Jember, Motim. Bencana longsor kembali terjadi di Jember. Kali ini, longsor tersebut terjadi di Dusun Rayap, Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Arjasa, Jumat (9/2) malam. Ironisnya, beberapa hari sebelum longsor ini terjadi, peristiwa serupa juga terjadi di kawasan ini. Beruntung, longsor susulan ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
Namun, satu rumah milik Junaidi, warga setempat kondisinya sangat membahayakan. Pasalnya, depan rumah dan pondasi sudah menggantung dan berada di bibir longsoran dengan ketinggian sekitar lima meter. Posisi longsor ini menambah parah longsoran pertama yang terjadi sebelumnya.
“Seperti yang sudah kita petakan sebelumnya, longsoran semalam terjadi di titik sama dengan longsoran senin lalu,” ucap Bobby Arisandi, Camat Arjasa. Dirinya mengatakan jika kondisi longsoran susulan ini lebih parah karena sudah sampai di rumah warga. Dimana untuk longsoran ini membuat pondasi rumah Junaidi menggantung serta mengancam 4 rumah lainnya.
“Posisinya sudah menggantung. Jika longsor sebelumnya masih ada 1-2 meter jalan yang bisa dilewati, kini itu menggantung,” tutur Bobby. Sehingga bisa dikatakan jika rumah itu sangat berbahaya untuk tetap ditinggali oleh warga.
Berdasarkan rembukan muspika, aparat desa serta stakeholder terkait, mereka memutuskan untuk memindahkan atau mengungsikan penghuni rumah. “Sejak semalam (kemarin malam,red) rumah tersebut kami kosongkan,” ucap Bobby. Dimana Junaidi dan keluarganya sudah dipindahkan ke rumah saudaranya di bawah yang lokasinya lebih aman dibandingkan rumah tersebut.
Pihaknya mengaku masih belum mengetahui sampai kapan untuk pengungsian tersebut. Karena melihat kondisi curah hujan yang masih cukup tinggi yang terjadi di Jember. Sehingga untuk sementara memang lebih baik untuk diungsikan terlebih dahulu untuk menyelamatkan jiwa penghuni rumah tersebut.
Menurut Bobby, pihaknya sudah melakukan identifikasi terhadap penyebab lokasi tersebut rawan bencana. Seperti sebelumnya, ada sekitar 40 rumah di RT 2 RW 3 yang juga terancam longsor susulan karena berada di tepi jurang. Pihaknya terus mengimbau kepada warga untuk berhati-hati.
Penyebabnya, salah satunya karena buruknya saluran air yang ada. Di mana lokasi rumah yang berada dengan berbagai tingkatan ini dibuang sembarangan. Sehingga air pembuangan dari atas masuk ke tanah tingkatan di bawahnya. Sehingga ini membuat tanah di bawahnya menjadi lebih rawan.
Belum lagi, pihaknya menemukan adanya saluran air yang rusak, sehingga masuk ke tanah. Inilah yang diakuinya menjadikan tanah gembur. Belum lagi ditambah curah hujan yang tinggi membuat tanah menjadi sangat rawan. “Tadi dengan bantuan dinas teknis sudah melakukan normalisasi saluran sehingga bisa lancar,” jelas Bobby.
Saluran-saluran ini, juga diakuinya rawan pecah dan bisa menimbulkan longsor lokasi rumah yang ada di bawahnya.
Sementara itu, Widi Prasetyo, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember juga langsung bertindak dengan kejadian ini. Di mana pihaknya sudah melihat sendiri lokasinya dan memang cukup rawan terjadi longsor kembali jika hujan deras.
“Tetap untuk sementara longsoran kita tutup terpal,” jelasnya. Sehingga bisa mencegah air masuk dengan cepat melalui longsor yang sudah terjadi sebelumnya. Namun, Widi menambahkan memang lokasinya cukup rawan dan tanahnya memang cukup gembur. Sehingga jika hujan deras turun lagi, bisa jadi longsor kembali terjadi. Oleh karena itu, memutuskan untuk warga yang rumahnya paling rawan dilakukan langkah untuk diungsikan.
“Juga tadi dilakukan pembersihan material longsoran yang menutupi saluran irigasi,” ucapnya. Hal ini untuk sementara bisa menormalkan saluran irigasi tersebut. Selain itu juga memberikan 100 sak kepada masyarakat untuk membuat dinding penahan. Rencananya hari ini (kemarin, red) akan dilakukan kerja bakti untuk pembangunan dinding penahan dari sak ini. Pihaknya berharap agar tidak terjadi hujan kembali dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. (sp)

0 komentar: