Kamis, 09 Agustus 2018

DORONG PENINGKATAN WISATAWAN Bupati Resmikan Jalan Penghubung Empat Desa di Cermee

DORONG PENINGKATAN WISATAWAN Bupati Resmikan Jalan Penghubung Empat Desa di Cermee


Bondowoso, Motim. Bupati Amin Said Husni meresmikan jalan yang menghubungkan empat desa di kecamatan Cerme. Diantaranya yakni, desa Cerme, Suling Wetan, Batu Ampar, dan Solor. Adapun pengaspalan jalan raya ini, menghabiskan dana hingga mencapai sekitar Rp 15,151 milliar.

Bupati Amin menjelaskan, dengan semakin baiknya infrastruktur jalan di sekitaran kecamatan Cerme ini, juga turut meningkatkan tingkat kunjungan pelancong ke objek wisata Batu So’on Solor. Bahkan, setiap hari libur di, lokasi wisata yang menawarkan keunikan batu megalitikum yang disebut-sebut mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris itu, padat dikunjungi oleh wisatawan local dan dari luar kabupaten Bondowoso.

Disamping itu, popularitas dari batu So’on, Solor juga semakin meningkat tajam dengan banyaknya wisatatawan yang mengunggah foto selfie di media social. Sehingga, kebanyakan wisataswan mengenal objek wisata ini dari medsos.

“Jadi memang kita dorong para tamu ini untuk mengambil foto dari spot-spot terbaik dari Solor ini. Kemudian di share kepada public, dan dari situ mereka tau potensi-potensi wisata khususnya di Solor ini. Apalagi setelah tau kalau jalannya mulus seperti ini, maka kunjungan wisata disini meningkat tajam,” urainya.                                                                                                                                                           
Ia menerangkan, pihaknya sudah menginvetarisir objek-objek wisata utama untuk menjadi destinasi andalan kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kopi ini. Seperti objek wisata di Kawasan Kecamatan Ijen, meliputi kawah Ijen, kawah wurung, pemandian air pana, air terjun, dan wisata agro kebun kopi, paralayang. Ini menjadi menjadi magnet utama destinasi wisata di Bondowoso.

Kedepan wisata Batu So’on Solor ini menjadi salah satu tujuan wisata andalan, dan infrastruktur akan terus dibangun.

“Bahkan nantinya ini akan nyambung sampai ke wilayah kecamatan Ijen juga,”urainya.

Tak lupa juga wilayah barat di Kecamatan Wringin yang juga banyak destinasi wisata. Umumnya dikembangkan oleh desa-desa. Karena pihaknya selama ini memang terus mendorong desa yang memiliki objek-onjek wisata pemandangan alam yang bagus untuk terus mengembangkan potensinya.

“Saya terus memberikan pendampingan ke desa-desa untuk terus secara kreatif mengembangkan wisata itu. Maka muncullah desa seperti Glingseran, Almour. Ini adalah contoh-contoh kreatif yang tumbuh dari para kepala desa untuk mengembangkan potensi alam di wilayahnya masing-masing,”pungkasnya.

Tampak hadir dalam peresmian tersebut, Kapolres Bondowoso AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi, Kepala Kejaksaan Negeri Bondowowo Taufik H, Kepala Bank Jatim Endang Saraswulan serta Plt. Sekda Karna Suswandi.(mi/roy)

Masyarakat Cerme Senang, Jalan Penghubung Empat Desa Diresmikan

Masyarakat Cerme Senang, Jalan Penghubung Empat Desa Diresmikan


Bondowoso, Motim. Masyarakat dari Kecamatan Cerme mengucapkan syukur tiada henti atas pengaspalan jalan yang menghubungkan empat desa. Yakni desa Cerme, Suling Wetan, Batu Ampar, dan Solor.                                                                                                                                                                  
Seperti disampaikan oleh Bapak Rudi, salah satu warga desa Cerme, Kecamatan Cerme, saat memberikan sambutan mewakili warga Cerme, di acara Peresmian Jalan, Rabu (8/8), bahwa dirinya mewakili warga mengucapkan terima kasih atas diresmikannya jalan di sepanjang desa Cerme-Solor.

“Saya disini intinya mau mengucapkan terima kasih kepada Bapak Amin Said yang sudah membangun bukan hanya jalan, tapi juga air, sekarang di Solor airnya sudah cukup dan jalan sudah diaspal,” ungkapnya dalam Bahasa Madura.

Laki-laki paruh baya ini pun sempat mengutarakan bagimana jalan Cerme-Solor dulunya tidak nyaman untuk dilalui. Bahkan memakan waktu hingga tiga jam.

“Iya gimana tidak mau lama, lah setiap jalan nanti berhenti karena pinggang sakit ini jalannya dulu kan berbatu. Tapi kalau sekarang enak sudah jalannya,”tambahnya.

Ia pun mengajak seluruh warga di empat desa itu untuk turut menjaga jalan yang sudah di aspal ini bersama. Di samping itu juga hasil-hasil pembangunan yang lain.                                                                          
Untuk informasi, Bupati Amin Said Husni meresmikan jalan yang menghubungkan empat desa di kecamatan Cerme. Diantaranya yakni, desa Cerme, Suling Wetan, Batu Ampar, dan Solor. Adapun pengaspalan jalan raya ini, menghabiskan dana hingga mencapai sekitar Rp 15,151 milliar.

Bupati Amin menjelaskan, dengan semakin baiknya infrastruktur jalan di sekitaran kecamatan Cerme ini, juga turut meningkatkan tingkat kunjungan pelancong ke objek wisata Batu So’on Solor.                             
Bahkan, setiap hari libur di lokasi wisata yang menawarkan keunikan batu megalitikum yang disebut-sebut mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris itu, padat dikunjungi oleh wisatawan lokal dan dari luar kabupaten Bondowoso.(mi/roy)

Petugas Puskesmas Nangkaan Diduga Lakukan Pungli

Petugas Puskesmas Nangkaan Diduga Lakukan Pungli


Bondowoso, Motim. Dugaan pungutan liar (Pungli) oleh oknum pegawai Puskesmas Nangkaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, terkait surat keterangan sehat (SKS), ternyata warga masih dimintai uang.                                      
 Alasan petugas Puskesmas meminta sejumlah uang karena beda Puskesmas.

Menurut Muhdar, orang tua EW (14) warga desa Koncer Kidul, Kecamatan Tenggarang membenarkan jika pengurusan SKS di Puskesmas Nangkaan, kelurahan Nangkaan kecamatan kota ia dimintai uang. Ia mengurus SKS, untuk kepentingan dan persyaratan anaknya mengikuti lomba.

Saat dirinya bertemu dengan dua petugas Puskesmas Nangkaan, kedua SKS dari anak dan ponakannya yakni EW (14) dan EAB (9) dengan jelas meminta sejumlah uang.

“Saya tadi meminta dua SKS untuk persyaratan anak dan ponakan saya mengikuti lomba di luar daerah. Namun pegawai itu meminta uang untuk membayar administrasi, dengan alasan karena berbeda wilayah,” kata, Rabu (8/8).                                                                                                                                 
Muhdar menjelaskan, uang yang diminta oleh petugas itu sebesar Rp 40 ribu untuk dua lembar SKS. Selain itu, alasan wilayah daftar kartu Indonesia Sehat (KIS) masuk daerah kecamatan Tenggarang. Kalau daftar KIS di Puskesmas Tenggarang, jelasnya minta SKS di Tenggarang, bukan di Puskesmas Nangkaan.

"Dikatakan oleh petugas itu, kalau daftar KIS nya di Puskesmas Tenggarang Insya Allah tidak bayar Pak. Karena minta SKS di Puskesmas Nangkaan, maka dikenai uang per satu SKS Rp 20 ribu dan dua SKS Rp 40 ribu,” pungkasnya.

Sementara H. Muhammad Imron, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso saat dikonfirmasi mengatakan, jika anak masuk daftar KIS untuk meminta SKS itu gratis. Tidak ada aturan yang membedakan wilayah KIS itu.

“Apalagi anak tersebut memiliki KIS dan selama masih penduduk Bondowoso SKS itu gratis. Meminta SKS di Puskesmas mana saja,” ungkap Imron singkat.(Roy)

Tersinggung, Puluhan Peserta Penyuluhan Buyar

Tersinggung, Puluhan Peserta Penyuluhan Buyar


Bondowoso, Motim. Puluhan peserta dari Organisasi Masyarakat (Ormas) serta LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) mengikuti acara penyuluhan masyarakat dengan tema 'Sosialisasi Pemberdayaan Ormas'. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah kabupaten Bondowoso, melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakebangpol) di Pendopo Bupati Bondowoso, Selasa (7/8) kemarin. 

Namun, ketika acara masih berjalan, puluhan peserta memilih buyar dari acara itu.                                                                                                                                  
Menurut Sumitro Hadi, dari LSM FPM (Forum Peduli Masyarakat) dan mewakili LAKI (Laskar Anti Korupsi Indonesia) mengatakan, isi dalam acara itu hanyalah sindiran-sindiran belaka.

“Pejabat yang baik seharusnya bisa merangkul semuanya. Etika pejabat itu, bagi saya juga sangat kurang baik. Kami datang kesini karena memenuhi undangan,” katanya.

Ia juga mengaku, selama tahun 2013 menjadi pengurus di LSM, baru kali ini mengikuti acara penyuluhan masyarakat dan sosialisasi terhadap Ormas dan LSM.                                                                                              “Kepala Bakesbangpol memberi tanggapan dari pertanyaan  teman-teman sangat bias. Jika ada permasalahan oknum lembaga atau pribadi seharusnya dipanggil guna mendapatkan wawasan untuk diarahkan yang lebih baik. Jangan dibantai dalam forum seperti ini,” pungkasnya.

          Sementara itu, Achmat Prajitno, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) mengatakan, bahwa LSM itu hanya punya fikiran minta duit. Seharusnya, lembaga tersebut harus menguasai organisasinya terlebih dahulu.

          “LSM itu sama dengan Ormas. Sementara Ormas itu di bentuk oleh masyarakat yang jumlahnya minimal tiga orang atau lebih itu sangat baik,” ungkapnya.
          Lanjut Prajitno, sapaan akrabnya menjelaskan, maka LSM di AD/ART (Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga) semua pengurus harus jelas dan dicantumkan secara keseluruhan. Kemudian tupoksi (Tugas pokok dan fungsinya) di LSM itu apa juga harus tahu.

          “Kalau bernaung di yayasan, maka harus mengikuti aturan undang-undang nomor 6 tahun 2001 tentang yayasan,” pungkasnya.(cw3)

HMI Galang Dana untuk Korban Gempa Lombok

HMI Galang Dana untuk Korban Gempa Lombok


Bondowoso, Motim. Puluhan mahasiswa yang masuk dalam anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bondowoso menggalang dana untuk korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (8/8). Mereka terlihat menggalang dana ke beberapa titik lampu merah serta menyisir satu persatu pertokoan pasar induk Bondowoso.

Aksi galang dana tersebut rencananya akan dilakukan selama tiga hari kedepan. Aksi galang dana itu akan disebar di sejumlah titik keramaian.    Diantaranya di lampu merah Jalan Ki Mangun Sarkoro (Depan POM Tamansari), lampu merah Jakan Jenderal A. Yani (Depan SDN Dabasah 01), kemudian di lampu merah Jl. Jenderal A. Yani No. 81 Bondowoso (Depan Dinas Pengairan).

Muhammad Ikrom, anggota HMI Bondowoso mengatakan, bahwa peristiwa naas yang menimpa masyarakat Lombok itu telah menggugah keinginan HMI Bondowoso untuk memberikan uluran tangan. Semestinya, setiap pribadi maupun kelompok saling tolong-menolong bagi sesamanya yang sedang tertimpa musibah.

Sementara penggalangan dana ini, kata Ikrom, sekaligus menjadi bukti komitmen kepedulian HMI terhadap masyarakat. Sekaligus untuk mengurangi beban saudara kita yang tertimpa musibah.

“Aksi solidaritas galang ini merupakan bentuk komitmen kami dalam membantu masyarakat yang sedang mengalami musibah. Dan sudah semestinya kita melakukan hal ini agar kepedihan dan kerugian harta benda para korban sedikit bisa kita bantu. Berapa pun hasilnya semoga bermanfaat untuk korban,” katanya.

Pihaknya juga mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk turut ambil bagian dalam meringankan beban yang diderita para korban dengan menyalurkan bantuan ke lokasi galang dana, mau pun langsung melalui rekening yayasan HMI peduli milik Pengurus Besar HMI.

“Kita mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat peduli pada saudara yg membutuhkan. Bisa dengan memberikannya lewat lokasi galang dana atau langsung lewat rekening PB HMI 123-000-6455-804," tambahnya.

"Alhamdulillah di hari pertama ini kami berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp. 1.770.000," pungkasnya.(cw3)