Banyuwangi, MotimNews. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan, Banyuwangi mengaku kesulitan untuk menyimpulkan penyebab kematian enam warga yang meninggal dalam perjalanan ke Instalasi Gawat Darurat atau ruang rawat inap rumah sakit tersebut akibat minuman keras.
Selain tidak adanya informasi pendukung, pihak keluarga pasien juga keberatan untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah pasien.
Hingga Kamis (19/04) siang, masih terdapat tiga orang pasien terduga karena keracunan yang dirawat di RSUD Blambangan. Sedang seorang pasien lagi dirawat di sebuah klinik, serta satu orang sudah diizinkan pulang.
Dengan demikian jumlah warga yang diduga keracunan akibat menegak minuman arak di Kabupaten Banyuwangi, diperkirakan bertambah. Sebelumnya tercatat sebanyak tujuh orang warga yang diduga keracunan setelah menegak miras.
Lima orang dirujuk ke rumah sakit, dengan perincian empat meninggal dan satu dirawat. Sementara dua lagi meninggal serta tidak sempat dibawa ke rumah sakit.
Sehingga jumlah keseluruhan korban akibat keracunan diduga miras adalah delapan orang meninggal dan empat orang masih dirawat di sebuah klinik. Sedang satu warga sudah diizinkan pulang.
Direktur RSUD Blambangan, Banyuwangi, dr Taufiq Hidayat kepada wartawan, Kamis (19/04), mengakui bila pihaknya kesulitan untuk mengkaitkan penyebab kematian warga-warga tersebut karena alkohol.
‘’Sebelum meninggal mereka telah memiliki riwayat penyakit, sehingga untuk memastikan penyebab kematiannya apakah alkohol atau penyakitnya tersebut perlu dilakukan otopsi. Apalagi ketika mereka dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah sangat buruk dan sudah tidak ada bau alkohol. Sedang pihak keluarga juga keberatan untuk dilakukan otopsi,’’ jelas Taufiq.
Kendati demikian, Taufiq membenarkan bila beberapa hari sebelum dibawa ke rumah sakit para warga itu sempat meminum miras. Hal ini juga didasarkan dari keterangan para keluarga pasien.
Namun informasi ini tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab kematian warga itu.
Sementara itu Sugeng, orang tua Hendra Bayu (24), salah satu korban meninggal keracunan di RSUD Blambangan, sangat yakin bila anaknya meninggal akibat menenggak arak. Selain ada pengakuan dari anaknya, juga dari aroma bau alkohol yang sempat dihirupnya ketika merawat anaknya saat teler berat dan muntah-muntah.
Menurut Sugeng, anaknya jelas-jelas diajak pesta miras bersama empat temannya di sekitar perkebunan Kali Bendo Licin, Minggu (15/04) siang. Namun yang disesalkan keluarga kok hanya anaknya yang meninggal, sedang lainnya selamat.
‘’Dua sehat termasuk inisial M yang mengajak anak saya. Dua lainnya rawat jalan serta rawat di sebuah klinik di Glagah,’’ ungkapnya sedih.
Sepulangnya, kata Sugeng, Hendra Bayu langsung masuk kamar karena kondisinya lemah dan muntah-muntah dengan bau alkohol sangat menyengat dari mulut anaknya.
‘’Saya berusaha memberikan pertolongan dengan memberikan air kelapa muda. Tapi tidak mempan, anak saya masih muntah-muntah,’’ jelasnya.
Saat masih bisa diajak komunikasi, Sugeng mencoba menanyakan kepada anaknya berkaitan dengan yang dialaminya. Kemudian keluarlah pengakuan dari anaknya bila habis minum arak. Sugeng tidak begitu percaya atas pengakuan anaknya.
‘’Sebab kalau minum arak tidak separah itu. Bahkan kok hanya anak saya,’’ tambahnya.
Karena kondisi kesehatan Hendra Bayu terus memburuk, kemudian Sugeng berinisiatif membawanya ke RSUD Blambangan. Sebenarnya masih ada harapan bagi Sugeng sekeluarga agar putra sulungnya itu mendapat perawatan intensif. Namun upaya itu pupus ketika Hendra Bayu mengalami kejang-kejang tiada henti sehingga anaknya harus menghembuskan nafas terakhirnya.
Sugeng segera akan meminta pertanggungjawaban teman anaknya tersebut. Pasalnya, hingga kini belum ada niatan baik dari orang yang telah menghilangkan nyawa anaknya tersebut. Apalagi, berdasarkan hasil pemeriksaan di RSUD Blambangan, anaknya dinyatakan tidak memiliki riwayat penyakit.
‘’Namun setelah minum arak, anak saya bisa begini. Anak saya agak terlambat sehingga racunnya keburu menyebar keseluruh tubuh. Bahkan anak saya sempat mengeluhkan matanya yang tidak bisa untuk melihat,” aku Sugeng.
Hendra Bayu telah dimakamkan di kompleks pemakaman kelurahan setempat. Seperti keluarga korban miras lainnya, orang tua Hendra Bayu juga menyelenggarakan acara tahlilan untuk mendoakan anaknya.
Meski berusaha tabah, namun ibu Hendra Bayu masih sangat terpukul. Itu terlihat ketika Kamis (19/04), menyempatkan melihat makam anaknya. Tak kuasa sang ibu meneteskan air mata sambil berdoa. (cw3/yud/eko)
0 komentar: