Sabtu, 03 Februari 2018

Penyebab Kematian Mukiyi Belum Terungkap

SHARE
Jember, Motim. Polsek Wuluhan menyerahkan penanganan kasus kematian Mukiyi (58), yang jasadnya ditemukan telanjang di bebatuan perairan Watu Lumbung, Wuluhan, ke Polsek Balung. Selain karena korban merupakan warga Balung, kematian pria itu diduga terjadi di wilayah hukum Polsek Balung.

"Sekarang ditangani Polsek Balung. Kita melakukan pen‎anganan awal saja karena penemuan mayatnya masuk wilayah Wuluhan," kata Kapolsek Wuluhan AKP Zainuri, Jumat (2/2).

Dalam penanganan awal, lanjut Zainuri, memang ditemukan sejumlah luka di tubuh korban. Namun belum diketahui apakah luka itu disebabkan tindak kekerasan atau terkena benturan karang.

Polsek Wuluhan juga telah membawa jasad Mukiyi ke Puskesmas Puger. Bahkan saat itu rencananya akan dibawa ke RSD dr. Soebandi untuk diautopsi. Namun pihak keluarga menolak.

"Soal autopsi dan kenapa pihak keluarga menolak silakan konfirmasi ke Polsek Balung. Penanganan sudah diambilalih Polsek Balung," terang Zainuri.

Sementara Kapolsek Balung AKP Niluh Sri Artini, mengaku belum mendapat laporan secara resmi. Tapi dia sudah mendengar melalui Bhabinkamtibmas, bahwa ada warga Balung yang tewas dan ditemukan di Watu Lumbung.

“Laporan resmi belum ada. Tapi saya sudah mendengar tentang warga Balung yang meninggal di dekat pantai itu. Saya juga sudah perintahkan anak buah untuk mengurusinya,” kata Niluh.

Kepala Dusun Karang Anyar, Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Asmad, mengakui bahwa mayat yang ditemukan di Watu Lumbung merupakan warganya yang bernama Mukiyi. Dia juga mengatakan pihak keluarga menolak autopsi karena menerima kematian korban.

"Informasi dari masyarakat, korban itu terbawa arus sungai Bedadung yang jaraknya dari rumah korban sekitar 500 meter," kata Asmad.

Dia menerangkan, setelah keluarga bersama ketua RT menjemput mayat di Puskesmas Puger, pihak keluarga tidak mau korban diautopsi. Mayat langsung dibawa pulang untuk dimakamkan.

"Begitu pulang dari Puskemas Puger, mayat Mukiyi langsung dimakamkan. Tidak dilakukan autopsi, karena keluarga menerima," pungkasnya.

Wartawan berusaha menelusuri jalan dari rumah Mukiyi ke sungai Bedadung. Dalam perjalanan tersebut, wartawan Motim bertemu dengan pekerja dan pemilik pengolahan batu bata.

Menurut pemilik pengolahan batu bata, Munawar, pada malam Mukiyi dinyatakan hilang, di tempat pengolahan batu bata miliknya ada tiga orang yang sedang melakukan pembakaran batu bata. Tiga pegawainya itu sama sekali tidak melihat Mukiyi atau siapa pun berjalan ke arah sungai.

“Saya sendiri datang sekitar pukul 9 malam. Sedangkan tiga pekerja saya berada di sana sejak pagi. Petang itu mereka tidak melihat siapa pun, termasuk Mukiyi melintas ke arah sungai,” kata Munawar.

Kendati demikian, Munawar mempercayai isu bahwa Mukiyi dibawa mahluk halus ke sungai Bedadung. Bahkan Munawar pernah mendengar sendiri Mukiyi mengaku pernah diajak mahluk halus berbentuk perempuan ke sungai tersebut.

“Mukiyi pernah cerita ke saya dan pekerja saya, pernah diajak mahluk halus sosok perempuan ke sungai. Tapi belum sampai ke sungai, mahluk halus itu menghilang. Mukiyi kemudian tersadar dan kembali pulang,” kenang Munawar.    

Seperti diberitakan sebelumnya, jasad Mukiyi ditemukan terdampar di bebatuan perairan Watu Lumbung, Wuluhan, dengan kondisi telanjang dan sejumlah luka di tubuh. Luka itu terdiri atas lengan tangan kiri terkelupas, betis kanan mengelupas, telapak tangan kanan dan kiri terkelupas, kepala bagian atas luka robek dan kulit punggung terkelupas. (*)



 

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: