Sidoarjo,
MotimNews. Komisi
A DPRD Sidoarjo melakukan sidak persiapan pilkades ke desa yang menggunakan e-voting. Kali ini desa yang
mendapat kunjungan sidak tersebut adalah Desa Bligo, Kecamatan Candi Sidoarjo.
Desa Bligo merupakan salah satu desa yang menjadi percontohan dari 24 desa di
kecamatan Candi untuk
pelaksanaan pilkadesnya menggunakan e-voting.
Wakil
Ketua Komisi A DPRD Sidoarjo, H Matali mengatakan, persiapan pilkades yang
menggunakan E voting di Desa Bligo tergolong sudah sempurna dari desa yang
lain. Percobaan praktek simulasi pemilihan yang menggunakan e-voting, sudah diperagakan di
tiap-tiap RT dan RW dan merata di sosialisasikan oleh Pemerintah Desa.
"Kegiatan
simulasi ini menunjukan kepada Komisi A, bahwa praktek simulasi pilkades dengan
menggunakan e-voting ini,
sudah dilaksanakan beberapa tahap, dari RT sudah, dari RW pun juga sudah
disosialisasikan
merata," katanya, Rabu (14/02), seusai memperagakan simulasi e-voting, di pendopo balai desa Bligo.
Menurut
dia, untuk antisipasi banyaknya jumlah pemilih, pihak pemerintah desa diharapkan
untuk mempersiapkan dan antisipasi alat e-voting pada pelaksanaan pilkades yang akan datang. Penambahan alat merupakan faktor penunjang
yang juga perlu diperhitungkan dengan jumlah pemilih yang mencapai ribuan.
"Persiapan
terutama ya alat, supaya diantisipasi dan ditambah karena jumlah pemilih yang
mencapai empat ribu lebih," kata dia.
Anggota
Komisi A DPRD Sidoarjo, Dra Hj Ainun Jariyah menambahkan, penggunaan e-voting dalam pelaksanaan pilkades
yang akan datang, dilihat dari pelaksanaan simulasinya sangat mendukung.
Menurut dia, dengan menggunakan E voting, bisa untuk mengantisipasi dan
meminimalisir angkah kecurangan yang dilakukan oleh oknum yang tidak
bertanggung dalam pelaksanaan pilkades.
"Kalau
saya melihat, kan semua desa tidak sama. Dengan alat ini, untuk arah kecurangannya
itu sangat jauh," kata dia.
Meski
begitu, lanjut Ainun, untuk penggunaan alat e-voting, kepada pemerintah desa disarankan untuk menyewa alat. Lantaran
menurut dia, anggaran untuk pengadaan alat E voting tersebut lebih mahal dua
kali lipat dengan anggaran pemilihan dengan sistem pemilihan cara manual.
"Kalau
saran saya ya menyewa saja, hampir semua yang kami temui di Sedati, Gedangan
semuanya menyewa. tapi kalau sudah terlanjur beli ya gak papa, hanya saja yang
terpenting persiapannya harus lebih dimatangkan. Karena kami temui di beberapa
desa itu ternyata banyak yang masih belum siap," tandasnya.
Sementara
itu, Amina (62) salah satu warga Desa Bligo seteleh mencoba simulasi praktek pilkades
dengan e-voting mengaku,
pemilihan dengan menggunakan e-voting lebih mudah dengan pemilihan dengan cara yang manual. Bahkan
terkesan lebih cepat dan simpel.
"Pemilihan
dengan cara e-voting ini,
kalau dilihat melalui simulasi prakteknya, caranya lebih mudah dan
simpel," ungkapnya. (bwo/jum)

0 komentar: