Selasa, 20 Februari 2018

Setiap Musim Hujan, Warga Dusun Raker Terisolir - Tidak Ada Jembatan, Butuh perhatian Pemkab

SHARE
Situbondo, MotimNews. Menyeberangi Sungai Deluang yang penuh resiko dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui Desa Mojodungkol saat musim hujan, tidak menjadi penghalang bagi sebagian warga yang hendak menuju atau keluar dari Dusun Taker, Desa Gunung Malang, Kecamatan Suboh.

Pantauan Memo Timur dan sejumlah media, setiap hari aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan atau menunaikan tugas serta tanggung jawab dalam hal pendidikan, kesehatan, pemerintahan, ekonomi dan lain-lain, harus terlebih dahulu menyeberangi sungai yang lebarnya sekitar 250 meter dengan arus yang cukup deras. 

"Karena belum ada jembatan, kami setiap harinya kalau pergi atau pulang mengajar sekolah harus menyeberangi sungai dulu," tutur Junaedi, Kepala SDN 4 Gunung Malang yang lokasi tempatnya bertugas berada di Dusun Taker, Senin (19/2).

Hal senada juga disampaikan warga setempat. "Mau bagaimana lagi, setiap harinya baik warga sini yang mau keluar dusun atau warga luar yang mau kesini harus menyeberangi sungai dulu," ungkap Pak Iya (40). 

Lebih prihatin lagi, sambung Pak Ita, ketika warga Dusun Taker ada yang sakit, mau melahirkan atau punya kepentingan seperti ke kantor desa, kota kecamatan, kabupaten, belanja atau menjual hasil produk pertanian disaat kondisi sedang hujan dan arus sungai lagi deras. 

"Kita terpaksa menunggu hujan dan arus sungai tidak deras," tandasnya.
Lebih jauh tokoh masyarakat setempat, Pak Kamal (55) mengatakan, aktivitas warga menyeberangi sungai itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. 

"Sejak terjadi banjir bandang sekitar tahun 60-an, warga sini kalau mau keluar daerah harus nyebrang sungai dulu. Begitupun dengan warga luar yang mau ke sini," ucapnya. 

Sementara itu Kades Gunung Malang, Untung Abadi mengaku, pihaknya bersama warga sering mengadakan kerja bakti membuat jembatan dari bambu dan sudah beberapa kali mengajukan kepada pemerintah agar di daerah itu dibangun jembatan limpas. 

"Hampir setiap tahun kami kerja bakti membangun jembatan dari bambu. Tapi setiap tahun pula jembatan itu hanyut terbawa arus. Dan sudah kita usulkan di Musrenbang Kecamatan yang terlaksana beberapa kali," bebernya. 

Menurut Untung, warga Dusun Taker yang jumlah penduduknya mencapai kurang lebih 250 jiwa itu setiap kali melaksanakan gotong royong atau kegiatan sosial keagamaan selalu kompak dan di Dusun Taker memiliki potensi destinasi wisata. Namun, aktivitas warga sering terkendala atau bahkan terisolir, jika setiap kali menghadapi musim penghujan. 

"Kami harap, baik Pemkab, Pemprov Jawa Timur maupun Pemerintah Pusat agar membangun jembatan limpas," ujarnya. 
Jika diatas sungai tersebut dibangun jembatan limpas, sambung Untung, tentunya baik warga luar yang mau ke Dusun Taker maupun warga setempat mau ke luar daerah akan lebih mudah. 

"Selain itu, jika sudah dibangun jembatan limpas, maka kami yakin untuk urusan yang menyangkut bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi usaha atau lain-lain, nantinya akan lebih lancar," harapnya.
Dikonfirmasi terkait program usulan pembangunan jembatan limpas dari delegasi Desa Gunung Malang di Munsrenbang Kecamatan, Camat Subuh Suprapto membenarkan program tersebut telah diusulkan saat Musrenbang Kecamatan.

"Benar, program pembangunan jembatan limpas sebagai penghubung antar dusun antar desa melalui Desa Mojodungkol itu sudah diusulkan saat Musrenbang yang terlaksana belum lama ini. Kami berharap, program usulan tersebut nantinya bisa tercover di Musrenbang Kabupaten dan ada perhatian baik dari Pemprov Jawa Timur maupun pusat," pungkasnya. (kim/fin)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: