Jember, Motim
Bermaksud pulang ke rumah setelah menghadiri acara pernikahan, salah seorang pengurus PGRI Kalisat, TW (50), dibius orang tidak dikenal. Uang senilai Rp 6 juta yang ditaruh dalam tas raib. Sementara motor dan perhiasan korban tak diambil pelaku.
Ketua PGRI Kalisat Yoyok Tri Basuki saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, membenarkan tentang adanya kasus pembiusan yang dialami oleh salah satu pengurus PGRI tersebut.
“Kasus adanya pembiusan dan mengakibatkan raibnya sejumlah uang itu benar adanya. Namun beruntung, korban segera ditemukan oleh suaminya dan segera diamankan setelah ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah masjid di dekat Ponpes Nuris,” ujar Yoyok, Senin pagi (15/1).
Ia menjelaskan, berdasarkan penuturan yang disampaikan korban kepadanya, saat itu korban bermaksud untuk pulang ke rumah, setelah sebelumnya datang ke sebuah acara pernikahan koleganya.
Sebelum pulang, lanjutnya, korban juga menuju ke sekolah tempatnya mengajar, untuk membawa pulang pekerjaan sekolah dan bermaksud untuk mengerjakan pekerjaan tersebut dirumahnya.
Namun di tengah perjalanan, terangnya, korban yang mengendarai motor sambil bertelpon-telponan dengan suaminya itu, tiba-tiba menghentikan laju motornya.
“Sebab saat sampai di jalan turunan, handphone (HP) yang digunakan untuk menelepon suaminya itu tiba-tiba jatuh. HP-nya itu kecil dan diganjal di helmnya. Karena panik, korban pun mendadak berhenti untuk mengambil HP-nya itu,” jelasnya menyampaikan kronologis kejadian.
“Jarak berhentinya motor dengan jarak HP-nya jatuh, kira-kira 30 sampai 50 meter. Korban pun memarkirkan motornya, dan bermaksud mengambil HP tersebut. Saat HP sudah diambil, tiba-tiba kata korban, ada yang menyekap dari belakang dan korban merasa ada aroma seperti AC mobil. Tidak lama korban mengaku pingsan karena menghirup aroma itu,” sambungnya.
Menurut Yoyok, korban sempat bangun sebentar dan meronta-ronta bermaksud untuk lari. Tetapi kembali oleh seseorang, dibius kembali. “Dari pengakuan korban itu, dirinya merasa sadar dan tertegun sudah berada dirumahnya sekitar jam 4 pagi. Saat itu korban masih panik, dan merasa ketakutan,” katanya.
Yoyok menyampaikan, kejadian yang dialami oleh anggota PGRI itu, terjadi sekitar pukul 4 sore, Sabtu (13/1). Dari kejadian tersebut, lanjutnya, sempat beredar informasi melalui pesan whatsapp yang menyampaikan bahwa salah satu pengurus PGRI diculik.
“Saat itu sedang ada rapat rapim (rapat pimpinan) PGRI di Hotel Aston. Jalannya rapat pun sempat terganggu, dengan adanya pesan tersebut. Bahkan dalam acara yang kebetulan ada Kapolres Jember yang sedang memberikan materi, sempat berhenti sejenak. Kapolres pun langsung memberikan instruksi untuk melakukan pencarian,” jelasnya.
Namun beruntung, sekitar pukul 7.30 malam, korban ditemukan tidak sadarkan diri di teras masjid sekitar Pondok Nuris. “Saat itu, motor plus STNKnya, perhiasan emas, dan 2 handphone nya, lengkap dan tidak hilang. Namun uang Rp 6 juta yang ada di dalam tas hilang tanpa tahu siapa yang mengambil,” ungkapnya.
Sebelum ditemukan di teras masjid tersebut, jelasnya, sempat beredar informasi yang disebar menggunakan HP korban, bahwa korban diletakkan di dekat Masjid depan toko roti Fatimah. Namun pada akhirnya, Kata Yoyok, entah dengan pertimbangan apa, pelaku yang membius tersebut menyampaikan melalui pesan singkat Whatsapp bahwa korban berada di teras masjid dekat pondok pesantren Nuris.
“Langsung saat itu, suaminya menjemput dan ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri. Selanjutnya segera dibawa ke rumah, saya sempat menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit, tetapi keluarga tidak mau, dan langsung dibawa ke rumahnya,” tuturnya.
Kasus pembiusan terhadap pengurus PGRI tersebut juga sempat diantisipasi oleh Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo. “Informasi mengenai salah satu pengurus PGRI yang hilang tidak pulang dan diduga diculik tersebut, saya ketahui saat mengisi cara PGRI di Aston,” ujar Kusworo.
“Baik kalau begitu orang reskrim saya suruh ke Aston untuk menindaklanjuti informasi itu. selanjutnya Pak Eko (Kanit Tipikor) yang kebetulan mendampingi saya, juga segera mendalami kasus itu. Namun tiba-tiba ada salah satu kepala sekolah yang menyampaikan kepada saya bahwa tidak jadi, dan aman-aman begitu,” jelasnya.
Sehingga pihaknya pun segera menindaklanjuti, agar korban segera membuat laporan ke Polres untuk menindaklanjuti terkait persoalan tersebut. “Namun hingga sekarang (kemarin, red), tidak ada laporan penculikan itu. Namun saya sudah menyarankan, jika ada trauma atau ada apa-apa untuk segera melaporkan. Bahkan saya juga instruksikan kepada Pak Eko untuk menindaklanjuti,” tandasnya. (cw2)

0 komentar: