Pengurus PGRI Dibius di Jalan, Mengalami Trauma dan Ketakutan
Jember,Motim
Kasus pembiusan yang dialami oleh salah satu pengurus PGRI Kalisat membuat korban trauma dan ketakutan. Bahkan pihak keluarga sempat meminta agar peristiwa itu tak diberitakan. Pihak keluarga beralasan, supaya lebih aman dan tidak ada upaya balas dendam dari pelaku pembiusan tersebut.
Sebelumnya, Memo Timur berupaya untuk mencari data jelas mengenai korban pembiusan yang dialami oleh Pengurus PGRI Kalisat tersebut. Saat ditemui secara langsung, korban pembiusan didampingi oleh suaminya untuk menjelaskan tentang kronologis dari kejadian yang dialami tersebut.
“Saat itu saya pulang dari koleman (acara pernikahan). Saat sampai di jalan menurun, handphone (HP) yang saya gunakan untuk menelepon suami saya terjatuh tanpa sengaja. Saya kemudian menghentikan motor dan bermaksud untuk mengambil HP,” ujar WT kepada Memo Timur, Senin (15/1).
Ia menjelaskan, saat mengambil HP itu tiba-tiba dari belakang ada yang membekap. WT saat itu sempat merasakan tangan pembekapnya beraroma seperti AC mobil. “Langsung saya pingsan, dan tidak sadar apa yang terjadi selanjutnya. Sempat tidak lama itu, saya sadar. Tetapi oleh pelaku yang tidak tau berapa jumlahnya, dan siapa orangnya, tiba-tiba saya dibekap lagi dengan aroma AC yang sama, dan saya pingsan lagi,” ungkap WT.
Suami WT, BB, yang mengetahui suara istrinya hilang karena tiba-tiba sambungan telepon putus, berusaha mencari dan berusaha menghubungi kembali nomor handphone milik istrinya.
“Saat dihubungi itu tidak diangkat, dan di WA pun tiba-tiba ada balasan dari nomor istri saya. Tetapi itu bukan dari istri saya, karena saya mengenali tulisannya. Memberikan informasi katanya istri saya ada di Masjid di depan toko roti. Setelah kesana tidak ada, saya kembali menghubungi dan disampaikan bahwa istri saya ada di Masjid Nuris,” jelas BB.
BB pun mendapati istrinya sudah tidak sadarkan diri di teras Masjid depan Pondok Pesantren Nuris. “Segera saya bawa pulang, dan sempat saat saya bawa itu istri saya ketakutan. Tetapi Alhamdulillah istri saya tidak apa-apa. Motor dengan STNK ada, perhiasan lengkap dan dicopoti, tetapi ditaruh dalam tas, dan handphone ada semua. Tetapi yang hilang uang Rp 6 juta di dalam tasnya itu,” sebut BB.
“Padahal uang itu milik kecamatan, punya orang banyak. Tetapi ya sudahlah! yang penting istri saya selamat, dan kedua anak saya tidak khawatir kehilangan ibunya,” sambungnya dengan raut bersedih.
BB mengaku akan berupaya untuk mencari pengganti uang Rp 6 juta yang raib tersebut. “Masalah uang nanti akan saya cari penggantinya. Semoga kejadian ini tidak sampai terulang,” katanya.
Dengan adanya musibah tersebut, BB dan keluarga juga menyampaikan untuk tidak memperpanjang persoalan tersebut ke ranah hukum atau pun melacak keberadaan uang Rp 6 juta yang raib tersebut. Selain itu, dia juga meminta agar terkait peristiwa yang dialami oleh istrinya tidak diberitakan di media.
“Ini musibah bagi saya dan keluarga, saya akan mengikhlaskan. Karena saya tidak ingin keluarga saya terancam, dan agar suasana tetap aman. Jika media ingin tahu kronologisnya kejadian, saya ceritakan! Tetapi tidak untuk diberitakan,” tuturnya. (cw2)

0 komentar: