Senin, 08 Januari 2018

Selain CIP, Desa Cottok Miliki Waduk yang Tidak Terawat

SHARE

Situbondo, Motim
Kunjungan Wisata 2019 nampaknya menjadi kompetisi tersendiri bagi sebagian desa di Situbondo, hanya saja selain persoalan anggaran, persoalan kepemilikan lahan juga menjadi kendala.


Sebut saja Desa Curah Cottok, Kecamatan Kapongan yang kini harus putar haluan, dengan membangun destinasi wisata baru bernama Cottok Inovation Park (CIP).


Padahal desa ini sebelumnya sudah mengembangkan waduk pitaloka di desa tersebut, hanya saja pengembangan kawasan ini selalu muncul persoalan, lantaran lahan yang berada di sekeliling waduk ternyata milik masyarakat.


"Dulu sudah pernah mendapatkan bantuan modal dari Pemerintah Pusat, bahkan sudah mencoba untuk dikembangkan, tetapi kemudian muncul masalah, karena lahan yang ada ya hanya waduk itu saja," beber Kepala Desa Curah Cottok, Mohamad Syamsuri Abbas kepada Memo Timur, Minggu (07/1).


Rencananya, sambung Syamsuri, nantinya akan dibangun akses jalan dari CIP ke timur hingga tembus ke kawasan waduk, waduk akan disulap menjadi sarana wisata penunjang untuk CIP.
"Kita akan pikirkan itu, entah untuk pembangunan wisata kolam ikan atau apalah, nanti akan kami pikirkan dulu, sementara ini kami memang sedang konsen untuk menyelesaikan CIP dulu," bebernya lagi.


Pantauan Memo Timur, kondisi waduk Pitaloka kini memang cukup memprihatinkan, kondisi air yang keruh dan kotor, ditambah bangunan gazebo dan wahana permainan air seperti sepeda air sudah tidak bisa difungsikan lagi, menambah kondisi buruk tempat ini.


Kini waduk hanya dimanfaatkan untuk sarana memancing bagi warga sekitar, sementara lahan yang berada di sekeliling waduk sudah dikavling-kavling dan diberi pagar bambu oleh pemiliknya.
Upaya memberi pagar itu terkesan agar Pemerintah Desa tidak bisa mengembangkan wisata itu, dengan cara membangun sarana penunjang dilahan warga.


Upaya pembebasan tanah sebenarnya pernah dilakukan, namun harga yang ditawarkan pemilik lahan terlalu tinggi dan desa tidak mampu untuk membelinya.


"Dulu pernah kami mencoba mendekati warga untuk membeli lahannya, tetapi harganya selangit dan kami tidak mampu dengan harga yang diinginkan, untuk itu kemudian kami memanfaatkan lahan milik desa yang saat ini kami bangun CIP itu," tutup Syamsuri.(fin)
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: