Banyuwangi, MotimNews. Acara Lapas Banyuwangi berselawat,
Senin (12/02), berlangsung khidmat. Bahkan, ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan
(WBP) yang mengikuti kegiatan tersebut tak kuasa meneteskan air matanya ketika
mendengarkan lantunan puji-pujian dan zikir yang dipimpin KH Achmad Azaim
Ibrahimy, Pengasuh PP Salafiyah Safi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Berbeda dengan situasi sebelumnya,
kegiatan selawat kemarin cukup menggugah hati ratusan WBP yang larut saat membaca
selawat nabi dan mendengarkan ceramah agama dari Kyai Azaim.
KH Azaim Ibrahimy tiba di Lapas
Banyuwangi pukul 12.30 WIB. Begitu masuk ke dalam lapas, Kiai Azaim langsung
naik pentas disambut selawat dengan diiringi hadrah Al Banjari bening yang juga
dari PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo.
Dalam ceramahnya, Kiai Azaim banyak
mengajak seluruh WBP untuk merenung dan bermuhasabah. Karena dalam kehidupan
belum selesai. Setelah ribuan tahun di alam ruh, berpindah ke dalam rahim dan
saat ini dalam kehidupan ketiga yakni di dunia yang hanya dalam waktu paling
lama antara waktu 60 sampai 70 tahun.
“Apakah dengan berpisah roh dan jasad
kita akan selesai? tidak, ada alam dimensi yang disebut alam barzah (kubur).
Perjalanan masih panjang. Maka pikirkan perjalanan yang masih ribuan tahun,
untuk kehidupan yang lebih panjang,” pesannya.
Meski saat ini tanda-tanda kiamat telah
datang, Dajjal kecil mulai bermunculan. Namun, tanda yang paling terlihat itu
ketika salat tidak lagi ditunaikan, ketika panggilan azan tak lagi didengar.
“Mari renungkan fenomena kondisi akhir
zaman. Negeri ini telah terjadi banyak ujian dan kita rindu akan kebaikan di
dunia,” terangnya.
Setiap peristiwa, jelas Kiai Azaim
pasti ada hikmah pelajaran yang bisa dipetik. Maka, harus mampu mempelajari
setiap rahasia dibalik setiap peristiwa. Terkadang ada orang yang terjatuh,
tapi ternyata hikmahnya justru diselamatkan oleh Allah dari kejadian yang lebih
besar, oleh karena itu harus berhusnudzon kepada Allah SWT.
“Ingatlah lima perkara sebelum datangnya lima
perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang
sebelum sempit dan hidup sebelum mati. Oleh karenanya masa usia jangan
disia-siakan, karena ia tak akan kembali. Mari kita saling ingat mengingatkan
dalam kebenaran dan kesabaran,” ujarnya.
Para jamaah juga diajak melantunkan
zikir Bismillahirohmanirohim. Dengan bergandengan tangan, antar satu dengan
lain. Tidak sedikit dari jamaah tanpa terasa meneteskan air mata. Pipi para
jamaah makin sembab, saat Kiai Azaim mengingatkan para jamaah untuk tidak
melupakan orang yang pernah mengajarkan membaca Bismillahirohmanirohim dan
mengajarkan pada huruf alif.
“Doakan guru huruf alif kita. Guru kita
juga belajar dari gurunya para ulama’ terdahulu sampai kepada para tabi’in,
sampai kepada sahabat nabi dan langsung kepada Nabi. Maka jangan lupakan
Baginda Nabi Muhammad SAW,” jelas Kiai Azaim.
Ratusan jamaah yang sebagian besar WBP
langsung terisak, air mata mereka mengalir tanpa terasa membasahi pipi.
Mengakhiri ceramah agama, para jamaah berdiri melantunkan selawat nabi.
Sesudahnya dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia raya dan Subhanul Wathon
karya KH Wahab Chasbullah.
Usai turun dari pentas, ratusan jamaah
para WBP langsung berebut bersalaman dengan pengasuh pondok pesantren Salafiyah
Syafiiyah Sukorejo Situbondo tersebut.
“Saya baru kali ini mengikuti pengajian
berselawat yang sangat menenteramkan dan menyejukkan,” ujar Yunus Wahyudi salah
seorang WBP Lapas Banyuwangi.
Sementara Kepala Lapas Banyuwangi,
Ketut Akbar Herry Achjar mengatakan, kegiatan Lapas Berselawat tersebut
merupakan kegiatan kerohanian, untuk memberikan pencerahan kepada WBP. Selain
mengundang kiai kharismatik. Kegiatan serupa juga rutin dilakukan setiap bulan
dengan diisi oleh penceramah lokal dari Banyuwangi.
“Kami ingin kualitas keimanan WBP bisa
meningkat, tidak hanya saat di dalam Lapas. Tetapi juga saat mereka keluar dari
Lapas,” harapnya.(eko)

0 komentar: