Mereka menggelar doa bersama membacakan salawat nariyah sebanyak 11 kali, untuk menolak proyek strategis nasional itu. Doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat untuk meminta perlindungan Allah SWT dari marabahaya dan rencana pembangunan proyek kilang minyak yang tidak dikehendaki sebagian warga.
Wasri (52), koordinator penggagas doa bersama ini, mengajak seluruh warga agar bermunajat kepada Tuhan, dengan maksud, terhindar dari balak yang ada. “Kami melakukan doa bersama ini selain menolak balak, juga menolak keras kilang minyak di bangun disini,” ujarnya,Minggu (11/2/2018).
Hal senada juga disampaikan Suciyati (62), warga setempat. Dia menolak pendirian kilang minyak, karena tanah saat ini dipakai untuk pertanian adalah waris dari leluhur. Jadi tidak mungkin akan diberikan ke pihak Petamina – Rosneft Oil Company Rusia.
“Sampai kapan pun, akan kami pertahanankan walaupun negara memaksa mengambil, kami tak akan berikan sejengkal tanah pun,” tambah Mantan Kasun Mlangweh Desa Mentoso ini.
Suciyati juga berharap kepada bupati maupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tuban agar membela rakyat. “Kami berharap pemerintah, jangan berpihak pada mereka. Lihatlah kami rakyat kecil, yang dulu juga ikut memilih untuk menjadikannya jadi pemimpin,” harap Suciyati.
Warga juga mengelar ritual mengelilingi sumur yang konon pertama kali ada di Dukuh Sumur Pawon, setelah doa warga makan bersama hasil makanan yang dibawa. (har)

0 komentar: