WBP Lapas Banyuwangi Sulap Barang Bekas Jadi Kerajinan Menarik
Banyuwangi, Motim
Kesan angker dan penuh kekerasan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tidak selamanya benar. Hal ini terlihat dalam kegiatan sehari-hari di balik jeruji besi, Lapas II B Banyuwangi.
Selain dipenuhi kegiatan keagamaan dan seni, di lembaga pemasyarakatan ini juga diajarkan beragam ketrampilan yang mampu menghasilkan karya bernilai eknomi tinggi. Bahkan berkat sentuhan tangan dingin para warga binaan pemasyarakatan (WBP), mereka mampu menciptakan hasil karya yang mampu menembus pasar internasional.
Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan WBP di dalam Lapas II B Banyuwangi adalah membuat keterampilan mengolah barang bekas menjadi beragam produk kerajinan menarik seperti vas bunga, kap lampu dan miniatur kapal laut.
Ratusan WBP di bawah koordinator Tim Kreatif yang juga sesama WBP, sejak pagi sudah melakukan berbagai aktivitas harian. Mulai dari senam, olahraga dan kegiatan pokok harian.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achyar mengatakan, seluruh kegiatan yang ada di lapas Banyuwangi telah diatur dan dijadwal oleh tim kreatif. Mulai dari urusan kepribadian dan kemandirian WBP.
Kegiatan kemandirian itu meliputi kerajinan dan keterampilan. Sejumlah kegiatan keterampilan itu yakni pembuatan kerajinan mulai dari kerajinan membuat keset dari bahan kain bekas, kerajinan membuat kursi kayu dan kerajinan ukiran dari kayu. Termasuk kerajinan piring, mangkuk, tempat nasi dan baki yang sudah dikirim ke pasar Korea Selatan.
“Sementara ini, produksinya masih berhenti lantaran akhir tahun dan menunggu pesanan,” ungkap Akbar.
Selain itu, kreatifitas WBP Lapas IIB Banyuwangi juga mampu menghasilkan beragam produk kerajinan dari hasil melinting kertas koran maupun bungkus rokok, seperti miniatur kapal layar, vas bunga, kap lampu dan lain-lainnya.
Seluruh peralatan untuk pembuatan berbagai kerajinan tersebut sudah dipenuhi. Mulai dari alat gergaji, alat pahat, mesin grenda, mesin jahit, gunting dan berbagai peralatan lainnya. Para WBP tersebut bekerja juga tidak selama seharian penuh. Mereka hanya bekerja selama paruh waktu saja yakni mulai pukul 08.00 sampai pukul 11.00 WIB.
Meski ruang lingkup dan jam kerjanya terbatas, warga binaan tersebut mampu membuktikan, jika mereka memiliki kualitas dan kemampuan positif sesuai keahlian dan bakatnya. Dengan kegiatan tersebut, dia berharap akan timbul kemandirian dan optimisme WBP untuk terus mengasah kemampuannya di dalam lapas.
“Harapan kami, jika mereka bebas dan kembali ke masyarakat, para WBP ini sudah mandiri, bisa kembali mengembangkannya. Lebih dari itu, para WBP ini juga mampu memberikan kontribusi pada perekonomian daerah,” jelasnya.
Selama ini, kata Akbar, persepsi tentang penjara atau lembaga pemasyarakatan kerap negatif, dan tidak produktif. Padahal, dari dalam jeruji besi justru banyak hal baru yang bisa dikembangkan warga binaan. Salah satu buktinya kini yakni, WBP mampu mengerjakan kerajinan berkualitas ekspor dan ikut mengangkat nama Banyuwangi di pasar internasional.
Untuk bisa kirim barang ke pasar internasional tersebut, jelas Akbar, pihaknya menjalin kerja sama antara lapas dengan pihak ketiga. Kegiatan ekspor tersebut bukan kali ini saja, sebelumnya juga pernah ekspor sejumlah hasil kerajinan ke Korea Selatan, Jepang dan Belanda. Sejumlah barang yang berkualitas ekpor itu seperti kerajinan piring, mangkuk, tempat nasi dan baki.
“Semua barang dikirim menggunakan kontainer. Sebelumnya, juga pernah kirim dan dilepas langsung oleh Wakil Bupati Banyuwangi,” terang Akbar.
Harga kerajinan buah tangan yang memanfaatkan limbah bahan bekas itu juga terjangkau. Dijual mulai harga Rp 50 ribu hingga Rp 2 juta. Hasil penjualan barang-barang tersebut juga telah dikoordinir tim kreatif. Sehingga, setiap orang warga binaan mendapat upah sesuai yang dikerjakan.
“Para WBP ini memiliki penghasilan sendiri yang cukup lumayan untuk melatih para warga binaan agar lebih mandiri dan tidak tergantung dari orang lain,” jelas Akbar.
Salah satu warga binaan yang merasakan manfaat belajar dari tim kreatif di dalam Lapas itu yakni, Kasiyanto (40). Warga Desa Wongsorejo ini awalnya tidak bisa mengukir dengan alat pahat. Namun, berkat kerja kerasnya dengan dibimbing salah seorang temannya, kini dia mampu mengukir kayu berbentuk jenis ukiran.
“Saya butuh waktu satu bulan untuk belajar memahat, kini sudah mulai lancar,” cetus lelaki narapidana kasus penggelapan itu.
Hal senada juga diungkapkan, Ervin Setiawan. Lelaki berusia 30 tahun itu salah satu koordinator pembuat kerajinan limbah kertas koran. Awalnya memang cukup sulit untuk mengembangkan kerajinan bahan bekas tersebut. Namun setelah dipelajari dan dikerjakan semua menjadi mudah. (eko)

0 komentar: