Lumajang, MotimNews. Umat Hindu di Kabupaten Lumajang akan melaksanakan serangkaian upacara kebesaran dimulai 11 sampai dengan 17 Maret 2018 mendatang. Keterangan ini disampaikan oleh ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lumajang Edi Suminto kepada sejumlah media.
Menurutnya, Minggu (11/3), umat Hindu akan melaksanakan upacara Melasti yang bertempat di pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, yang diikuti sekitar 2000 umat Hindu se Kabupaten Lumajang ditambah umat Hindu dari Kabupaten Probolinggo.
Upacara Melasti dilakukan bertujuan untuk mensucikan bhuanagung dan buanalit. Dimana Bhuanagung itu alam semesta dan buanalit diri sendirinya. Buanagung artinya alam semesta sedang Buanalim itu diri pribadi umat manusia masing-masing.
“Harapan umat Hindu ini benar-benar alam semestanya bersih dan diri umatnya juga bersih, sehingga dalam melaksanakan Nyepi bisa intropeksi diri juga mawas diri, supaya kedepan menjadi umat yang lebih baik lagi,”tuturnya.
Selanjutnya, Jum’at (16/3), tepatnya pukul 11.00 Wib, umat Hindu melaksanakan upacara Mecaru yang artinya indah dan harmonis. Dalam upacara itu semua umat Hindu berdoa kepada Tuhan Yang Mahasa Esa agar supaya alam ini dalam kondisi tetap indah dan harmonis.
” Upacara Mecaru dilakukan mulai pukul 11.00 Wib hingga selesai bertempat di Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Boleh melakukan di Pura terdekat dari tempat tinggalnya,”katanya.
Sore harinya dilanjutkan dengan acara pengerupukan arak-arakan Ogoh-Ogoh sejauh sekitar 3 kilo meter diberangkatkan dari depan Pura Mandhara Giri Semeru Agung berakhir di sungai Lateng Desa Senduro perbatasan dengan Desa Jambekumbu Kecamatan Pasrujambe, kemudian dibakar.
Harapannya, agar semua unsure negatifnya dinolkan dan unsure postifnya diturunkan sehingga kehidupan manusia di ala mini senantiasa harmonis, bahagia dan damai.”Ogoh-Ogoh merupakan simbol kekekuatan negative. Makanya setelah diarak terus dibakar,”ungkapnya.
Lanjut Edi Suminto, pada Sabtu (17/3) pukul 06.00 sampai dengan Minggu (18/3) pukul 06.00 Wib, umat Hindu melakukan upacara Catur Brata penyepian. Amati Geni artinya tidak menyalakan api termasuk lampu. Terpenting api yang ada didalam tubuh kita semisal hawa nafsu harus bisa dikendalikan dengan baik.
Kedua Amati Karyo artinya umat Hindu tidak bekerja. Ketiga Amati lelungan a
rtinya umat Hindu tidak bepergian. Terakhir adalah Amati Lelangoan artinya umat Hindu tidak boleh menonton Televisi, main HP dan masih banyak lainnya.
“Benar-benar untuk menciptakan suasana sepi dan sunyi. Karena dalam keadaan sepi dan sunyi, kita akan tahu segala kesalahan, kekurangan juga kelebihan pada diri kita. Harapannya, kedepan supaya menjadi umat yang lebih baik lagi,”ungkapnya.
Disinggung bagaimana tentang pengawalan dan pengamanan saat serangkaian upacara menjelang Nyepi berlangsung, Edi Suminto mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Muspika Kecamatan Senduro mulai dari Camat, Kapolsek, Danramil dan semua tokoh agama juga tokoh masyarakat.
Masih kata Edi, Kapolres Lumajang saat kerja bhakti kemarin menuturkan apabila 1/3 anggota Polres Lumajang akan diterjunkan untuk melakukan pengawalan dan pengamanan dalam serangkaia acara jelang Nyepi mendatang hingga acara selesai.
“Serangkaian acara jelang Nyepi ini kami pastikan berjalan dengan tertib, aman, lancar dan kondusif,”pungkasnya. (cho)

0 komentar: