Jember, Motim
Sebanyak 8 mobil Ambulans Desa dari 8 desa di wilayah Kecamatan Sukowono, dikembalikan ke Puskesmas setempat, Selasa (23/1) malam. Pengembalian itu dilakukan karena adanya instruksi dari pihak puskesmas. Delapan desa yang mengembalikan Ambulans itu adalah Sukosari, Sukorejo, Sukowono, Sumberdanti, Sumberwringin, Arjasa, Pocangan, Sukokerto.
Rudianto kepala desa Sukorejo, mengaku awalnya pihaknya mendapatkan pesan WhatsApp melalui kelompok kerja sewilayah Kecamatan Sukowono, agar semua unit Ambulans ditarik ke Puskesmas. “Yang merintahkan itu dr Andi Maulana selaku kepala Puskesmas Sukowono, agar semua unit Ambulans di wilayah Kecamatan Sukowono ditarik ke Puskesmas. (itu) hasil teguran Pemkab Jember dan Dinas Kesehatan Jember,” ungkap Rudianto.
Meski Ambulans Desa itu ditarik, Rudianto tidak mau terlalu pusing. Apalagi selama belum ada bantuan Ambulans tersebut, pihaknya sudah memberikan pelayanan antar gratis bagi masyarakatnya yang sakit. “Itu kita pakai mobil pribadi, itupun akomodasi termasuk biaya makan sopir itu murni pakai uang kepala desa,” tegasnya.
Rudianto juga sempat menyinggung soal otoritas penggunaan Ambulans itu. Menurutnya, beberapa waktu lalu Ambulans itu diserahkan kepada kepala desa. Namun saat penandatanganan berita acara justru dilakukan pihak puskesmas. “Ini kan bunyinya Ambulans Desa. Tentunya yang bertanggungjawab kepala desa, bukan kepala Puskesmas Sukowono,” ungkap Rudianto.
Belum lagi persoalan sopir mobil Ambulans yang sudah ditentukan oleh Pemkab Jember. “Mestinya (sopir desa setempat) yang dulu sudah mengabdi kepada masyarakat ini yang didahulukan, yang sudah fasih mengendarai mobil,” ungkapnya.
Rudianto juga mengaku bahwa pihaknya belum menerima secara tertulis soal Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) penggunaan Ambulans tersebut. Namun dia sempat mendengar bahwa minggu kemarin pihak puskesmas sudah menyerahkan Juklak Juknis kepada Camat Sukowono. Kemudian dari Camat diserahkan kepada pihak PJOK agar diedarkan ke seluruh desa se Kecamatan Sukowono. “Namun per malam ini (kemarin, red) Juklak Juknis itu belum kita terima,” tegasnya.
Bahkan lanjut Rudianto, sejak Ambulans Desa itu diterima pihaknya, seluruh biaya mulai dari sopir dan bensin, semuanya ditanggung uang pribadi kepala desa. Dia juga mengeluhkan tentang rumitnya penggunaan Ambulans itu. “Seandainya jika tidak ada aturan yang terlalu (njelimet ), sebetulnya masyarakat sangat terbantu dengan Ambulans ini,” ungkapnya.
Sementara Zoelkifli kepala desa Sukowono, selama ada Ambulans Desa yang diterima pihaknya itu justru timbul fitnah. “Mengakibatkan kerugian bagi perangkat desa dan juga kepala desa,” ungkap Zoelkifli yang juga ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Jember. Bahkan dia pun berterimakasih dengan ditariknya Ambulans itu. “Tapi tolong nama ‘Ambulans Desa’ dihapus. Jadi nama Mobil Kesehatan Masyarakat,” tegasnya.
Sementara Siti Nurul Qomariyah Kepala Dinas Kesehatan Jember, membenarkan ditariknya ambulans itu. Menurutnya, tak hanya wilayah Sukowono yang mengembalikan Ambulans itu. Namun seluruh Ambulans yang ada di Jember. “Karena untuk proses kelengkapan surat-suratnya. Jadi bukan hanya Sukowono,” ungkap Qomariyah saat dihubungi melalui Hpnya.
Beberapa waktu lalu, Bupati Jember sudah menyerahkan sebanyak 195 Ambulans Desa. Dari jumlah itu, menurut Qomariyah ada sekitar 40 Ambulans yang sudah lengkap nomor polisinya dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. “Untuk yang 155 (Ambulans) ini, memang masih proses pengajuan nomor polisinya. Kan nomor polisi itu butuh waktu sekitar satu bulanan,” katanya. (sp)

0 komentar: