Surabaya, motimNews. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jatim, Choirul Anam menyesalkan Arteria Dahlan, politisi PDI Perjuangan yang menyebut Kementerian Agama dengan sebutan tak senonoh. Dia minta masyarakat -- terutama umat Islam -- agar jangan hanya terfokus pada manuver politik Arteria.
Cak Anam mengajak umat dan para pemimpin organisasi Islam, agar mewaspadai desain politik yang merugikan umat Islam. "Bisa saja nanti ada gerakan lagi yang lebih besar untuk mendegradasi Kemenag. Nanti ujung-ujungnya minta Kemenag dibubarkan, mungkin begitu. Itu menurut analisa saya," katanya.
Kalau pemimpin organisasi keagamaan sekarang masih diam, menurut Cak Anam, hal itu bisa dimaklumi lantaran mereka tak ingin bikin situasi gaduh di tahun politik (Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019).
"Tapi saya sebagai orang Islam, ingin memberikan informasi kalau persoalan politik seperti ini juga terjadi di zaman Belanda," kata menantu cucu pendiri Taswirul Afkar, KH Ahmad Dahlan Kebondalem Surabaya itu.
Persoalan politik yang mencoba melemahkan umat Islam di zaman Belanda yang dimaksud Cak Anam terjadi pada tahun 1930-40-an, ketika Indonesia masih diperintah oleh pemerintahan Hindia Belanda. Kala itu, penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw, terutama Al Qur'an, dilakukan secara berulang-ulang. Salah satunya lewat tulisan Siti Sumendari di Majalah Bangun edisi 15, Oktober 1937.
Dalam tulisannya, Siti menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw seorang pencemburu dan aturan perkawinan di Islam dibuat hanya untuk memenuhi nafsu. "Itu jahat sekali! Semua umat Islam tersinggung dan itu diketahui skenario dari pemerintah," kata Cak Anam.
Bapak umat Islam Indonesia, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari lantas menyerukan kepada seluruh pemimpin organisasi Islam, untuk menanggalkan pertentangan yang bersifat khilafiyah furuiyah. Umat Islam tengah menghadapi tantangan yang menyentuh jantung dan harus dihadapi bersama-sama.
Kemudian dibentuklah MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang dipimpin KH A Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur). Badan federasi ini selanjutnya membentuk Komisi Pemberantasan Penghinaan Islam (KPPI) yang anggotanya terdiri dari para tokoh Islam dari berbagai organisasi.
Ada Kiai Zainal Arifin (NU), Syahbudin Latif (PSII), Mr Kasman Singodimejo (Muhammadiyah), Wiwoho (PII) dan Moh Natsir (Persis). Mereka bersatu padu menghadapi penghina Islam hingga tuntas, karena seluruh umat Islam benar-benar merasa tersakiti.
"Flashback ini untuk mengingatkan, ciri umat Islam kalau sudah diserang jantungnya, semua berkumpul untuk mempertahankan. Dan saat ini kita sedang menghadapi ancaman dari desain politik untuk melemahkan umat Islam," tuntas Cak Anam.(*)

0 komentar: