastri tetap bisa menulis. Namun karena tidak memiliki lengan tangan, Sulastri menulis dengan menggunakan kakinya.

Sulastri kecil mengaku, awalnya dia kesulitan untuk menulis dengan dua kaki. Namun kakaknya lah yang terus memberikan dukungan, dan membantu Sulastri untuk bisa menulis dengan baik, meskipun menggunakan kakinya.

“Diajari mas saya nomor dua, mas Niman (untuk belajar menulis menggunakan kaki). Awalnya kesulitan, tapi lama – lama nggak. Sekarang sudah terbiasa,” kata putri bungsu dari empat bersaudara pasangan Nisin dan Maati itu.

Setiap harinya berangkat sekolah, Sulastri tidak pernah diantar oleh saudara ataupun kedua orang tuanya. Dia berangkat sekolah bersama dengan teman-temannya yang lain dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam. Maklum saja, dia tinggal di kawasan perkebunan yang masuk agak pelosok.

“Jalan kaki. Berangkat sekitar pukul setengah enam. Nyampek sekolah setengah tujuh,” kata bocah perempuan yang tinggal di kawasan perkebunan Rayap, Kecamatan Arjasa itu.

Keseharian Sulastri di sekolahnya, ia mengaku tak mengalami banyak kendala dalam menerima materi pelajaran, ataupun dalam hal bergaul dengan teman-temannya. Siswi yang setiap di kelas duduk di bangku paling depan itu, merasa semua materi dan tugas sekolah bisa dijalankan dengan baik.

Demikian juga dengan teman – temannya di sekolah. Tak ada yang mengolok-olok kondisi fisiknya. Justru mereka sering menawarkan bantuan ketika melihat Sulastri mengalami kesulitan karena kondisi fisiknya.

“Teman – teman saya baik. Mereka kadang menawarkan bantuan. Tapi saya berusaha untuk mandiri,” katanya. Alasan itu diutarakan olehnya, karena dengan bersikap mandiri dia kan bisa lebih percaya diri, dan tidak minder saat bergaul dengan teman-temannya yang lain.

Seperti halnya sekolah SD di mana dia menimba ilmu sekarang, Sulastri nanti juga ingin meneruskan sekolah ke jenjang SMP umum, Bukannya sekolah yang dikhususkan bagi penyandang disabilitas.

“Saya ingin meneruskan sekolah ke SMP Negeri 2, nggak apa – apa meski jalan kaki,” katanya sambil tersenyum manis.

Sementara itu saat ditemui secara terpisah, Kepala SDN Kemuning Lor 2 Arjasa Eni Susilowati mengakui, Sulastri termasuk siswi yang cerdas di kelasnya. Kemampuan Sulastri juga di atas rata – rata.

“Dia juga termasuk siswi yang mandiri. Meski kondisinya seperti itu, dia tidak mudah begitu saja menerima bantuan dari orang lain. kalau masih bisa dia lakukan sendiri, ya dia lakukan,” kata Eni.

Pihak sekolah sendiri tidak pernah membeda-bedakan Sulastri dengan teman-temannya yang lain. Karena Sulastri selalu percaya diri, dan nyaman di sekolah meski menyandang disabilitas dan berbeda dengan teman-temannya. Salah satu yang dilakukan sekolah untuk memenuhi kebutuhan Sulastri dalam belajar di kelas, yakni menyediakan meja belajar khusus bagi Sulastri.

“Mejanya agak pendek, biar tidak kesulitan dalam menulis (Karena Sulastri menulis dengan menggunakan kaki). Itu bantuan dari Dinas Pendidikan,” kata Eni. (cw2)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: