Jember,Motim
Semangat Sulastri Hasanah dalam menuntut ilmu terbilang
tinggi. Dia rela berjalan kaki dari rumah ke sekolahnya yang membutuhkan waktu
sekitar satu jam. Bahkan meskipun berasal dari keluarga kurang mampu, Sulastri
tidak pernah minder dan selalu percaya diri dengan kondisi fisik yang dimiliki
olehnya.
Sulastri merupakan siswi kelas VI di SDN Kemuning Lor 2
Kecamatan Arjasa. Dengan kondisi fisik yang kurang dan merupakan penyandang
disabilitas. Sulastri tetap percaya diri, dan bersekolah di sekolah negeri umum
layaknya anak-anak normal seumurannya.
“Berangkat pukul setengah enam, sampai di sekolah setengah
tujuh,” kata siswi yang mahir menulis dengan kaki karena tak memiliki dua
lengan itu.
Sulastri tinggal di kawasan perkebunan Rayap, Kecamatan
Arjasa. Ayahnya, Nisin, sehari-hari bekerja sebagai pencari rumput. Sedangkan
ibunya, Maati, tidak bekerja dan hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga. Sulastri
sendiri merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.
“Kakak pertama laki-laki, yang kedua perempuan. Mereka sudah
menikah, dan bekerja di Bali. Yang masih sekolah kakak yang nomor tiga dan
saya,” kata bocah cilik itu, Selasa (23/1/2018).
Sulastri termasuk keluarga dari ekonomi yang pas-pasan.
Pekerjaan sang ayah sebagai pencari rumput,
membuat Sulastri harus hidup dengan suasana penuh kesederhanaan. Demikian juga
dalam pergi ke sekolah. Bocah umur 12 tahun itu tak mengeluh meski harus berangkat
sekolah dengan berjalan kaki.
“Saya tidak tahu jaraknya berapa, pokoknya satu jam jalan
kaki. Nggak apa-apa, yang penting bisa sekolah. Jalannya juga kadang
ramai-ramai sama teman-teman,” kata pelajar yang bercita-cita jadi dokter ini.
Meski memiliki keterbatasan fisik, namun Sulastri bertekad
untuk mewujudkan impiannya menjadi dokter. Selepas SD, dia ingin meneruskan ke
salah satu SMP favorit di Jember.
“Pinginnya masuk SMP Negeri 2 Jember, nggak apa-apa meski
berangkat dan pulangnya harus jalan kaki,” katanya sambil tersenyum.
Kepala SDN Kemuning Lor 2, Arjasa, Eni Susilowati mengakui
Sulastri memang dari keluarga kurang mampu. Oleh karena itu, setiap ada program
bantuan dari pemerintah untuk pelajar di sekolahnya, nama Sulastri selalu masuk
dalam daftar penerima.
“Setiap ada bantuan pemerintah untuk siswa di sekolah ini,
Sulastri selalu kita ikutkan. Namanya pasti masuk,” kata Eni.
Dengan kondisi ekonomi yang kurang tersebut, lanjutnya,
diharapkan ada donator atau pihak ketiga yang mau membantu kondisi ekonomi
Sulastri. “Dia punya cita-cita mulia menjadi seorang dokter, semoga cita-cita
itu tercapai, dan Sulastri menjadi sesuai dengan yang dicita-citakan,” katanya.
Sementara itu, salah satu teman Sulastri di kelas Nurul Huda
(11) menyampaikan, sejak kelas 1 selalu sekelas dengan Sulastri. “Kita selalu
belajar bersama dan main bareng. Sulastri juga pintar, dan belajar bersama.
Kita sering belajar Matematika dan IPA. Kalau Sulastri gak bisa mengerjakan,
kami saling bantu,” tuturnya. (cw2)

0 komentar: