Bondowoso, MotimNews. Sinung
Sudrajad, anggota komisi IV DPRD Bondowoso mengatakan minimnya anggaran
penanggulangan pengidap penyakit HIV/AIDS hanya Rp. 100 juta pertahun. Sehingga
anggaran itu dianggap sangat tidak layak dan butuh penambahan.
“Tiap tahun
anggaran pengidap HIV/AIDS hanya Rp. 100 juta, ini sangat minim sekali. Mumpung
belum ada kejadian yang luar biasa dan untuk mengntisipasi hal ini kita
bicarkan bersama dengan aktivis peduli HIV/AIDS,” katanya, Rabu (4/4).
Lanjut
Sinung, sedangkan meningkatnya pengidap HIV/AIDS menjadi zona merah di Kabiupaten
Bondowoso rata-rata per bulan 15 orang. Hal itu juga dikatakan oleh aktivis
penanggulangan HIV/AIDS Bondowoso yang masuk dalam penanggulangan pemerintah
daerah.
Jika
dilihat dari data itu, minimal standart anggaran harusnya Rp. 350 juta
pertahun. Pemerintah juga membuat peraturan daerah (perda) tentang penyakit
menular juga sangat dibutuhkan di Kabupaten Bondowoso
Penyakit
menular kata Sinung, tentunya bukan hanya HIV/AIDS. Sebab, penderita penyakit
TBC juga sangat memprihatinkan.
“Berdasarkan
data itu kami tidak menyalahkan secara sepihak tidak, akan tetapi alangkah
baiknya kejadian ini duduk bersama dan kita selesaikan solusinya seperti apa?,”
jelasnya.
Sejatinya,
hal ini tentunya melibatkan intervensi anggaran dari pemerintah daerah.
Kehadiran pemerintah harus lebih inten bersosialisasi kepada masyarakat tentang
penanggulangan HIV/AIDS dan penyakit TBC, terkait penularaannya serta
pernik-pernik lainnya.
“Saya di
komisi IV DPRD Bondowoso menghimbau kepada pemerintah agar supaya membenahi
lagi Perda yang sudah ada tentang Perda penyakit menular. Ketika ada kejadian
yng luar biasa terkait penykit menular kita sudah siap,” urainya.
Selama ini,
yang dilakukan para aktivis dengan cara mendatangi masyarakat secara dor to dor
memberikan pemahaman dan memberikan semangat kepada pengidap HIV/AIDS untuk
berobat. Selain itu, Dinkes sepertinya juga melakukan hal itu.
Lebih tegas
Sinung, akan tetapi bagaimanapun masih banyak kekurangan dan keterbatasan.
Support dari masyarakat juga sangat dibutuhkan.
“Kita harus
segera duduk bersama antara aktivis penanggulangan HIV/AIDS, takeholder
lainnya. Kita bandingkan data, cek lapangan dan selnjutnya baru kita ambil
kesimpulan. Ironisnya, beberapa temuan sesuai data yang dimiliki sudah berbagai
golongan,” pungkasnya.
Sementara
dari dokter H. Muhammad Imron, kepala Dinas Kesehatan mengatakan sesuai data
angka penderita HIV/AIDS tiap tahunnya mengalami peningkatan. Persoalannya saat
ini jarang sekali dari masyarakat melakukan pemeriksaan dengan suka rela.
“Apabila
ada warga yang sudah bergejala penykit yang tidak kunjung sembuh sangat sulit
datang ketenaga medis dengan suka rela. Guna mendeteksi yang bersangkutan saat
sakit apa dan melakukan pengecekan,” jelasnya.
Akhirnya,
hal ini sangat menghawatirkan kita semua. Data yang sudah ditemukan masih data
dari masyarakat atau dari mereka yang saat sakit dan hasil dari tindaklanjut
Dinkes.
“Bila ada
warga yang sakit, namun tidak kunjung sembuh. Kita curiga dan kita melakukan
pengecekan,” ujar Imron usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPRD
Bondowoso.
Lanjut
Imron, angka 15 orang perbulan yang mengidap HIV/AIDS jika diperiksa
kemungkinan lebih banyak data dari Dinkes. Untuk lebih pastinya, data pengidap
HIV/AIDS perbulan akan dikroscek kembali.
“Mohon
maaf. Lebih jelasnya data itu kita masih lakukan kroscek kembali. Jujur saja
data itu kami dapatkan dari teman-teman legeslatif dan kelanjutannya akan saya
cek kebenarannya,” katanya.
Berkembangnya
penambahan kata Imron, para pengidap HIV/AIDS semisal ada kasus baru, baik itu
secara aktif dan pasif. Akan tetapi hal itu tidak akan terjadi setiap bulan.
“Per
desember mulai 2003-2017 pengidap HIV/AIDS sebanyak 367-368 0rang. Sedangkan
pengidap yang sudah meninggal dunia sudah hampir separuh dari data itu,”
pungkasnya. (cw3)
0 komentar: