Jember, Motim
Jembatan yang menghubungkan Dusun Krajan I dengan Dusun Krajan II di Desa Karang Duren, Kecamatan Balung, kondisinya sangat memprihatinkan. Jembatan itu membahayakan penggunanya kerena rawan roboh.
“Sangat miris sekali melewati jembatan itu, karena selain pagar besinya sudah berkarat, tiang penyangga jembatan itu perlahan-lahan terkikis air sungai dan sangat membahayakan bagi penggunanya. Padahal ini jembatan penghubung antara Dusun Krajan I dengan Dusun Krajan II. Sangat berbahaya sekali melintasinya,” kata salah satu tokoh masyarakat Karang Duren, Wawan (38) saat ditemui di sekitar jembatan, Senin (22/1).
Menurut Wawan, umur dari jembatan yang merupakan akses ke Pasar Karang Duren dan SDN Karang Duren 03 memang sudah tua. Jembatan ini sudah menjadi pembicaraan warga karena kondisinya yang sangat memperihatinkan.
“Jembatan ini digunakan untuk berlalu-lalangnya warga, baik anak sekolah maupun pergi ke pasar. Tidak ada jalur lagi selain melintasi jembatan ini. Bila pun memutar jaraknya cukup jauh, kurang lebih ada 2 kilo meter. Sedangkan jalan aspal di jembatan itu sudah mengelupas. Besi pagar juga sudah berkarat. Dan lebih parah lagi tiang penyangga dari jembatan itu sudah terkikis air sungai. Takutnya air sungai besar dan menggerus tiang jembatan. Sangat berbahaya sekali terhadap keselamatan jiwa yang melintas,” jelas Wawan.
Apalagi, sambung Wawan, warga di sekitar wilayah ini kebanyakan petani. Apabila panen, pasti melintasi jembatan itu dengan membawa padi. Secara otomatis menambah beban buat jembatan. “Warga sekitar sangat mendukung untuk dilakukan perbaikan, karena sangat membahayakan sekali. Kami juga meminta agar jembatan ini ada perbaikan dari pihak terkait,” ungkapnya.
Hal senada juga dirasakan pengguna jalan, Toni (52). Dia menuturkan, ketidaklayakan kondisi jembatan itu dibuktikan dengan sudah lamanya bangunan. Serta adanya tiang penyangga yang sudah putus, sehingga dikhawatirkan bangunan akan roboh dan menelan korban jiwa.
"Tanpa adanya tembok penahan Jembatan yang kuat dikhawatirkan roboh karena seringnya terjadi longsor disekitar tiang penyangga, selain juga tingginya intensitas air sungai beberapa bulan terakhir sangat memungkinkan terjadinya robohnya Jembatan,” ucap Tony.
Toni mengaku sangat khawatir ketika melintasi jembatan. Takutnya ambrol karena memang tidak ada tembok penguat penahan di samping jembatan. Apalagi hujan datang. Debit air akan meningkat, sehingga sering terjadi longsor dan mengikis ke tepian jembatan.
“Saya kira perlu diperhatikan, karena bangunan sudah agak lama. Sedangkan yang mengerjakan kayaknya bukan ahlinya, bisa dilihat cor yang dibawah agak melengkung dan hanya di sangga oleh sampingnya. Jadi perlu di pikirkan efek kedepannya, takutnya kalau pas ada air penuh tidak bisa menahan terjangan air,” imbuhnya. (*)

0 komentar: