Banyuwangi, Motim
Setelah membaca berita kasus Marzuki Madong, pemain Persewangi Banyuwangi Liga 3 yang terlantar di Banyuwangi di koran Memo Timur, Achmad Mustain, mantan Persewangi Banyuwangi era 1980an menyatakan kaget dan prihatin.
Ditemui di rumahnya, pentolan Laros Jenggirat tersebut mengungkapkan rasa kagetnya, karena baru tahu ada kasus pemain terlantar yang kebetulan salah seorang aktornya adalah Direktur PT Persewangi Banyuwangi Laskar Blambangan (PBLB) yang juga pernah menelantarkan pemain asing asal Perancis beberapa tahun lalu.
Ia mengulang kesalahan yang sama di kabupaten yang bupatinya pernah dinobatkan sebagai pembina olahraga terbaik se Jawa Timur.
"Masak jaman Now masih ada kasus pemain yang tidak dibayar," tegas dia.
Lebih lanjut dia menuturkan, kasus yang terjadi pada Persewangi Banyuwangi merupakan salah satu indikator kegagalan PSSI dalam mengelola sepak bola di Indonesia.
Menurut dia, sebelum mengikuti kompetisi ada tahapan verifikasi satu tim sesuai dengan statuta FIFA yang salah satunya terkait dengan pendanaan yang digunakan satu tim untuk mengikuti kompetisi resmi yang digelar oleh PSSI.
Sehingga dalam melihat kasus tidak terbayarnya pemain, dia tidak sepenuhnya menyalahkan managemen Persewangi Banyuwangi karena ada Askab, Asprov maupun Koni yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk melakukan pembinaan maupun memberikan rekomendasi sebelum diputuskan layak atau tidaknya sebuah tim sepakbola untuk mengikuti kompetisi.
Agar masalah cepat tuntas, dia berharap jajaran pengurus dan managemen Persewangi Banyuwangi Liga 3 secepatnya melaksanakan kewajiban mereka, karena hal tersebut menyangkut kredibilitas dan nama baik Banyuwangi, lanjut mantan karyawan BRI itu.
Untuk jangka panjang, dia berharap agar pengurus PSSI yang ada di Provinsi dan pusat untuk benar-benar menegakkan aturan sesuai dengan regulasi yang ada, agar tidak terulang kembali kasus yang sama di masa mendatang.
"Tidak menutup kemungkinan kasus yang terjadi pada Persewangi Banyuwangi sebenarnya terjadi juga di kabupaten/kota lain, namun tidak terekspos oleh media," ujar Kang Taun, panggilan akrabnya. (nur)

0 komentar: