Rabu, 14 Februari 2018

Kyai Azaim Sukerojo Pimpin Lapas Berselawat

SHARE
Banyuwangi, MotimNewsAcara Lapas Banyuwangi berselawat, Senin (12/02), berlangsung khidmat. Bahkan, ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang mengikuti kegiatan tersebut tak kuasa meneteskan air matanya ketika mendengarkan lantunan puji-pujian dan zikir yang dipimpin KH Achmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh PP Salafiyah Safi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Berbeda dengan situasi sebelumnya, kegiatan selawat kemarin cukup menggugah hati ratusan WBP yang larut saat membaca selawat nabi dan mendengarkan ceramah agama dari Kyai Azaim.

KH Azaim Ibrahimy tiba di Lapas Banyuwangi pukul 12.30 WIB. Begitu masuk ke dalam lapas, Kiai Azaim langsung naik pentas disambut selawat dengan diiringi hadrah Al Banjari bening yang juga dari PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo.

Dalam ceramahnya, Kiai Azaim banyak mengajak seluruh WBP untuk merenung dan bermuhasabah. Karena dalam kehidupan belum selesai. Setelah ribuan tahun di alam ruh, berpindah ke dalam rahim dan saat ini dalam kehidupan ketiga yakni di dunia yang hanya dalam waktu paling lama antara waktu 60 sampai 70 tahun.

“Apakah dengan berpisah roh dan jasad kita akan selesai? tidak, ada alam dimensi yang disebut alam barzah (kubur). Perjalanan masih panjang. Maka pikirkan perjalanan yang masih ribuan tahun, untuk kehidupan yang lebih panjang,” pesannya.

Meski saat ini tanda-tanda kiamat telah datang, Dajjal kecil mulai bermunculan. Namun, tanda yang paling terlihat itu ketika salat tidak lagi ditunaikan, ketika panggilan azan tak lagi didengar.
“Mari renungkan fenomena kondisi akhir zaman. Negeri ini telah terjadi banyak ujian dan kita rindu akan kebaikan di dunia,” terangnya.

Setiap peristiwa, jelas Kiai Azaim pasti ada hikmah pelajaran yang bisa dipetik. Maka, harus mampu mempelajari setiap rahasia dibalik setiap peristiwa. Terkadang ada orang yang terjatuh, tapi ternyata hikmahnya justru diselamatkan oleh Allah dari kejadian yang lebih besar, oleh karena itu harus berhusnudzon kepada Allah SWT.

 “Ingatlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati. Oleh karenanya masa usia jangan disia-siakan, karena ia tak akan kembali. Mari kita saling ingat mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran,” ujarnya.

Para jamaah juga diajak melantunkan zikir Bismillahirohmanirohim. Dengan bergandengan tangan, antar satu dengan lain. Tidak sedikit dari jamaah tanpa terasa meneteskan air mata. Pipi para jamaah makin sembab, saat Kiai Azaim mengingatkan para jamaah untuk tidak melupakan orang yang pernah mengajarkan membaca Bismillahirohmanirohim dan mengajarkan pada huruf alif.

“Doakan guru huruf alif kita. Guru kita juga belajar dari gurunya para ulama’ terdahulu sampai kepada para tabi’in, sampai kepada sahabat nabi dan langsung kepada Nabi. Maka jangan lupakan Baginda Nabi Muhammad SAW,” jelas Kiai Azaim.

Ratusan jamaah yang sebagian besar WBP langsung terisak, air mata mereka mengalir tanpa terasa membasahi pipi. Mengakhiri ceramah agama, para jamaah berdiri melantunkan selawat nabi. Sesudahnya dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia raya dan Subhanul Wathon karya KH Wahab Chasbullah.

Usai turun dari pentas, ratusan jamaah para WBP langsung berebut bersalaman dengan pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo tersebut. 

“Saya baru kali ini mengikuti pengajian berselawat yang sangat menenteramkan dan menyejukkan,” ujar Yunus Wahyudi salah seorang WBP Lapas Banyuwangi.

Sementara Kepala Lapas Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achjar mengatakan, kegiatan Lapas Berselawat tersebut merupakan kegiatan kerohanian, untuk memberikan pencerahan kepada WBP. Selain mengundang kiai kharismatik. Kegiatan serupa juga rutin dilakukan setiap bulan dengan diisi oleh penceramah lokal dari Banyuwangi.

“Kami ingin kualitas keimanan WBP bisa meningkat, tidak hanya saat di dalam Lapas. Tetapi juga saat mereka keluar dari Lapas,” harapnya.(eko)


SHARE

Author: verified_user

0 komentar: