Kamis, 18 Januari 2018

Barikan, Tradisi Petani Akhiri Masa Tanam Padi

SHARE


Jember, Motim
Tradisi Barikan atau tutup tandur, menandai akhir masa tanam padi bagi petani di Desa Wonosari, Kecamatan Puger. Tradisi ini merupakan bentuk harapan agar tanaman padi melimpah dan bebas dari penyakit.

"Ini adalah tradisi yang dilakukan sejak para leluhur di desa kami. Selain merawat tradisi Mbah Buyut, acara tasyakuran ini juga sebagai pemersatu petani dan berharap hasil panen padi nanti melimpah," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Bumi Putera Desa Wonosari, Abdul Waris, usai prosesi ritual Barikan yang diselenggarakan di lapangan desa setempat, Rabu (17/1).

Menurut Waris, ritual Barikan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya ritual dilakukan terpisah sesuai dengan area tanam petani, saat ini tradisi tersebut dilaksanakan secara bersama-sama dengan petani lainnya. Sehingga, acara yang diwarnai dengan kembul atau sarapan bersama ini berlangsung meriah karena dihadiri ratusan petani dari berbagai areal di desa setempat.

"Sebelumnya, tradisi ini digelar di masing-masing blok tiap dusun. Jumlahnya ada empat blok. Namun tahun ini kami gelar bersama agar petani lebih kompak," ujarnya.

Sebagaimana ritual syukur pada umumnya, Waris mengatakan acara tersebut diawali dengan petuah dari sesepuh desa. “Selanjutnya, sesepuh desa membacakan do'a di tengah-tengah beragam sajian makanan dan tumpeng yang dibawa para petani. Sejenak, suasana menjadi hening dan khidmat. Usai itu, para petani yang duduk melingkat tersebut mengambil sajian dan tumpeng-tumpeng itu untuk disantap bersama. Sebagian, ada yang mereka bawa pulang,” tutur Waris.

Sementara Kepala UPT Dinas Pertanian Jember di Balung, Agus Murdiyono menyatakan, tradisi Barikan tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai sarana edukasi dan pembinaan kepada para petani. “Sebab, di sela-sela acara, pihaknya menyampaikan sosialisasi tentang penanggulangan hama penyakit serta target produksi gabah yang telah ditetapkan pemerintah,” terang Agus.

Agus mengungkapkan, pemerintah menargetkan produksi padi mencapai 12 ton per hektare untuk gabah kering sawah (GKS). Untuk itu, pihaknya terus berupaya mendorong petani agar meningkatkan kualitas tanam sehingga meningkatkan hasil produksi. Mulai dari pemilihan benih, pengolahan tanah dan ketersediaan pupuk, terutama menggunakan pupuk berimbang serta organik.

"Selain itu, yang tak kalah penting adalah teknik menanam padi yang menggunakan sistem jajar legowo. Kemudian selama pertumbuhan, perawatan tanaman juga harus diperhatikan, terutama mengantisipasi serangan hama penyakit. Ini yang kita tekankan kepada petani agar selalu waspada," ungkap Agus.

Agus menegaskan, kewasdaan terhadap serangan hama penyakit itu harus diterapkan oleh petani. Sehingga pihaknya tak bosan-bosan mengingatkan para petani dan kelompok tani untuk segera melaporkan ke Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian yang ditempatkan di masing-masing desa bila terjadi serangan hama penyakit. Tujuannya, agar serangan itu bisa segera ditanggulangi dengan upaya pengendalian massal menggunakan pestisida.

"Untuk menggairahkan petani, dinas juga telah menyediakan bantuan pestisida guna mengendalikan serangan hama penyakit. Tapi kami berharap, semoga pada masa tanam padi tahun ini tak ada serangan hama penyakit sehingga produksi padi hasilnya melimpah," harapnya. (*)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: