Kamis, 18 Januari 2018

Tidak Terserap Jatah Pupuk Bersubsidi Dikurangi

Tidak Terserap Jatah Pupuk Bersubsidi Dikurangi


Tulungagung, Motim
Alokasi kuota pupuk bersubsidi tahun ini di Kabupaten Tulungagung dikurangi pemerintah pusat. Ini karena pada tahun lalu, jatah pupuk bersubsidi tidak terserap semuanya.

Pupuk yang dikurangi adalah Phonska sebesar 1.483 ton dan SP36 24 ton. Kepala Seksi (Kasi) Pupuk Pestisida dan Alat Mesin Pertanian Dinas Pertanian Tulungagung Tri Widiyono Agus Basuki mengatakan, tahun lalu jatah NPK/Phonska 19.550 ton. Tahun 2018 ini Tulungagung mendapatkan alokasi pupuk 18.067 ton. “Sedangkan untuk pupuk SP 36 yang sebelumnya 1.741 ton, untuk tahun ini sekitar 1.717 ton,” katanya.

Namun untuk urea yang pada tahun sebelumnya Tulungagung mendapat kuota 27.701 ton, tahun ini mendapatkan tambahan 215 ton menjadi 27.916 ton. Pupuk ZA yang sebelumnya 10.646 ton, tahun ini naik menjadi 11.414 ton atau naik sekitar 768 ton.

Selanjutnya kenaikan yang cukup banyak pada jenis pupuk organik, yang mana sebelumnya sekitar 12.648 ton kini menjadi 14.741 ton atau mengalami kenaikan sekitar 2.093 ton.

Tahun lalu, ada sekitar seribu ton pupuk jenis NKP/phonska yang tidak tertebus atau tidak diambil oleh petani. Maka, melihat adanya pupuk yang tidak tertebus, oleh pusat alokasi pupuk NPK/phonska dikurangi.

Namun para petani tidak perlu khawatir dengan adanya pengurangan pupuk bersubsidi tersebut. Dinas Pertanian bakal mengusulkan tambahan pupuk pada pertengahan tahun nantinya. “Semoga pada Februari kita bisa melihat kondisi cuaca, sebab penggunaan pupuk atau fluktuatifnya juga melihat kondisi cuaca. Apabila dibutuhkan untuk tambahan pupuk, kami akan ajukan tambahan tersebut,” ujar Basuki. (sutarto/agus)

Rabu, 17 Januari 2018

Dinas Pertanian Minta BPS Catat Data Produktivitas di Tingkat Poktan

Dinas Pertanian Minta BPS Catat Data Produktivitas di Tingkat Poktan

Lumajang, Motim
Dinas Pertanian Lumajang berharap Badan Pusat Statistik (BPS) bisa melakukan pendataan terkait nilai rata-rata produksi dan produktivitas komoditi pertanian di tingkat Kelompok Tani (Poktan). Karena selama ini data yang ada kurang detail dan hanya di tingkat kabupaten.

“Diharapkan ke depan dipastikan bahwa setiap wilayah kecamatan, desa atau kelurahan, bahkan sampai di wilayah kelompok tani memiliki nilai rata-rata produksi dan produktivitas komoditi pertanian,” kata Kepala Dinas Pertanian Lumajang Ir. Paiman.

Pendataan ini perlu dilakukan, lanjutnya, juga untuk mendata kebutuhan dari para petani. Misalnya untuk alat ubinan yang akan disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang. Alat ini akan dibagikan kepada selurug keompok tani di Lumajang.

“Pemkab telah berkomitmen untuk melengkapi alat ubinan bagi kelompok tani secara bertahap,” katanya.

Paiman menegaskan, selama ini sinkronisasi dan proporsionalitas di lapangan juga masih belum merata. Yakni antara kondisi lapangan dengan mekanisme dan cara penghitungan nilai rata-rata produksi khususnya komoditi padi melalui sampel ubinan.

“Masih terdapat wilayah kecamatan yang memiliki potensi padi sawah yang belum atau tidak memperoleh sampel ubinan padi,” ungkapnya.

Ia berharap sampel ubinan ini akan dilakuka secara merata sehingga proporsional. Yakni dengan melakukan pendataan hingga tingkat bawah atau di kelompok tani masing-masing desa atau kelurahan. Bahkan Dinas Pertanian juga telah melakukan konsultasi dengan Kementerian Pertanian soal mekanisme ubinan. (fit)

Jumat, 12 Januari 2018

Produktivitas Jagung Diarahkan ke Industri Olahan

Produktivitas Jagung Diarahkan ke Industri Olahan


Lamongan, Motim
Bupati Fadelo menggelar acara panen raya jagung, di Desa Slaharwotan, Kecamatan Ngimbang, Lamongan Kamis (11/1). Dia didampingi Kepala Dinas Pertanian Lamongan Aris Setiadi.

Bupati memberikan apresiasi terhadap produktivitas jagung di kawasan tersebut, dari semula tidak sampai enam ton pere hektare, kini menjadi hampir 12 ton per hektarr. Ia kaget, karena makanan olahan jagung dari Lamongan sudah masuk dalam komoditas ekspor.

“Ini sudah sesuai dengan yang diinginkan Bapak Presiden, yakni mengejar pertumbuhan ekonomi yang bisa memberikan kesejahteraan. Itu tidak bisa lepas dari pertanian dan produk olahannya,” ujar Fadeli.

Fadelo berpendapat, penerapan konsep pertanian modern, jika diperluas ke seluruh petani Jagung di Lamongan, bakal bisa memproduksi hingga lebih 600 ribu ton. “Bila hal itu tercapai, saya berharap agar diarahkan pada industri olahan, sehingga bisa memberi nilai tambah dan kesejahteraan kepada petani,” katanya.

Camat Ngimban Roziqin mengatakan, tahun ini ada perluasan area tanam dan produksi. Lahan sawah pengairan seluas 351 hektare, lahan sawah tadah hujan 3.250 hektare, lahan kering tegal 1128 hektare, kahan hutan 3078 hektare, dan untuk area tanaman jagung di Ngimbang 2.127 hektare lahan sawah/tegal dan 2.161 hektare Lahan Hutan.

 “Mengarahkan ini pada industri olahan, tidak hanya akan memberi dampak pada peningkatan kesejahteraan. Namun ada multiplier effect lain yakni, UKM semakin tumbuh dan bisa menyerap banyak tenaga kerja,” kata Roziqin. (ali/har)
Mahasiswa Harus Berperan Bangun Desa

Mahasiswa Harus Berperan Bangun Desa


Lamongan, Motim.
Ratusan mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik yang akan melaksanakan praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Lamongan disambut Wakil Bupati Kartika Hidayati, di Gedung Korpri.

"Sebanyak 176 mahasiswa UISI akan melakukan KKN di lima Kecamatan di Lamongan yakni , Turi, Babat, Mantup, Modo dan Ngimbang," kata Kartika Hidayati, Kamis (11/01).

Kartika berharap para mahasiswa KKN menciptakan program-program luar biasa, sehingga mempunyai kesan mendalam di masyarakat. "Saya mengimbau untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendasar, terhadap kebiasaan-kebiasaan yang salah di masyarakat,” katanya, mencontohkan penggunaan sungai sebagai kakus.

Kartika, juga berharap agar peserta KKN menjaga etika, sikap, dan perilaku di tengah masyarakat. Mahasiswa diminta dapat  menangkap fenomena program pembangunan Lamongan, salah satunya "One Village One Product". “Setiap desa memiliki produk dan potensi yang dapat dikembangkan,” katanya.

Mahasiswa diharapkan dapat membantu dan menjelaskan arah pembangunan pemerintahan ke depan, dengan menjabarkan visi misi dan program strategis Pemkab Lamongan.

Rektor UISI Dr. Sucipto meminta peserta KKN yang berasal dari berbagai disiplin ilmu ikut membantu masyarakat, dalam menberikan pengetahuan yang diperoleh diperkuliahan. "Mahasiswa peserta KKN segera menyesuaikan diri dengan masyarakat  dan menghindari kemungkinan-kemungkinan yang akan menimbulkan permasalahan baik bagi  kelompok dan masyarakat," tukasnya. (mim)

Rabu, 10 Januari 2018

Durian Montong Sugihan Pikat Netizen

Durian Montong Sugihan Pikat Netizen



Lamongan, Motim
Beberapa hari ini di media sosial beredar swafoto netizen bersama buah durian berukuran super besar di di Desa Sugihan, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan.

Buah durian jenis montong itu berada di lahan seluas setengah hektare milik Zumaiyah, warga setempat. Durian itu diperkirakan memiliki berat dari delapan kilogram.

Bupati Fadeli bersama sejumah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) membuktikan sendiri kelezatan durian itu, Selasa (9/1). “Dagingnya tebal, bijinya kecil sekali, dan rasanya sangat lezat,” katanya.

Tidak sekedar icip-icip, Bupati Fadeli juga membeli durian montong itu. “Ini diterima dengan ikhlas, semoga barokah,” ujarnya sambil menyodorkan uang Rp 2 juta kepada Zumaiyah.

Bupati Fadeli meyakini durian Montong Sugihan sangat prospektif untuk dikembangkan. “Ini nyata dan prospektif. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan harus bisa menjadikan ini sebagai destinasi wisata agro," katanya kepada Kepala Dinas Pariwisata Chairil Anwar.

Fadeli meminta akses jalan menuju kawasan perkebunan durian agar ditata dan ada semacam gazebo, sehingga pengunjung Kampung Durian Sugihan bisa menikmati legitnya buah itu.

Selain di lahan milik Zumaiyah, durian ini juga ditumbuhkan warga Sugihan di setiap pekarangan. Saat ini semuanya sedang berbuah.

Zumaiyah sendiri awalnya mulai membudidayakan durian dari mencoba-coba, karena tanaman jeruk maupun sawo gagal panen karena terkena penyakit. Bibit durian montong ini mulai ditanamnya lima tahun lalu. Dia mendatangkannya dari Majalangka, Jawa Barat.

Kini di kebun miliknya ada 50 batang pohon durian yang dipenuhi buah dengan berbagai ukuran. Akibat swa foto yang viral, buah durian yang belum matangpun sudah dipesan pembeli. “Iya, Saya tidak perlu menjualnya ke pasar. Pembelinya datang sendiri ke sini, yang tidak kebagian malah sudah pesan,” ujarnya.

Buah durian di kebunnya dijual Rp 50 ribu per kilogram. Di setiap pohon rata-rata bisa berbuah 30 durian dengan berat rata-rata 3 kilogram perbuahnya. Selama setahun bisa panen hingga dua kali.

Rizal, salah satu pembeli yang jauh-jauh datang dari Kota Lamongan untuk merasakan durian Montong Sugihan. “Kemarin baru saja beli montong di supermarket seharga Rp 45 ribu perkilogram. Tapi rasanya tidak selezat Durian Montong Sugihan, “ katanya. (mim)