Jember, Motim
Nabilus Zaki (5), putri pertama dari pasangan Ahmad Faisol (38) dan Fitriatul Hasanah (28), warga Dusun Peji Mangar, Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari mengalami penyakit Hidrosefalus atau pembesaran kepala. Penyakit itu diderita Nabilus sejak dia berusia 5 Bulan.
“Nabil mengalami penyakit Hidrosefalus sejak berumur 5 bulan. Dari awal lahir normal seperti anak lahir biasanya. Dari umur 5 bulan itu secara tiba-tiba kepalanya bertambah semakin besar, hingga sekarang. Dulunya sempat dibawa ke rumah sakit Bina Sehat sekitar tahun 2015 untuk dioperasi, tapi ditunggu-tunggu tidak ada panggilan,” kata ibu kandung Nabil, Fitri saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (8/1).
Fitri mengatakan, untuk keseharian dari Nabil hanya memakan bubur dan susu saja. Karena untuk mengkonsumsi lainnya tidak bisa, dan minum susunya juga pernah mencapai 10 botol dalam sehari.
“Tiap hari balita ini hanya bisa mengkonsumsi susu dan bubur, terkadang bisa mencapai 10 botol perhari. Sedangkan untuk buburnya, hanya pagi dan sore saja,” ujar fitri.
Fitri mengaku, selama ini belum ada pihak pemerintah desa menjenguk ke rumahnya. Termasuk berupa bantuan apapun tidak pernah dia terima dari pihak desa.
“Tidak pernah ada dari Bu Kades menjenguk, ataupun memberi bantuan. Sampai saat ini Nabil juga tidak pernah melakukan perawatan medis di Rumah sakit, hanya saja mengikuti terapi dan pijat di Ajung, Gebang dan bahkan di Bondowoso,” terang Fitri.
Fitri mengatakan, untuk kesehariannya Nabil tinggal bersama dirinya. Karena bapaknya bekerja di Maluku, dan pulangnya setahun belum pasti. “Bapaknya Nabil berada di Maluku, kalau pulangnya setahun belum tentu. Tergantung dari uang yang dimilikinya, kalau pegang uang bisa pulang,” ucapnya.
Fitri menambahkan, jika dirinya mempunyai kesibukan lain, terkadang dibantu bapaknya menjaga Nabil. Karena Nabil sendiri mempunyai adik kecil yang masih berumur 3 tahun. “Nabil itu anak pertama, saya juga memiliki anak kedua yang masih berumur 3 tahun,” imbuhnya.
Sementara Ketua RT.01/RW.03 Desa Lampeji Mohammad Arifin mengatakan, bahwa dulu Nabil sempat dibawa ke RSD dr. Soebandi. Tetapi pihak rumah sakit meminta untuk dirujuk ke Surabaya. “Saya mengetahui keadaan Nabil sekitar 5 bulanan, dulu ada dari petugas kesehatan ke sini memberikan saran surat rujukan untuk dibawa ke Puskesmas Mumbulsari. Langsung dibawa ke Soebandi. Setelah itu disarankan untuk dibawa ke Surabaya untuk dilakukan operasi,” tegasnya.
Arifin mengatakan, pihak keluarga pesimis tentang hasilnya, meski pun Nabil dibawa ke Surabaya. “Setelah konsultasi dengan keluarga, dan keluarga mengatakan bilapun harus dioperasi, hasilnya tidak akan menjamin kesembuhannya,” paparnya.
Arifin menuturkan, jika bantuan yang diterima oleh keluarga Nabil hanya beras rastra. “Untuk dari pihak RT keluarganya hanya mendapat beras dolog saja (beras Rastra), sedangkan untuk bantuan Nabil sendiri sampai hari ini tidak mendapat bantuan pengobatan. Sedangkan untuk ke Posyandu dari kecil orang tuanya sering membawanya ke posyandu. Kalau sekarang sudah tidak, mungkin malu sudah besar,” tutur Arifin.
Jika Nabil kesehatannya kurang membaik, lanjut Arif, balita itu hanya dirawat oleh bidan desa yang kebetulan juga tetangganya. “Yang sering menengok keadaan Nabil hanya bidan desa Bu Yayuk. Meski pun tidak dibutuhkan sering nengok ke sini. Sementara ini jika ada sesuatu tentang kesehatannya, hanya bidan desa itu saja yang ke sini. Dulu pernah bidan desa itu menyarankan operasi di Bina Sehat. Tetapi meskipun diberi nomor, belum dipanggil,”imbuhnya.
Arifin hanya berharap ada keajaiban dari yang maha kuasa. Agar Nabil bisa sehat dan tumbuh seperti anak lainnya. “Kita hanya bisa berdoa, semoga Nabil diberikan kesehatan. Dan juga nanti ada keajaiban dari yang maha kuasa tentang kesehatannya,” harap Arif. (*)
0 komentar: