Jember, Motim. Perwakilan Warga Desa Lengkong mendatangi
kantor kejaksaan negeri jember guna melaporkan dugaan ketidaktransparananan
kepala desa dalam menggunakan anggaran.
“Beberapa perwakilan warga memang
mendatangi kejari jember guna memberikana laporan tentang tidak transparannya
kepala desa Lengkong dalam menggunakan anggaran. Kami juga menduga kepala desa
melakukan penyelewengan dana anggaran,” kata salah satu warga Desa Lengkong
berinisial MA saat ditemui wartawan, Selasa (13/2).
Menurut MA, masyarakat desa Lengkong
melaporkan ke Kejaksaan Negeri Jember. Diantaranya kades diduga melakukan
penyelewengan dana tentang BUMdes, yang anggarannya Rp.131 juta yang dikelola
sendiri oleh kepala desa. Misalnya dalam pembelian 7 ekor sapi yang tidak
diketahui pengurus BUMDes lama maupun yang baru.
“Bahkan kami sempat ketemu kepala BUMdes
yang lama dan yang baru, yang mengaku tidak ikut pembelian 7 ekor sapi dan
ternyata sapi sudah dibeli oleh kepala desa. Kemungkinan kades langsung beli ke
pedagang sapi dengan bermain harga, dan ini juga sebagai keluhan dari warga.
Seharusnya dana itu langsung diberikan kepada ketua atau pengurus BUMdes,
selaku pengelola BUMDes. Bukan kepala desa sendiri yang mengelola atau
membelajakannya sendiri,” ungkapnya.
Berikutnya masalah sarana olah raga. MA
mengatakan, dimana masalah ini tidak transparansi kepala desa. Bahkan ada di
wilayah jambesari ini baru diberikan dananya, setelah ramai pembicaraan di
masyarakat. “Sedangkan yang lainnya, ini belum tentu dicairkan anggaran bantuan
untuk club olah raga dalam bentuk apapun. Dan ini tidak terealisasi 100 persen
faktanya, namun semua masuk SPJ. Bahkan SPJnya sudah dikirim, namun tidak ada
keterbukaan dari kepala desa,” terangnya.
MA mengatakan, masalah kegiatan posyandu
justru balita diberi wafer merk Nabati yang tidak layak bagi balita.
Sedangkan untuk anggaran posyandu sekitar Rp.18 juta, seddangkan anggaran
yang dikeluarkan hanya Rp.1 jutaan. Maka dari itu kami langsung ke kejaksaan
untuk meminta, supaya kepala desa ini dipertanggung jawabkan. “Termasuk
bangunan di Dusun jambesari, ada bangunan lama yang di poles baru berupa
plseter saja. Padahal di prasasti tugu proyek itu anggaran senilai Rp.500 juta,
dan terpampang di prasati proyek. Ini sangat jelas sekali, kalau kepala desa
mengambil sendiri keuntungan,” tegasnya.
MA menuturkan, bahkan warga ada yang bilang
saat rapat di desa. Bahwa kalau dia berhenti jadi kepala desa, tidak akan mau
miskin lagi atau tidak mau melarat lagi. Warga meminta kepada pihak kejaksaan
segera memanggil dan meminta penjelasan.
“Masalah lainnya juga masalah sewa-menyewa
Tanah Kas Desa (TKD), yang anggaran pendapatan desa senilai Rp.60 juta. Dari
mana uang Rp.60 juta ini muncul, kalau cuma dapat Rp.60 juta, berarti kan cuma
4 hektar yang disewakan. Sedangkan TKD disini belasan hektar. Informasinya
kepala desa mengadakan lelang tertutup, bagaimana prosesnya tiba-tiba timbul
angka Rp.60 juta dari APBDes. Padahal di daerah sini secara rinci kalau di
sewakan ke PTP satu musim tanam sekitar 4 bulan hingga 8 bulan sekitar
Rp.18.500 juta. Sedangkan kalau di sewa petani pertahun Rp.15 juta pertahun,”
tuturnya.
MA menambahkan, kedatangan warga ke Kejari
Jember hanya 5 orang perwakilan saja. Meskipun warga yang merasa keberatan
dengan penyalah gunaan anggaran kepala desa berkisar puluhan, yang dibuktikan
dengan pernyataan tanda tangan dilampiran laporan ke kejari jember.
“Semua dana itu berasal dari DD dan ADD,
termasuk APBDes juga tidak jelas. Kami berharap kepala desa ini mempertanggung
jawabkan terhadap apa yang telah dilakukan, yang selama ini telah menutup
nutupi tentang APBDes yang tidak diketahui masyarakat. Dimana kerugian negara
mungkin ratusan juta disini, dan saya berharap pihak kejaksaan segera memanggil
kepala desa untuk melakukan pemeriksaan atau klarifikasi dengan kepala desa,”
imbuhnya.
Sementara salah satu warga yang juga merasa
keberatan berinisial MB (59) mengatakan sementara ini yang dia ketahui seperti
plengsengan yang menurut anggaran sekitar Rp.119 juta, sedangkan realisasinya
diperkirakan sekitar Rp.75 juta.
“Sekarang kepala desa memperkaya diri,
sekarang malah sewa sawah, sewa sengon, dan informasinya juga beli rumah baru
di daerah kranjingan dengan kisaran harga sekitar 400an juta. Sedangkan gaji
kepala desa sekarang berapa, saya sangat tahu sebelum menjabat seperti apa,
Bahkan saya juga dengar sekarang ini kepala BUMDesa Lengkong sudah diganti,”
ucapnya.
Sementara saat ditemui dikantornya sekitar
pukul 14.00 WIB, kepala desa AR sedang tidak ada ditempat. Bahkan saat
dihubungi melalui Handphone di angkat oleh istrinya,” Bapak sedang keluar dan
tidak membawa Handphone, dan Handphone miliknya ditinggal di rumah,” kata Istri
AR. (*)
0 komentar: