Jumat, 12 Januari 2018

Operasi Pasar Diperpanjang Hingga Akhir Maret untuk Tekan Harga dan Penuhi Pasokan Beras

SHARE


Jember, Motim
Meski Operasi Pasar (OP) terus dilakukan, namun harga beras di pasaran masih cukup tinggi. Agar kenaikan itu tidak terus terjadi, pemerintah melakukan memperpanjang OP hingga akhir Maret 2018.

“Awal operasi pasar ini sebenarnya dilakukan di akhir tahun lalu hingga 31 Desember 2017, kemudian ditambah menjadi 31 Januari 2017. Tetapi ada surat terbaru dari Kementerian Perdagangan yang menyebutkan jika operasi pasar diperpanjang hingga 31 Maret 2018,” ungkap Dwiana Puspitasari, Wakil Kepala Badan Urusan Logistik Sub Divisi Regional XI Jember.

Tentu saja, pihaknya mengaku siap melaksanakan OP sesuai dengan instruksi itu. Operasi pasar ini dilakukan sesuai dengan yang diminta oleh Kemendag RI. Menurut Dwiana, ada empat titik distributor yang menjadi pencatatan BPS. “Sesuai permintaan Kemendag yakni di Pasar Tanjung, Pasar Kreongan, Pasar Mangli dan Pasar  Wirolegi,” jelasnya.

Menurut Dwiana, Bulog Jember akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap operasi pasar yang dilakukan. “Karena memang untuk operasi pasar ini berbeda dengan sebelumnya. Yang biasanya dilakukan untuk pengecer dan masyarakat, kali ini operasi pasarnya lebih kepada distributor,” jelas Dwiana.

Terkait dengan harga, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi dan menjadi tanggung jawab bersama. Sangat aneh jika harga ikut melambung di Kabupaten Jember yang merupakan lumbung padi nasional. Menurut Dwiana, kenaikan itu sebenanrya sudah terjadi sejak November - Desember 2017 lalu.

“Diantara faktor yang mempengaruhi kenaikan itu adalah permintaan karena kebutuhan masyarakat yang tinggi,” kata Dwiana. Dimana saat itu selain bersamaan dengan momentum liburan panjang karena natal dan tahun baru, juga ada maulid nabi. “Bukan hanya masyarakat yang permintaan naik, tetapi juga pasokan juga sedang tidak lancer,” katanya.

Tidak lancarnya pasokan itu, lanjut Dwiana, karena banyaknya penggilingan yang tutup karena liburan natal tahun baru. “Bahkan, penggilingan ini baru buka awal pekan ini,” terangnya. Hal itulah yang akhirnya membuat ketersediaan beras tipe medium di pasaran menjadi berkurang bahkan jarang ditemukan.

“Selain itu, hal tersebut juga membuat harga beras pun melambung tinggi. Makanya Operasi pasar ini kita lakukan juga untuk memenuhi  stok beras yang sudah berkurang,” tegas Dwiana.

Faktor lain naiknya harga beras itu adalah permintaan terhadap beras yang terus bertambah. Sementara untuk panen sedang tidak bagus di akhir tahun. “Dimana pada November - Desember tidak ada panen beras lagi. Ada panen tapi juga tidak serempak. Hanya di beberapa titik saja. Itupun volumenya sangat kecil,” jelasnya.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Anas Ma’ruf mengatakan jika kenaikan harga beras ini seperti anomaly. Apalagi, sebenarnya di lapangan tidak benar-benar kosong untuk ketersediaan beras di tingkat pedagang. “Di pedagang cukup banyak. Tapi memang mereka menerima sudah dengan harga segitu (mahal, red),” tuturnya.

Dengan melakukan operasi ke distributor ini, pihaknya akan terus melakukan pemantauan sebenarnya apa saja yang sedang terjadi. “Kita terus memantau dengan operasi pasar ini, sebenarnya kenaikan ini karena apa,” jelasnya. Pihaknya berharap, OP ini bisa berpengaruh dan bisa menekan harga beras cukup signifikan di lapangan.

Sekedar diketahui, harga beras yang tidak bisa dikontrol ternyata bukan hanya terjadi di tingkat nasional. Di Jember yang merupakan lumbung padi nasional juga mengalami hal serupa, baik di tingkat pedagang eceran, pasar maupun distributor. Untuk harga beras kualitas rendah alias curah harganya mencapai Rp 9750. Padahal, sehari sebelumnya harganya Rp 9.500.

Kemudian untuk kelas medium harganya Rp 10. 500 - 11.000 perkilonya. Sedangkan angka untuk kualitas beras premium sampai Rp 12.500 ribu. Harga normalnya untuk kualitas premium biasanya hanya Rp 8.500-9 ribu perkilonya. Tentu kenaikan ini dcukup tinggi dan banyak dikeluhkan oleh masyarakat. (sp)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: