Sabtu, 03 Februari 2018

Gus Saif: Gerakan 212 Aksi Melawan Kesombongan Penguasa

SHARE
Jember, Motim, Aksi demo bertajuk 212 di Jember yang rencananya akan digelar pada tanggal 2 Februari mendatang, bukan aksi berkedok agama. Aksi itu untuk menyikapi sejumlah persoalan yang terjadi di Jember selama 2 tahun kepemimpinan Faida – Muqit. Penegasan itu disampaikan penggagas gerakan 212 Kiai Ayyub Saiful Ridjal, pengasuh Ponpes ASHRI Talangsari.

“Berbeda (dengan gerakan aksi 212 Jakarta), karena Gerakan aksi 212 di Jember ini melawan kesombongan penguasa di Jember,” tegas Gus Saif sapaan akrab Kiai Ayyub Saiful Ridjal, saat menggelar undangan terbuka kepada masyarakat untuk ikut aksi 212 di Gedung DPRD Jember kemarin.

Untuk itu, Gus Saif meminta masyarakat memahami karena untuk latar belakang aksi 212 di Jember dan Jakarta jelas berbeda. Sejak aksi 212 di Jember itu santer ke masyarakat, sempat ada isu jika itu hanya kloningan dari aksi Jakarta yakni dengan bungkus membela agama.

“Murni aksi masyarakat Jember karena melihat berbagai persoalan yang terjadi di Jember. Ini tidak ada hubungannya dengan Jakarta,” tegas Gus Saif. Selama ini, Gus Saif melihat banyak sekali persoalan di Jember yang dirasa tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Bahkan Jember menurut Gus Saif bukan lebih maju, namun semakin gaduh. “Semua ini disebabkan karena bupati,” ucapnya. Sehingga sebagai orang yang dulu mendukung Faida – Muqit menjadi bupati, Gus Saif merasa malu hingga akhirnya berencana melakukan aksi 212 tersebut.

Ada lima poin yang menurut Gus Saif menjadi pertimbangan melakukan aksi itu. Pertama, selama dua tahun Pemkab Jember yang dipimpin Faida - Muqit, dianggap membuat demotivasi kepada seluruh pihak. Termasuk rakyat dan juga semua level birokrasi di Pemkab Jember.

“Bukan hanya itu, dalam menjalankan pemerintahan, penguasa ini menggunakan model yang sentralistik dan otoriter. Semuanya berujung kepada bupati,” tegasnya. Sehingga hal ini memporak-porandakan sistem administrasi pemerintahan daerah yang sudah berjalan selama ini. Hal inilah yang membuat pemerintahan pun tidak berjalan dengan maksimal.

Gus Saif juga menganggap Bupati Jember mengabaikan keberadaan lembaga DPRD Jember. “Karena bupati menutup ruang komunikasi harmonis antar kedua lembaga. Inilah yang membuat pemerintahan selama dua tahun juga berlangsung tidak semulus yang dibayangkan,” tegas Gus Saif.

Tingginya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SILPA) yang besar, menurut Gus Saif menunjukkan ketidakmampuan mengelola pemerintahan dan menggunakan anggaran rakyat secara optimal. “Ini berarti mengorbankan kepentingan masyarakat yang lebih luas,” kata Gus Saif.

Gus Saif menceritakan, sebelum dia keluar dari Partai Nasional Demokrat, dia sudah mencoba mengingatkan bupati. Termasuk berbagai kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat. Namun sayangnya, saran tersebut diabaikan dan tidak digubris oleh Bupati Jember.

Melihat persoalan tersebut, dia mengaku khawatir jika model kepemimpinan bupati ini dibiarkan maka sistem pemerintahan akan semakin amburadul dan merugikan masyarakat. Sehingga pihaknya yang merasa paling bertanggung jawab berinisiatif melakukan aksi itu.

Rencananya, aksi 212 ini akan diikuti 105 tokoh agama dan ulama dari pondok pesantren dan musala. Mereka berasal dari wilayah Kecamatan Jombang hingga Garahan Silo. “Sudah ada 105 tokoh agama dan ulama dari pondok pesantren dan musholla yang siap untuk ikut aksi 212,” kata tokoh agama asal Puger, Habib Umar.

Jumlah itu menurut Habib Umar bisa bertambah, karena sejauh ini pihaknya masih mendata dan penghitungan. “Banyaknya tokoh agama yang kecewa atas kepemimpinan Pemkab Jember saat ini. Sehingga menjadi motivasi untuk ikut bergabung dan meramaikan aksi 212 mendatang,” tegas Habib Umar. (sp)
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: