Jember, MotimNews. Ratusan siswa yang masuk dalam daftar peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mengundurkan diri dan puluhan lainnya absen. Meski UNBK yang dilaksanakan SMK/SMA di Jember sudah terbilang terlaksana sukses seratus persen, namun mundurnya ratusan peserta UNBK itu menjadi catatan.
“Ini kan UNBK tahun kedua, integritas sebagai penyelenggara UNBK 100 persen lebih baik di Jember,” ucap Lutfi Isa Ansori, Kepala Dispendik Jatim Cabang Jember kepada wartawan. Dirinya menuturkan, dari segi pelaksanaan memang diakuinya lebih baik. Baik dari lembaga penyelenggara maupun dari sisi teknis pelaksanaan.
“Kami harus banyak berterimakasih kepada PLN dan Telkom yang cukup baik dalam pelaksanaan UNBK kali ini,” jelasnya. Karena memang hampir tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaannya. Kalaupun ada sejumlah kasus karena mati lampu dan jaringan tersendat juga bisa langsung diatasi dengan baik karena lembaga sudah ada antisipasi menyewa genset jika ada kendala.
“Paling kalau teknis di lapangan kesulitan login. Karena online bisa langsung kita monitor dari pusat di propinsi untuk membantu,” jelasnya. Dirinya menuturkan meskipun dari penyelenggaraan cukup sukses, namun yang jadi catatan pihaknya banyaknya peserta yang mengundurkan diri.
“Untuk SMK yang mengundurkan diri tercatat sebanyak 103 peserta,” jelasnya. Sedangkan untuk SMA tercatat lebih sedikit yakni hanya 24 yang mengundurkan diri. Lutfi mengatakan untuk siswa yang mengundurkan diri ini memang bukan dari sekolah, namun dari siswa sendiri yang tidak mengikuti ujian dan tanpa keterangan sama sekali.
Mereka tidak hadir dalam UNBK meskipun sebelumnya pihak sekolah sudah mencoba untuk mencari tahu keberadaan siswa ini. Padahal siswa ini sudah didaftar sebagai peserta UNBK oleh pihak sekolah. “Biasanya untuk Daftar Nominasi Sementara (DNS) peserta UNBK ini dilaporkan Januari tahun sebelumnya. Bahkan untuk Daftar Nominasi Tetap sebagai peserta UNBK sudah ditetapkan bulan Desember 2017,” tuturnya.
Saat pendaftaran ini, lanjut Lutfi, para peserta ini masih aktif. Namun kemudian selama proses waktu para peserta ini kemudian menghilang dengan berbagai alasan yang ada. “Sebenarnya dilema bagi kami. Sejak awal siswa yang bersangkutan jarang masuk sekolah, namun tetap didaftarkan sebagai peserta UNBK,” tuturnya.
Apabila siswa yang jarang masuk sekolah pada tahun ajaran baru tidak didaftarkan sebagai peserta UNBK, maka dikhawatirkan siswa tersebut sewaktu-waktu mengikuti ujian dan siswa yang tidak masuk dalam daftar nominasi peserta ujian tidak bisa mengikuti UNBK.
“Kalau didaftarkan sebagai peserta UNBK, maka akan terlihat banyak siswa yang tercatat mengundurkan diri. Namun kalau tidak didaftarkan, maka mereka tidak bisa ikut UNBK,” katanya. Dirinya mengatakan siswa yang mengundurkan diri sebagai peserta UNBK merupakan persoalan klasik yang terus terjadi setiap tahun di Kabupaten Jember.
“Klasik kalau persoalannya. Untuk SMK biasanya sudah bekerja di luar daerah. Atau juga ada yang menikah. Jadi bukan karena biaya atau sebagainya,” tegasnya. Karena kultur budaya dan masih rendahnya kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan.
Selain siswa mengundurkan diri, pihak Dispendik juga mencatat ada sejumlah siswa yang absen. “Kalau yang absen ini ada keterangan. Ada yang sakit, keperluan lain. Ada juga yang saat UNBK kemarin terkendala masalah teknis. Misalnya komputer terkena virus atau tidak bisa login,” terangnya.
Untuk jumlahnya, menurut Lutfi tidak terlalu banyak. “Yang absen untuk SMK ada 36 siswa dan SMA 27 siswa,” jelas Lutfi. Oleh karena itu, pihaknya pun mengambil kebijakan jika yang bersangkutan dianggap absen. Jika demikian, mereka bukan dianggap tidak lulus, namun bisa mengikuti ujian susulan.
“Ujian susulan akan dilaksanakan pada 17 april 2018,” terangnya. Sehingga mereka diberikan kesempatan untuk mengikuti UNBK tersebut. Terakhir, pihaknya berharap di UNBK 100 persen tahun kedua ini, ada prestasi yang ditorehkan oleh siswa-siswi SMA/SMK Jember. Minimal bisa masuk dalam 10 besar Jawa Timur. (sp)
0 komentar: